Header Ads

Bu Dosen Laporkan Mahasiswinya Karena status Nanda sudah terlanjur Viral

acehbaru.com— Status Facebook menyebabkan Nanda Feriana harus berurusan dengan proses hukum. Lalu, kenapa dia dilaporkan ke polisi menggunakan Undang-undang Internet dan Transaksi Elektronik.

Nanda dilaporkan ke polisi oleh Dwi Fitri, sekretaris prodi Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh Lhokseumawe, setelah statusnya di Facebook menjadi viral. Nanda menumpahkan kekesalannya karena tidak bisa mengikuti yudisium kelulusan.

Menurut Nanda, ia dijegal untuk tidak bisa mengikuti yudisium dengan beralasan bahwa berkasnya tidak lengkap dan membentak staf akademik di Prodi Ilmu Komunikasi.

“Saya tidak membentak-bentak staf di prodi,” kata Nanda Feriana kepada acehkita.com. “Saya gagal yudisium karena keputusan sepihak. Saya tidak dimintai keterangan.”

Akhirnya, ia pun menuliskan status di Facebook dengan judul “Sepucuk Surat untuk Ibu Lulusan Jerman” pada 27 September 2016.

Status ini berujung viral sehingga rektorat turun tangan. Ia diperbolehkan mengikuti yudisium. “Malam sebelum yudisium, pukul setengah dua saya ditelepon agar besok hadir yudisium,” ujar Nanda.

Ia pun menganggap masalah itu sudah selesai, sehingga tidak mempersoalkan. “Saya rasa permasalahan sudah clear dan kesalahpahaman sudah diselesaikan,” kata Nanda.

Beberapa hari kemudian, Nanda dan Dwi Fitri dipertemukan dalam sebuah mediasi yang difasilitasi kampus. “Saya minta maaf. Saya di ruang itu, beliau guru saya, jadi saya minta maaf,” ujarnya.

Permintaan maaf itu ditolak oleh Dwi Fitri, yang meminta agar Nanda menyampaikannya melalui media sosial dan media cetak. Menurut Nanda, dia dituntut minta maaf selama empat hari berturut-turut di media cetak.

“Saya bilang, kalau di media sosial bersedia, sementara di media cetak saya pertimbangkan. Karena di media cetak bukan harga murah,” lanjutnya.

Nanda memenuhi janjinya untuk memposting permintaan maaf di media sosial (Facebook). “Setelah saya posting di FB, saya pikir sudah clear, sudah cooling down. Saya juga datang langsung meminta maaf ke rumahnya,” kata Nanda.

Hanya saja, Nanda memutuskan untuk tidak menyampaikan permohonan maaf melalui media cetak, karena pertimbangan tidak sanggup membayar iklan.

Inilah yang kemudian membuat Dwi Fitri melaporkan Nanda Feriana ke polisi. Pada Kamis, 19 Oktober, lalu ia diperiksa sebagai saksi. Polisi mencecarnya dengan 20-an pertanyaan seputar curhatannya di Facebook.

Dwi Fitri punya alasan tersendiri menuntut Nanda meminta maaf melalui media sosial dan cetak.

“Karena ini (status Nanda –red.) sudah terlanjur viral. Orang yang tidak punya Facebook pun tahu masalah ini,” kata Dwi kepada acehkita.com.

Menurut Dwi, dirinya sudah memberikan kesempatan tiga kali kepada Nanda untuk menyelesaikan masalah ini. Setelah statusnya diunggah di Facebook, Dwi menunggu Nanda seharian untuk meminta maaf. Lalu dilakukan upaya mediasi yang difasilitasi kampus.

“Sudah tiga kali saya melunak. Mediasi saya mau, setelah mediasi disuruh lagi tunggu satu minggu oleh pimpinan saya, saya patuhi dan hargai pimpinan saya. tapi dia tetap melunjak,” ujar Dwi.

Karena menemui jalan buntu, Dwi memilih mengadukan Nanda ke polisi. “Ketika saya tidak terbelakan, saya mau melapor ke mana? Mahasiswa saya juga sudah mau konfron dengan yang pro-dia. Untuk meredam ini, saya tempuh melalui jalur hukum,” tadasnya.

Dwi membantah berupaya menggagalkan yudisium Nanda. Menurutnya, masalah sebenarnya karena Nanda tidak melengkapi berkas sehingga tidak bisa yudisium periode ini.

“Saya sesuai prosedural. Kalau memang saya salah secara prosedural, tentu bos saya –dalam hal ini Dekan, sudah mengambil tindakan, sanksi,” ujarnya. (acehkita.com)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.