Header Ads

Janji Tarmizi Karim Bangun Aceh, Masih Kalah Dengan Janji Masa Lalu

acehbaru.com- Sejak bulan –bulan terakhir ini masyarakat Aceh memiliki tontonan baru, maklum ini mulai memasuki musim politik yaitu pemilihan kepala daerah baru yang endingnya pada awal 2017 mendatang. Sebagai start awal sudah mulai. Calon yang naik lewat jalur independen sudah menyerahkan KTP surat dukungan, calon dari partai telah siap juga dengan dokumen dari partai pengusung atau koalisi.

Sementara waktu jadi-lah pasangan bakal calon Gubernur Aceh, Tiga pasangan dari jalur independen, masing-masing Zaini Abdullah – Nasaruddin, Zakaria Saman- Teuku Alaidinsyah, Abdullah Puteh-Mustafa Usap

Tiga lainnya dari jalur Partai politik, masing-masing Muzakkir Manaf- TA Khalid (Partai Aceh, Gerindra, PKPI) Tarmizi Karim- Machsalmina Ali (Nasdem, Golkar, PAN dan PPP, Hanura) dan Pasangan Irwandi Yusuf- Nova Iriansyah (Demokrat, PDIP, PNA, PKB, PDA dan PDIP)

Ke enam pasangan baru saja selesai melakukan tes kesehatan, bagi calon jalur independen juga sedang menyiapkan kekurangan KTP untuk diserahkan kepada Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh.

Nah, riak atau unjuk gigi para pasangan calon sejak awal terlihat, dari statemen media tentang klaim kekuatan, didukung oleh rakyat, hingga didukung oleh pusat.

Kampanye bertebaran mulai via sosmed, hingga unjuk massa. Pasangan Tarmizi Karim- Machsalmina Ali yang di usung (Nasdem, Golkar, Pan dan PPP, Hanura), memulai kegiatan unjuk massa atau deklarasi pada, Sabtu, 1 Sep 2016 bertempat di pelataran stadion Lhong Raya, Banda Aceh,

Acara ini ditargetkan akan hadir 30.000 orang massa lebih. “Kita memperkirakan tidak kurang dari 30 ribu massa pendukung dan simpatisan Pak Tarmizi Karim – Muchsalmina Ali akan hadir dalam acara rapat dan Deklarasi akbar nantinya, terutama masyarakat dari Kota Banda Aceh dan Aceh Besar,” Ujar Teuku Banta Sekretaris Panitia, 29 September 2016

Dengan rencana kekuatan massa yang nian besar itu, pasangan birokrat itu juga menghadirkan para pimpinan Partai pengusung kelas DPP alias dari Jakarta. Tak tanggung-tanggung, dari Nasdem hadir Surya Paloh, Golkar Setya Novanto yang kita masyarakat awam mengenalnya kala kasus Papa Minta Saham karena ditayang oleh TV-TV Nasional. Pimpinan PPP juga ikut hadir.

Rapat akbar yang diberi judul membangun Aceh dengan target massa yang begitu besar itu tentunya membuat para timses pasangan lain menunggu dengan debar jantung. Kemampuan menghadirkan massa banyak suatu yang hebat-tentunya. Terlepas massa yang hadir dengan kesukaan dan kerelaan maupun karena ada bingkisan yang diberikan oleh penggalang hingga masyarakat datang hanya untuk memenuhi tanggung jawab transaksional itu.

Terlepas dari cara menggalang, paling tidak kalkulasi awal bila massa banyak hadir dan membuat sesak lapangan yang disediakan otomatis para panitia dan kandidat akan sumringah, foto –foto kepadatan masyarakat akan jadi foto berkampanye berikutnya, terutama dilaman –laman facebook yang dikelola tim sukses, dan efeks samping masyarakat yang melihat terkesan sekilas pasangan  inilah yang paling banyak dukungan. Walaupun jumlah itu tidak dapat sama sekali menunjukkan  kemenangan dihari pemilihan  kelak.

Tapi gelaran yang dilakukan pasangan Tarmizi Karim kali ini sepertinya tidak mencapai target. Banyak pihak memprediksikan massa yang hadir cuma 10 ribu, itupun sekedar prediksi.

