Ada Arisan WC di Pematang Durian

0
Arisan WC | ilustrasi Brilio.net

acehbaru.com – Suwaibah, 35 tahun warga Desa Pematang Durian, Kecamatan Sekrak, Kabupaten Aceh Tamiang sibuk mengaduk semen, sahabatnya Siti Zainab memegang timba, 3 perempuan lain memperhatikan. Ditempat itu ada sendok semen, kloset WC, dan lubang galian ukuran cincin sumur. Suhaibah sedang membangun WC hasil undian dari Arisan WC yang mereka bangun 1,5 tahun lalu, pasca ribut antar warga soal ceceran WC terbang yang dibawa Anjing.

“Waktu itu ribut minta ampun, itu  tahun 2015, cairan taik berceceran diteras gara-gara bocor kantong plastik dibawa anjing, punya siapa kantong? Punya siapa,” begitulah bertekak,waktu ada tamu, di tanya WC harus menunjuk ke sungai,”kata Siti Zainab ibu Kepala Desa  yang juga menjabat sebagai ketua Arisan WC

Pematang Durian tergolong Desa pedalaman, 31  kilo meter dari pusat Ibu Kota Kabupaten Aceh Tamiang di Karang baru, dan 7 kilo meter dari pusat Kecamatan di Babo. 24 kilo meter memiliki jalan sedikit mulus, 7 lainnya melewati bukit dengan kondisi jalan berbatu, dan sunyi. Itu belumlah sampai, untuk sampai ke desa yang berpenduduk 69 kepala keluarga, 138 lelaki dan 161 perempuan itu, harus melewati  satu tahap lagi yaitu menumpang Ghetek menyeberang Sungai Tamiang.

Sejak turun-temurun warga Kampong (desa) Pematang Durian tak memiliki WC, kotoran sering didapat dikawasan pekarangan, mereka mengandalkan  sungai sebagai tempat Mandi, Cuci dan Kakus (MCK). Jika malam hari banyak memilih cara instan kedalam kantong plastik. Setelah siap, lemparan WC terbang itu, wow, kadang sering hinggap di pelepah pohon Sawit. Giliran pagi tiba warga berduyun-duyun menuju alur sungai, untuk membuang hajad, mandi mencuci serta mengambil air untuk di konsumsi. Kebiasaan yang tidak sehat secara kesehatan itu bukan suatu kendala bagi warga disana.

Beriring waktu berjalan, kesusahan ketiadaan jamban di rumah mulai terasa bagi warga desa itu, kejadian ribut soal WC terbang berceceran dibawa Anjing beberapa lalu menjadi pengingat, dikala orang luar desa dan tamu pesta perkawinan datang, mereka bertanya dimana WC?. Pemilik rumah dan tetangga terpaksa tersenyum kecut, dan sangat menyita waktu untuk melayani dengan mengantar para tamu ke Sungai.

Tepat Oktober 2015 kegiatan Desa semakin bertambah, menyusul kegiatan dana Desa, selain itu  ibu-ibu sering mengadakan pertemuan dengan  relawan Yayasan Sheep Indonesia yang kala itu sedang melaksanakan sosialisasi terkait kondisi kesehatan dasar, penyakit menular, kesehatan anak dan balita,  yang waktu itu masih kurang minat warga untuk datang ke posyandu.

“Saat rapat-rapat dengan orang Sheep itulah, muncul lagi persoalan tidak ada WC, hingga  keluar ide membuat arisan WC, ha..ha,”aku Zainab, Kamis, 16 Maret 2017

Setelah itu 20-an ibu-ibu yang sepakat untuk bergabung, satu persatu mereka menyetorkan uang, setelah sampai waktu yang ditentukan, mereka menggelar undian, siapa yang keluar namanya maka untuk mereka dulu diberikan uang.

Nah,  bagaimana dengan pembangunannya?

Uang tersebut hanya untuk membelikan bahan material, seperti Semen, Cincin sumur, pipa dan Closet, sementara untuk pengerjaan dilakukan secara gotong royong. “Kami yang gotong royong,  bangunnya,”Tambah Siti Zainab.

arisan wc -acehbaru.com
Salah satu WC hasil arisan

Zainab mengaku, diawal-awal mereka menjalankan arisan WC berbagai sindiran muncul dari warga yang tidak ikut dalam kelompok, namun Zainab dan kawan-kawan memilih tidak peduli.

“Untuk kepentingan sendiri kok, sekarang yang ngak ikut anggota kelompok  ada juga yang ikut bangun,”sambung Ibu Suhaibah, 35 tahun janda tiga anak yang bersiap menikmati WC baru.

Hasil Partisipasi masyarakat

Husaini seorang staf Yayasan Sheep Indonesia kepada acehbaru.com bercerita, inspirasi arisan WC hasil proses PRA (Participatory Rural Apraisal: memahami kondisi desa secara partisipatif) tentang kesehatan lingkungan kampong sebagai upaya menjaga sanitasi dan lingkungan yang bersih serta perilaku hidup sehat.

Buang “hajat” sembarangan sangat mengganggu banyak orang, resiko pertama bau yang menyengat sangat menggangu udara dan kesehatan keluarga, hem, belum lagi resiko bila tiba-tiba terpijak, karena licinnya menyebabkan jatuh dan harus patah tulang gara-gara itu.

Maka tidak heran, saking pentingnya persoalan ini setiap pendataan kesehatan masyarakat, yang dilakukan Puskesmas, WC selalu menjadi salah satu bagian tak terlupakaan (dalam form isian survey).

Data Bappenas tahun 2012, merilis  sekitar 50 juta keluarga di Indonesia belum memiliki WC atau toilet, setiap hari ada 14 ribu ton tinja dari proses buang air besar (BAB) yang dilakukan di tempat terbuka seperti sungai, sawah, kebun, pekarangan dan tanah kosong.

arisan wc-31a
WC hasil arisan ibu-ibu

Namun sekarang, para ibu –ibu di Pematang Durian perlahan meninggalkan pola hidup tidak sehat itu, setidaknya sudah 19 unit WC terbangun, semenjak itu pula jumlah warga yang membuang “hajat” ke sungai semakin berkurang.

“Sekarang kami pun sudah semakin nyaman,” tambah Siti Zainab sang motor pengerak Arisan WC. (ima)

loading...

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY