Soal MoU, Partai Aceh Lemah di Mata TA Khalid?

0
Kampanye Akbar partai Aceh di Kota Langsa, Sabtu, 4 Februari 2017

acehbaru.com -Tidak jauh berbeda dengan kampanye sebelumnya, kampanye penutup pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh Nomor Urut 5, Muzakir Manaf-TA Khalid di Lapangan Batee Geulungku, Pandrah, Kabupaten Bireuen, Sabtu 11 Februari 2017 juga masih mempertahankan isi kampanyenya dengan kwitansi.

Kwitansi adalah suatu alat bukti penerimaan sejumlah uang yang ditandatangani oleh penerima, lalu diserahkan kepada yang membayar dan dapat digunakan sebagai bukti transaksi

Sepertinya Calon Wakil Gubernur Aceh TA. Khalid  sangat hafal dengan bahasa kwitansi, pada kampanye di Kota Langsa juga TA Khalid  membahas soal kwitansi, dimana butir MoU yang belum selesai akan dilakukan penagihan oleh partai Aceh.

Kemudian TA Khalid juga memaparkan kekuatan politik yang dimiliki pasangannya yang tak lain adalah Mualem selain didukung Partai Aceh juga Mualem menjabat sebagai ketua Partai Aceh, dan memiliki 70 persen kursi di parlemen Aceh.

Dengan kekuatan yang begitu besar sejak 2014 lalu,  seharusnya 70 % anggota DPRA dan ditambah lagi dengan ketua Partai mereka menjabat sebagai Wakil Gubernur yaitu Muzakir Manaf, sejatinya sudah dapat melakukan penagihan-penagihan utang MoU kepada Jakarta. Katakanlah anggota DPRA sedikit lalai, tapi kan ada Tuha 4 dan Ketua Partainya Muzakir Manaf yang bisa memerintahkan untuk melakukan terobosan-terobosan terhadap penyelesaian dan penagihan utang tersebut?

Kenapa ini tidak dilakukan ? Kalau hari ini TA Khalid menyebutkan masih banyak utang. 

Kekuatan Partai Aceh bukan pada Pilkada 2017 saja, jauh hari  kekuatan Partai Aceh di DPRA sudah cukup Krak. Dan saat kampanye 2012 lalu Partai Aceh dalam ajakan memenangkan pasangan Zaini -Muzakkir juga Partai Aceh beralasan kepada masyarakat bahwa pasangan itulah yang paling paham MoU dan mereka itulah yang dapat menyelesaikannya.

Tiba-tiba sekarang ditahun 2017, ketika TA Khalid dari partai Gerindra berkoalisi dengan Partai Aceh menyampaikan kepada publik Aceh masih banyak utang MoU yang harus ditagih kepada Jakarta.

Apakah bahasa ini mau disebutkan bahwa pasangan Zaini-Muzakkir yang sejatinya satu paket dan anggota Parlemen dari Partai Aceh tidak mampu? …….

Dan sekarang dalam peukara mau menagih utang MoU dengan RI, TA Khalid kemudian mengklaim bahwa kwitansi hanya ada ditangan Mualem. Nah, timbul pertanyaan, dulu berdua dengan Krak GAM yaitu Abu Doto saja,  itu belum mampu, apakah dengan Mualem tinggal sendiri akan mampu?

Ataukah TA Khalid bersama Gerindra yang paling mampu? ……(ira)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY