Header Ads

Super Kwek-Kwek, Alasan Sakit Hati Dosen Lapor Mahasiswa Ke Peulisi?

acehbaru.com - Nanda Feriana seorang mahasiswi Universitas Malikussaleh yang dilaporkan dosenya ke polisi dengan tudingan melanggar UU ITE menanggapi sebuah pemberitaan media yang  berjudul "Alasan Dosen Polisikan Mahasiswanya " dan "Ini pernyataan Nanda Feriana yang Bikin Ibu Dosen Sakit Hati" :

Penggunaan kata primitif dan tidak beradab, adalah kalimat pengandaian, bukan tertuju langsung. Saya menulis disitu "anda seharusnya berperadaban, bukan primitif". Saya tidak menulis kalimat transitif berupa " Anda primitif" atau "Anda tidak beradab". BACA JUGA : Bu Dosen Laporkan Mahasiswinya Karena status Nanda sudah terlanjur Viral

Ini baru bermakna langsung. Dan cerita saya di status menggunakan kalimat-alimat satire (bermakna konotatif). Di negara demokrasi, kalimat satire wajar dan bahkan sering digunakan untuk memperhalus sebuah kritikan. Itu salah satu cara menyampaikan gagasan.Dan tidak ada penyebutan nama, ciri-ciri fisik, maupun foto.

Saya paham rambu rambu dalam mengeluarkan argumen. Jadi,saya tidak tuliskan itu. " Ibu Lulusan Jerman" ini secara tersurat sangat anonim. Orang akan menghayal dulu untuk membayangkan ini siapa. Jadi, bagaimana mungkin itu disebut mencemarkan nama sedangkan nama saja saya tak sebut? Soal berita kedua,

"Bahkan ketika saya merangkul dengan sikap lunak saya, dia menepis". Kalimat ini samasekali tidak benar. Kapan kami berangkulan dan kapan saya menepis itu? Tolong buktikan waktu dan tempatnya atau dokumentasinya.

Bahkan jangankan utk berangkulan, saya minta maaf saja beliau tidak mau. Dalam mediasi di fakultas, saya bangun menyalami beliau utk meminta maaf, tapi beliau tidak mau dan langsung berlalu meninggalkan ruangan. Banyak saksi yg melihat beliau tinggalkan ruangan saat rapat mediasi berlangsung.

Sehingga karena sikap itu, proses mediasi jadi buntu. Sejak kejadian itu pula, tidak benar beliau mengatakan bahwa " saya ajak berjumpa dan memberikan waktu satu pekan, tapi nanda tidak mau dan alasanya berubah ubah".

Selama satu pekan itu beliau bahkan menutup komunikasi dengan saya, dan terus menghubungi Kajur saya untuk mengingatkan agar saya segera meminta maaf di media cetak (Koran Serambi) dengan ancaman kalau saya tidak bersedia, akan dibawa ke ranah hukum.

Saya menolak meminta maaf di media serambi Indonesia karena pertimbangan biaya yang mahal, dan justru bertujuan menjaga reputasi beliau, reputasi intitusi, dan juga saya secara pribadi. Karena alasan nya, beliau suruh sebut nama secara terang, bagaimana mungkin?

Di status saya di FB saya tak sebut nama beliau (supaya nama itu tetap terjaga), lantas mengapa harus menyebutnya di permintaan maaf ? Di media cetak pula. Itu bagi saya justru akan menyerang reputasi dia secara personal dan juga institusi.

Saya tidak menerima ada pengerucutan hanya "2 hari" minta maaf di media cetak, beliau menuntut 4 hari. Soal ukuran beliau tentukan 4-5 kolom layaknya ucapan selamat dan sebut namanya (saya masih memiliki bukti tertulisnya).

Soal pertemuan di Polres, Saya bahkan tidak dipertemukan dalam satu ruangan oleh penyidik. Bagaimana mungkin saya melihat beliau dengan "ekor mata".

Soal yudisium, berkas yang tidak selesai adalah transkrip dan berita acara sidang. Dua berkas yang tidak lengkap itu bukan tidak selesai karena faktor di diri saya, melainkan karena tidak diselesaikannya oleh staff prodi. " Secara aturan, berita acara sidang itu langsung siap ketika mahasiswa selesai sidang di hari itu juga. Namun berita acara saya malah tidak siap".

[caption id="attachment_31713" align="alignnone" width="467"]Dwi Fitri, sekretaris prodi Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh Lhokseumawe Dwi Fitri, sekretaris prodi Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh Lhokseumawe[/caption]

Jadi itu bukan salah saya yang tidak lengkap, namun petugasnya yang lamban. Janggalnya, kalau beliau menyorot saya seorang soal berkas ini, mengapa teman yg bersamaan sekalian sidang dengan saya bisa ikut yudisium juga? Ada salah satu dari mereka yang bahkan berkasnya juga tidak lengkap (transkrip) di H-1 sebelum yudisium. Tapi bisa ikut yudisium.

Tuduhan saya "dispesialkan" oleh fakultas adalah tidak benar. Fakultas sendiri mengakuinya. Kinerja staff prodi berinisial F itu memang sangat lamban, soal ini bisa ditanyakan kepada mahasiswa ilmu komunikasi itu sendiri. Tidak ada permintaan dispesialkan oleh yang bersangkutan. Saya mengkritisinya hanya ingin dia bercermin bahwa pelayanannya tidak ramah.

Bagi saya, itu adalah penjelasan yang tidak fair. Ini hak jawab saya selaku yang diberitakan. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.