Header Ads

Gara-Gara Akai Ku'eh, Nyaris Hana Meupeu Cap Di Kembang Tanjong

acehbaru.com - Sejak pilkada 2007 akal ku'eh merusak dan mencuri spanduk calon sudah berlangsung. Tingkat terparah terjadi pada pilkada 2012 lalu. Spanduk dan baliho para calon banyak yang rusak dan dibakar. Kejadian  ini memang banyak terjadi dimalam hari, alias kala waktu sepi dan tidak ada orang yang melihatnya.

Sebelum kejadian di Kembang Tanjung Pidie, di Aceh Timur spanduk pasangan Ridwan Abu Bakar (Nektu) - Abdur Rani juga sempat dirusak oleh orang tak dikenal, kemudian pada awal Agustus 2016  sejumlah baliho dan spanduk pasangan balon dari jalur Independen bupati dan wakil bupati Bireuen 2017 – 2022  Tu Sop-dr.Pur  di kawasan kecamatan Makmur  juga di obrak abrik pelaku misterius sekira pukul  01.00 dini hari.

Kejadian terbaru, Rabu 2 November 2016 sekitar pukul 05:30, 3 lembar bendera Partai Nasional Aceh (PNA) dibakar orang yang tidak diketahui identitasnya. Bendera lainnya dibuang ke sungai. Baliho pasangan Gubernur Aceh Irwandi-Nova yang diusung PNA, Demokrat, PDA, yang terpasang di kawasan kantor camat juga dirusak.

Model-model penghilangan atau perusakan spanduk pada malam hari atau dinihari atau dikala shalat Jumat berlangsung adalah model lama yang dipraktikkan kembali pada pilkada 2016-2017 ini.

Pelaku perusakan dan penghilangan baliho pada malam hari memang tidak dapat kita tunjuk batang hidung siapa yang melakukannya, kecuali kita punya sahabat jin atau syetan yang kebetulan sedang berkeliaran kala itu. Namun itupun sulit, karena secara hukum Indonesia Jin dan Syetan belum dimasukkan sebagai salah satu saksi bila kasus masuk ranah pengadilan atau di kepolisian.

Pun begitu bagi pelaku politik pada tingkat komunitas tertentu atau dalam wilayah yang terbatas,  di Gampong misalnya. Walaupun tidak bisa menunjuk bukti untuk keperluan dipengadilan,  para pelaku politik yang menjadi korban keganasan para pelaku perusak dan pelaku yang menghilangkan spanduk atau atribut partai tanpa perlu pergi ke dukun untuk menerawang pelakunya, mereka dapat menerawang sendiri siapa pelakunya.

Karena mereka umumnya sudah sangat faham dengan praktik ini, pasalnya para pendukung para calon umumnya dulu pernah bersama yang kemudian beriring waktu mereka memiliki pandangan politik berbeda.

Sehingga restu atau tabiat atau akai ku'eh untuk melakukan tindakan atau merusak milik orang lain sudah diketahui lumbunngnya. Karena mereka umumnya pernah bersama dimasa lalu, dan track record itu masih terekam hingga masa kini.

Maka jika ada kerusakan baliho atau menghilangnya atribut partai tertentu disuatu daerah dengan wilayah yang terbatas, jangankan pelaku  politik yang menjadi korban, para penonton yang peduli dengan perkembangan politik  juga  dapat memprediksi siapa yang melakukannya. Maka tak heran jika ada kata-kata,  siapa lagi kalau bukan? ........ureung laen soe galak!. Baca juga : Di Bireuen, Baliho Bakal Calon Bupati Di Rusak  OTK

Asumsi ini memang secara hukum ini tidak jadi pegangan, karena tidak ada saksi mata ketika Haramjadah Ku'ehnyan melakukan perusakan. Namun pada komunitas tertentu kelakuan dari oknum massa pendukung dari lawan politik mereka sudah terbaca.

Kondisi ini seakan tidak ada gunanya bila muncul analisa tingkat tinggi, media, dan lain-lain yang membahasakan tidaklah bisa mengarahkan telunjuk ke satu pihak yang melakukan ini, karena kejadiannya pada malam hari, terus  tidak ada saksi. Karena semua orang punya kemungkinan untuk melakukannya, bisa jadi pihak ketiga atau lainnya.

Namun mereka yang di Gampong dapat menjelaskannya. Dengan kekuatan penguasaan Gampong yang mereka miliki  dapat dengan mudah mendeteksi orang luar masuk ke Gampung mereka, dan mereka pasti mengetahui jika orang luar yang melakukannya, dan mereka yakin,  pasti akan dapat menangkap tangan (jika memungkinkan) bila pelakunya adalah orang luar. Baca juga : Wagub Hendak Ke Nisam, Spanduk Caleg Dicincang Sisakan Baliho PA

Sebagai contoh pada pemilu legislatif 2009,  dikala Partai Aceh pertama ikut serta dalam pemilu legislatif,  berbagai kejadian terjadi, dari pembunuhan kader mereka, penggranatan kantor, hingga berbagai kejadian lainnya. Baca : Teror jelang pemilu 2009

Pendukung Partai Aceh yang dulu masih menyatu dan kini berpencar menjadi bagian dari pendukung kandidat bupati dan calon Gubernur pada pilkada sekarang juga mengetahui yang melakukan itu bukanlah si Maee tetangga Gampong-nya, tetapi itu dilakukan oleh orang-orang tertentu yang dikontrol oleh orang tertentu pula.

Kembali ke kejadian Kembang Tanjong, kejadian yang dipicu oleh hilangnya atribut PNA dan rusaknya baliho pasangan Irwandi -Nova pada dinihari Rabu, 2 Nov 2016, kemudian berbalas dengan insiden perusakan dan pembakaran atribut Partai Aceh, patut kita sebut beruntung,karena telah berakhir damai.

Namun berbagai insiden seperti ini bakal terus terulang dalam pilkada Aceh 2016-2017, bi-la akai Ku'eh merusak punya kandidat lain, masih dipupuk dan dipelihara. (A)

 

 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.