Esensi Pemimpin  Rakyat Aceh

0

acehbaru.com | Lhokseumawe – Era pemilihan kepala daerah (Pilkada) tentu semua pasangan calon menjanjikan kesejahteraan rakyat. Tidak ada yang lebih menarik selain menebar janji. Menawarkan mimpi-mimpi, namun tanpa garansi untuk merealisasikan janji itu.

Saya ingin bercerita, bahwa konon tahun 1440 salah seorang cendekiawan terkemuka Aceh meramalkan akan tiba masanya seorang pemimpin lahir dari rakyat. Pemimpin itu tanpa embel-embel politik berlebihan, tanpa janji muluk-muluk dan retorika apik, tanpa gaya yang mencolok dengan ajudan di sana-sini setiap kali mengunjung kampung-kampung.

Pemimpin itu bicara seadanya, tak perlu retorika dengan bahasa ilmiah yang sesungguhnya tak dimengerti oleh rakyat. Pemimpin harus berbicara dengan gaya rakyat, yang mudah dipahami rakyat dan mudah mempraktikan janjinya. Bukankah pemimpin yang sederhana merupakan cikal bakal pemimpin mumpuni.

Tampaknya, melihat dari enam pasangan calon Pilkada Aceh, sosok jenis ini ada pada Apa Karya. Pasangan nomor urut dua, Zakaria Saman – HT Alaidinsyah lahir dari rakyat. Tak bicara sok ilmiah. Namun, mereka memiliki pengalaman memimpin organisasi besar, Apa Karya mantan Menteri Pertahanan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dan T Alaidinsyah lama memimpin PMI Aceh. Organisasi kemanusiaan yang tentu sudah berbuat banyak membantu rakyat Aceh.

Esensi seorang pemimpin cocok disematkan pada sosok fenomenal itu.  terlepas bagian dari intrik dalam berpolitik, cara-cara Apa mendapatkan penggemar dan fans     tidak bisa ditebak oleh siapapun. Bahasa tubuh yang disuarakannya, tegas, lugas dan tepat sasaran, sesuai dengan apa yang diingkan warga Aceh yang haus pemimpin idaman.

Disisi lain, gaya kocak bikin terbahak-bahak ala Apa bukan “Tong Kosong”. Semuanya diulas sesuai fakta. “Perut Lapar” contohnya, apakah Aceh sudah sejahtera.?. Walau tidak disebutkan data akurat jumlahnya berapa, tapi kesenjangan sosial, kemiskinan di Serambi Mekkah ini membuat pemerintah terdahulu harus tahan malu. Aceh berada di peringkat kedua daerah termiskin di Sumatera di 2016, 16,73 persen.

Apakah calon lain tidak melihat aspek kemiskinan untuk tren kampanye Tentu ada, Tarmizi Karim, Zaini Abdullah juga sering menyampaikan hal sama. Namun kesan sungguh-sungguh lebih terasa di Apa. Karena trik komunikasi publik yang disajikan bekas tokoh GAM itu lebih terasa di hati masyarakat.

Sekarang, tinggal menunggu akankah ramalan Syiah Kuala terbukti pada Pilkada ini..? Pemimpin yang menang adalah pemimpin dari rakyat, untuk rakyat. The facto, the jure, lage na laju. Yang laen mandum ka, Jinoe Apa. (*)
Penulis : Andi Masta
*seniman Lhokseumawe, sekaligus pemerhati sosial

loading...

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY