Header Ads

Warga Desa Ini Nikmati Kemerdekaan Dengan Kondisi Jalan Tak Layak

acehbaru.com | Aceh Tamiang - Perayaan hari ulang tahun kemerdekaan republik Indonesia ke-72 diperingati beragam, pemerintah menggelar acara dilapangan dengan peserta berbaju rapi dan tempat yang tertata apik. Tapi tidak demikian dengan warga Kampung Batu Bedulang, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang, mereka merayakan kemerdekaan dengan kondisi miris, jalan lintas desa mereka masih tanah merah dan kondisi rusak parah. Kamis, 17 Agustus 2017

Upacara hari kemerdekaan Indonesia 2017 itu diikuti sejumlah lelaki, perempuan, pemuda dan anak-anak berlangsung di jalan desa yang rusak parah . Qamariyah, 32 tahun warga setempat mengatakan sudah 72 tahun Indonesia merdeka, namun kemerdekaan seperti tidak bisa dirasakan warga Kampung Batu Bedulang. Salah satunya disebabkan oleh jalan yang selama ini menjadi sarana interaksi sosial –ekonomi mereka kondisinya sangat buruk.

“Waktu hujan kami terjebak di kampung, tidak bisa ke mana-mana. Anak sekolah pun terpaksa libur karena tidak bisa dilewati,” ujar Qamariah setelah pengibaran bendera di tengah jalan lintas Bandar Pusaka- Simpang Jernih yang kondisinya masih tanah merah dan rusak, sebagaimana diberitakan Tempo.co

Selain Qamariyah, keluhan lain juga disampaikan oleh Daniel. Dia menyebutkan di musim hujan mereka harus merelakan anaknya tidak bersekolah karena kondisi jalan lintas kabupaten yang sehari–sehari dilewati truk pengangkut sawit perkebunan benar–benar tak bisa dilewati

Kepala Desa (Datuk Penghulu) Desa Batu Bedulang; Suhardi kebingungan ketika sering mendapatkan keluhan dari warganya soal kondisi jalan yang buruk tersebut. Pasalnya, di samping jalan tersebut statusnya adalah jalan lintas antar kabupaten (Aceh Tamiang dan Aceh Timur), lokasi jalan yang buruk tersebut berada di dalam kawasan Hak Guna Usaha (HGU) PTPN I.

Tidak hanya soal jalan yang buruk, 177 kepala keluarga, 766 jiwa Kampung Batu Bedulang juga memiliki masalah dengan permukiman yang mereka tempati saat ini. Pasca banjir bandang tahun 2006 lalu desa mereka yang berada di pinggir sungai Tamiang tersapu air bah, kemudian pemerintah memindahkan mereka ke lokasi baru. Meskipun kebanyakan bangunan rumah di Kampung Batu Bedulang adalah bangunan rumah permanen dan semi permanen, namun status tanah mereka adalah kawasan HGU PTPN I.

"Jadi selama ini kami numpang di HGU PTPN I. Tak satupun warga yang punya sertifikat tanah disini. Makanya, kami ini seperti numpang di kampung sendiri. Serasa belum merdeka." kata M. Daneil (62), tetua Desa (kampong) Batu Bedulang di hari kemerdekaan Indonesia 2017. (tempo.co)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.