Header Ads

Larang Wartawan Ambil Foto Protokoler Pemko Lhokseumawe Lantang Dan Arogan

acehbaru.com | Lhokseumawe – Melarang sejumlah wartawan mengambil foto saat menjalankan tugas jurnalistik pada acara penutupan pameran pendidikan Lhokseumawe 2016 oleh oknum protokoler pemko Lhokseumawe mendapat kecaman keras. Pasalnya, sikap protokoler itu dinilai tidak beretika lantang dan arogan. Sabtu 15 Oktober 2016.

Peristiwa pelarangan tersebut membuat para wartawan yang menghadiri acara penutupan tersinggung atas sikap pengarah acara yang bernama Ngadiman yang juga merupakan pensiunan TNI.

Palarangan wartawan untuk mengambil foto tersebut disampaikan sesaat sebelum acara penutupan pameran dimulai, padahal di depan panggung acara masih terlihat mondar mandirnya orang orang yang tidak berkepentingan.

" Satpol- PP jaga, jangan sampai mereka (wartawan-red) ambil foto di depan, semua ini arahan saya tidak ada terkecuali", ujar ngadiman dengan suara tinggi dan lantang.

Sarina salah seorang wartawati media lokal dilokasi kejadian mengatakan, pelarangan liputan tersebut membuat dirinya kesal, karena selama ini tidak pernah terjadi pelarangan seperti ini.

"Ini acara untuk umum, kenapa mesti dilarang larang, seharus nya bisa disampaikan dengan baik, tidak mesti dengan suara tinggi", sebut Rina.

Secara terpisah, Ketua Advokasi Persatuan Wartawan Aceh Rahmad YD Kepada acehbaru.com mengatakan, Peristiwa pelarangan yang dialami rekan rekan wartawan yang meliput acara penutupan pameran pendidikan itu tidak bisa ditolerir.

“Humas pemko Lhokseumawe penting untuk membaca Undang – Undang Pers No 40 tahun 1999, agar memahami fungsi dan tugas wartawan sehingga tidak semena mena memperlakukan wartawan yang bekerja untuk kepentingan publik, dan bisa saling menghargai,” ujar fotografer nasional itu.

Dia menambahkan, kejadian atau sikap arogansi yang dilakukan protokoler humas pemko Lhokseumawe itu bukan hanya di perlihatkan saat acara penutupan pameran pendidikan saja, sikap sombong selalu di nampakkan oleh tim protokoler pemerintah Kota Lhokseumawe pada setiap acara, bahkan keberadaan protokoler sering menghalau para pekerja pers.

“Bukan hanya Ngadiman, Kabaq Humas sendiri (Muslem-red) sangat sering mempersempit ruang gerak wartawan, bahkan sibuk tak menentu dan terkesan caper atau “menjilat” walikota pada saat setiap ada acara walikota itu sendiri,”Cetus Rahmad.

Menurutnya, Perlakuan buruk dan tidak sepantasnya dilakukan terhadap rekan rekan wartawan itu tidak perlu terjadi, sebab wartawan yang selama ini bertugas di wilayah Lhokseumawe membantu pemko Lhokseumawe dalam hal menyampaikan informasi pelayanan pemerintah kepada masyarakat luas.

“Kita mendesak walikota Lhokseumawe segera melakukan evaluasi orang orang yang ditempatkan di humas yang selalu berhadapan dengan wartawan, dan saya menilai hubungan wartawan dengan humas pemko Lhokseumawe tidak harmonis, dan kepada oknum yang telah menghambat tugas wartawan itu harus segara meminta maaf, jika tidak kita akan kerahkan semua wartawan untuk memboikot segala bentuk pemberitaan pemko Lhokseumawe,”Tegas Rahmad. ( Fiq )

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.