Terlepas banyak atau tidaknya massa yang hadir acara itu berjalan sukses, pasangan calon, sejumlah tokoh partai pengusung Tarmizi Karim yang datang dari jauh semua dapat jatah berpidato menyorot tentang ketidakberesan yang terjadi di Aceh, mereka semua mengatakan pemerintah Aceh selama ini tidak mampu mensejahterakan masyarakat bila dibandingkan dengan dana yang dikelola mencapai 14 trilyun.

|||

Karena kondisi demikianlah Tarmizi Karim mencalonkan diri, karena ia berkeyakinan, dengan dana pembangunan yang mencapai belasan triliun tersebut, Aceh dapat menjadi negeri yang makmur. “Insya Allah kalau saya terpilih akan bermanfaat kepada masyarakat, apapun pekerjaan anda, pertanian, peternakan, maupun industri rumah tangga,” kata alumni Fakultas Pertanian Unsyiah itu.

Tarmizi Karim tidak sendiri memiliki keyakinan itu, sejumlah partai pendukung juga merasa yakin Tarmizi bisa merubah semua kondisi yang dianggap masih buruk itu.

Ketua Dewan Pimpinan Partai (DPP) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Muhammad Romahurmuziy, Ketua Umum DPP Partai Golkar Setya Novanto, Wakil DPP PAN, Muhammad Najib juga memaparkan kondisi kekritisan Aceh berdasarkan versi mereka, dan mereka sudah barang pasti menyebutkan Tarmizi Karim lah yang mampu, membuat Aceh lebih baik.

Fenomena menyebutkan barang sendiri lebih baik bukan saja terjadi dalam marketing politik, tetapi dalam politik di pasar hewan juga terjadi demikian. Tidak mungkin seorang agen lembu menyebutkan lembu yang sedang diperdagangkannya mencret, walau kotoran cair meleleh sampai kepahanya. Pastinya saat datang calon pembeli, menjelaskan ceceran kotoran itu adalah kotoran kawannya yang tertempel saat ia tidur dikandang. Atau dalam bahasa local, disebutkan “Panenyo Leumo Lon Yang Ciret, Tapi Nyan Meucilet Ek Ngon Jih”.

Namun apapun marketing itu sah-sah saja, apalagi keyakinan seseorang atau komunal tertentu terhadap sesuatu termasuk terhadap kandidat yang sedang dijagokannya. Begitu juga dengan kandidat itu sendiri dengan bebas dapat meyakini atau bermimpi perubahan yang akan dilakukan bila kelak menjadi Gubernur Aceh.

Tetapi itu semua baru sebatas keyakinan sebelum ia terpilih.

Untuk ranah nanggroe mulidja ini keyakinan –keyakinan untuk menjadikan Aceh lebih hebat yang disampaikan pasangan balon Gubernur Tarmizi Karim belumlah seberapa alias masih kalah telak dengan keyakinan perubahan yang pernah disampaikan oleh kandidat pasangan Gubernur Aceh Zaini Abdullah –Muzakkir Manaf yang terpilih pada Pilkada pemilihan 2012 lalu.

Kala itu Zaini-Muzakkir lebih jelas dan detail lagi merincikan apa yang akan dilakukan untuk Aceh yang lebih hebat dan bermartabat bila dipilih rakyat Aceh menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh.

Serambi Indonesia pada, Senin, 25 Juni 2012 lalu merilis sedikitnya ada 21 janji pasangan Zikir yang dipaparkan kepada masyarakat Aceh kala itu. Dari 21 janji tersebut, tentunya janji mensejahterakan masyarakat adalah number one alias nomor satu, namun ditambah lagi dengan beberapa lain yang paling mudah diingat, diantaranya;

  1. Pemberangkatan jamaah haji dengan kapal pesiar

  2. Naik haji gratis bagi Anak Aceh yang sudah akil baliq

  3. Menjadikan Aceh layaknya Brunei Darussalam dan Singapura

  4. Mendatangkan dokter spesialis dari luar negeri

  5. Pendidikan gratis dari SD sampai dengan Perguruan Tinggi

  6. Pemberian Rp. 1.000.000 (satu juta) per KK per bulan dari hasil dana minyak dan gas (migas)


Begitu kongkritkan 6 janji dari bagian 21 janji ini?.

Walaupun Tarmizi Karim menyebutkan bila terpilih nanti akan bermamfaat untuk masyarakat apapun pekerjaannya, namun masih kalah jauh bobotnya dengan janji nomor 6 diatas. (ira)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.