Bom Di Gereja Oikumene, ‘Diadu’ dengan Kasus Ahok?

0

acehbaru.com- Ungkapan Ahok dengan fatwa MUI masuk dalam menistakan agama yang kemudian menimbulkan reaksi massa dengan aksi 4 November 2016 atau 411 semakin melebar dan seperti api dalam sekam.

Bom meledak Minggu (13/11) lalu di pelataran Gereja Oikumene, Sengkotek, Samarinda Kalimantan Timur yang mengakibatkan empat balita mengalami luka bakar akibat ledakan, satu di antaranya Intan Olivia Marbun berusia dua tahun, meninggal dunia Senin (14/11).

Banyak mengecam pengeboman tersebut dan banyak juga menyatakan kesedihan karena anak –anak tak berdosa telah menjadi korban. Demontrasi 4 November 2016  terhadap kasus penistaan agama yang melibatkan Ahok coba ‘di adu’.

“Turut berduka cita untuk Intan Olivia, anak kecil lugu tanpa dosa yang jadi korban kebiadaban orang yang mengaku membela agama,” kicau Abi Hasantoso sebagaimana dirilis BBC Indonesia. Terduga pelaku, yang menggunakan kaos bertuliskan ‘Jihad, way of life’ ketika ditangkap, tercatat pernah melakukan aksi teror sebelumnya termasuk kasus bom buku di Jakarta pada 2011 lalu, kata polisi.

‘Penistaan luar biasa’
Namun di balik duka itu, banyak orang di media sosial mempertanyakan mengapa perlawanan atas aksi teror itu tidak banyak bergaung di media sosial. Sebagian bahkan membandingkannya dengan suara-suara yang riuh berkomentar tentang kasus dugaan penistaan agama dengan terlapor Basuki Tjahaja Purnama, yang menuai aksi turun ke jalan melibatkan puluhan ribu orang.

“Yang kencang bela agama kebanyakan anteng-anteng saja ketika bom molotov di gereja yang menewaskan anak kecil di Samarinda, bahkan cenderung sinis,” kata satu pengguna Twitter.

Insiden dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok terjadi di kepulauan Seribu, bulan Oktober lalu, protes massa menuntut ahok diproses hukum terjadi 411 atau 4 November 2016 di Jakarta. Bom gereja terjadi di Sengkotek, Samarinda Kalimantan Timur Minggu, 13 November 2016. Twitter

Dilihat dari lokasi kasus pertama dan kedua agak berdekatan, kasus yang ketiga berada jauh, pun begitu ilustrasi ketersinggungan sepertinya mulai terjadi. Komentar diatas terkesan terlalu cepat memvonis se-akan ummat islam Indonesia yang tersinggung dengan Ahok atas komentar nya Surah Almaidah 51 seperti mau dikatakan  merestui kejadian Gereja Oikumene, Sengkotek, Samarinda

Penyemarataan seperti ini sangat rawan dikala situasi sekarang ini, karena tidaklah bisa di vonis bahwa muslim yang melakukan demo 4 November 2016 setuju dengan aksi teror yang telah melukai empat anak tak berdosa dan satu diantaranya telah meninggal dunia.

Karena beberapa pernyataan ummat Islam yang melakukan demo 4 November 2016 mereka tidak mendemo keyakinan agama lain, cuma mendemo untuk menuntut diproses hukum seorang oknum warga Indonesia yang diduga telah menistakan atau melompat pagar berkomentar isi kitab suci agama orang lain.

Begitu juga dengan kasus bom di Samarinda yang diduga dilakukan oleh seorang lelaki menggunakan kaos bertuliskan ‘Jihad, way of life‘. Bila pelaku beragama islam memakai baju bertuliskan Jihad, dia adalah oknum ummad beragama  islam yang tentunya tidak bisa disamaratakan perbuatannya dengan jutaan ummad Islam yang lain. samarinda

Begitu juga sebaliknya, kasus Ahok juga tidak boleh disamaratakan dengan warga Tionghoa dan ummat beragama non muslim yang lain. Kalau ada usaha -usaha untuk mengeneralkan tentunya sangat bahaya.

Dan lebih bahaya lagi, bila ada usaha-usaha untuk mempertontonkan sebuah aksi biar tersiar dan terpapar ‘siapa lebih jahat’. Ini jelas bukan untuk tindakan yang baik bila tujuan untuk menjaga toleransi yang sudah terbangun puluhan tahun silam di Indonesia.

Bahkan Presiden Jokowi dalam beberapa tayangan televisi meminta ummat beragama untuk tidak saling menyinggung. Tentunya pesan itu disampaikan Presiden untuk tujuan ketenangan semua warga negara. Karena ketersinggungan telah terjadi saja, membuat suasana semakin repot. (ira/ BBC)

BACA JUGA : Pelaku Bom Gereja Samarinda Mantan Jaringan Teroris Tamu di Aceh?

BACA JUGA :PENDEKAR JIHAD DISEKITAR EXXON 

BACA JUGA : CAMP JIHAT JANTHO,DAN TUDINGAN SOFYAN TSAURI. YUSUF QARDHAWI INTEL ?

BACA JUGA :TERORIS THAMRIN PERNAH MAMPIR DI JALIN JANTHO ACEH, MARI MEMBACA JALURNYA (1)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY