Header Ads

Gara-gara sepucuk Surat, Mahasiswi Unimal Dipolisikan Dosen Lulusan Jerman

Nanda menuliskan kesedihannya menghadapi kesulitan pendaftaran yudisium di Universitas Malikussaleh Lhokseumawe, kala itu ia baru saja kembali dari sebuah acara Nasional. Kepergiannya ke acara tersebut juga sudah dilaporkan sebelumnya ke pihak kampus, tapi sepulang dari sana ia berurusan dengan administrasi yang ribet hingga ia merasa sangat kecewa. Kemudian rasa kekecewaan itu tertumpahkan panjang dihalaman facebook miliknya pada 27 September lalu.

Judul curhatan kekesalan sedikit menggelitik,  “Sepucuk Surat untuk Ibu Lulusan Jerman” disajikan panjang dengan bahasa yang mudah dipahami dan terekam jelas isinya Nanda kecewa berat, ia menyampaikan begitu sulit dan begitu besar harapan sarjana itu diraih walaupun dengan perjuangan yang begitu sulit demi untuk membahagiakan ibunya.

[caption id="attachment_31714" align="alignleft" width="160"]Nanda Feriana Nanda Feriana[/caption]

Nanda yang kini tinggal bersama ibunya setelah orang tua lakinya meninggal dunia. Dalam curhatannya itu juga terlihat begitu berat perjuangan yang ia lakukan dalam kondisinya keluarganya bukan orang berada.

Kasus itulah yang membuat Nanda Feriana nama lengkap perempuan itu harus menghadiri panggilan aparat Kepolisian Polres Lhokseumawe Rabu, 19 Oktober 2016 untuk dimintai keterangan

“Saya kecewa, kenapa saya digagalkan yudisium tanpa alasan yang fair,” kata Nanda sebagiamana ungkapannya kepada acehkita.com, Jumat malam.

Ia lantas mencari tahu alasannya. Menurut Nanda, alasan ia tidak bisa yudisium karena ketidaklengkapan berkas untuk mengikuti yudisium dan memprotes tindakan staf di akademik (Prodi).

Nanda mengaku punya alasan kenapa berkasnya tidak lengkap, meski ia sudah mendaftar yudisium sebelum tenggat. Ketidaklengkapan itu karena menunggu transkrip nilai yang tidak kunjung selesai dari staf di Prodi, aku Nanda.

“Saya juga tidak bentak-bentak staf di prodi,” sebutnya. “Saya gagal yudisium ini keputusan sepihak. Saya tidak dimintai keterangan.”

Karena kesal dan mengaku tidak ada respons yang memuaskan dari pihak kampus, Nanda akhirnya menuliskan permasalahannya di dinding Facebook.

“Saya menulis status ini, saya tidak mau mempermalukan siapa pun atas kasus ini. Makanya di status yang saya tulis tidak ada satu pun nama,” ujar Nanda.

Status itu akhirnya menjadi viral. Ia akhirnya diizinkan mengikuti yudisium.

Sebelum kasus ini sampai di tangan penegak hukum, Nanda dan Dwi Fitri sudah dipertemukan di kampus. Di situ, Nanda meminta maaf.

“Saya sudah beri kesempatan Nanda tiga kali. Saya membuka kesempatan,” kata Dwi Fitri kepada acehkita.com.

Dwi menyatakan menolak menerima permintaan maaf melalui lisan. Pasalnya, Nanda telah mencemarkan nama baiknya melalui media sosial.

[caption id="attachment_31713" align="alignleft" width="300"]Dwi Fitri, sekretaris prodi Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh Lhokseumawe Dwi Fitri, sekretaris prodi Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh Lhokseumawe[/caption]

Dwi Fitri menyebutkan bahwa ia meminta Nanda menyampaikan permintaan maaf melalui media sosial dan media cetak. “Dia menolak meminta maaf melalui media cetak karena merusak kredibilitas diri dan keluarga,” kata Dwi Fitri. “Bagaimana dengan kredibilitas saya?”

Menurut Dwi, sebelum menempuh proses hukum, upaya mediasi sudah tiga kali dilakukan. “Namun gagal,” ujar Dwi.

Menurut Nanda, mediasi sudah dilakukan dan ia berkenan meminta maaf melalui media sosial. Sedangkan melalui media cetak ia mengaku mempertimbangkannya. Ia juga hendak meminta maaf dengan mendatangi rumah Dwi Fitri.

Dwi menyebutkan, langkah hukum yang ditempuhnya karena integritas dan martabatnya sebagai dosen telah dilecehkan. “Saya menempuh jalur hukum ini hak saya sebagai warga negara, ketika integritas dan martabat saya sebagai dosen dilecehkan. Bahasanya keterlaluan,” ujarnya. [ABC/acehkita.com)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.