Lama Waktu Berbuka, Tak Kendur Semangat Pelajar di Jepang Ini Untuk Berpuasa

0
Jepang | Foto Imran

acehbaru.com | Osaka — Para pelajar Muslim dari Indonesia harus menyesuaikan diri untuk melaksanakan ibadah puasa di Jepang yang mayoritas penduduk non Muslim. Meski berada di lingkungan non Muslim dan waktu puasa lebih lama, mereka tetap tidak mau melewatkan ibadah puasa setahun sekali.

Pelajar Muslim asal Indonesia, Nesya Dwita Octaviani menceritakan, Ramadhan tahun ini merupakan pengalaman pertama melaksanakan ibadah puasa di negeri orang. Pengalaman ini juga sekaligus pengalaman pertama melaksanakan puasa jauh dari rumah dan orang tua.

“Karena di Jepang mayoritas penduduknya non Muslim, jadi meskipun puasa aktivitas tetap seperti biasa,” kata Nesya, Rabu (14/6).

Ia mengatakan, aktivitas sekolah tetap berjalan seperti biasa. Di waktu luang setelah sekolah juga bekerja part time seperti biasa. Hanya saja, saat memasuki bulan Ramadhan tidak bisa makan dan minum seenaknya.

Ia mengungkapkan, meski aktivitas sekolah dan bekerja sama seperti hari-hari biasa, sebagai seorang Muslim harus menahan lapar dan dahaga di waktu puasa.

Menurutnya, melaksanakan puasa Ramadhan merupakan kewajiban seorang Muslim. Meski harus menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi di Jepang, tetap harus berpuasa karena takut berdosa jika meninggalkan puasa.

“Alhamdulillah gak ada kesulitan saat melaksanakan ibadah puasa karena di sekolah dan di tempat kerja part time semuanya mengerti kalau kita sedang puasa,” ujarnya.

Nesya bercerita, saat sedang bekerja kemudian datang waktu buka puasa, atasan tempatnya bekerja memberi waktu 15-30 menit untuk berbuka. Setelah buka puasa bekerja kembali, biasanya sampai pukul 23.00 waktu setempat. Sementara, waktu subuh pukul 03.00 dini hari.

Menurutnya, ada beberapa hal yang paling berkesan saat melaksanakan puasa Ramadhan di Jepang. Yakni saat waktu melaksanakan Sholat Tarawih pertama di Kantor KJRI yang berada di Osaka, Jepang. Para pelajar Muslim melaksanakan Sholat Tarawih di Aula Kantor KJRI yang ruangannya tidak cukup besar.

Ruangan aula tersebut juga biasa digunakan untuk melaksanakan Sholat Jumat. Tidak sedikit yang tempat tinggalnya jauh dari Kantor KJRI, tapi mereka tetap berjamaah di Kantor KJRI. “Salut sama anak laki-laki yang bela-belain sembahyang Jumatan ke sana agar tetap bisa ibadah,” jelasnya.

Nesya juga berpesan, bersyukurlah orang-orang yang tinggal di dekat masjid. Di Indonesia banyak masjid dan mushola, jadi bisa melaksanakan ibadah di masjid tanpa kesulitan. Menurutnya, banyak yang patut disyukuri saat melaksanakan ibadah puasa di Indonesia karena mudah ke masjid. (Republika)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY