Header Ads

AJI Lhokseumawe Kutuk Sikap Oknum Protokoler Halangi Wartawan

acehbaru.com | Lhokseumawe – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Lhokseumawe mutuk Keras tindakan oknum protokoler Pemerintah Kota Lhokseumawe, yang melarangan sejumlah wartawan untuk mengambil foto dan mengeluarkan kata-kata ancaman, saat menjalankan tugas jurnalistik pada acara  penutupan  pameran pendidikan Lhokseumawe 2016.

Tindakan tersebut telah melanggar Undang-undang No 40/1999 tentang Pers, apalagi  lokasi tempat liputan merupakan ruang terbuka yang tidak ada alasan untuk dilarang diliput oleh wartawan. Seharusnya seorang protokoler harus bisa bersikap profesional dan memberikan ruang kepada wartawan untuk melakukan peliputan, bukan malah sebaliknya. (baca Juga) : www.acehbaru.com/larang-wartawan-ambil-foto-protokoler-pemko-lhokseumawe-lantang-dan-arogan/

Kami memandang dengan adanya peristiwa ini,  merupakan bukti bahwa masih ada pejabat publik di Kota Lhokseumawe yang tidak memahami kerja-kerja jurnalis. Kami menilai masih ada  yang belum pernah membaca Undang-undang Pers.

Apabila merujuk pada aturan hukum, maka oknum protokoler Pemerintah Kota Lhokseumawe tersebut melanggar UU No.40 tahun 1999 pasal 18 ayat 1, bisa dikenakan ketentuan pidana penjara paling lama dua tahun atau denda paling banyak Rp500 juta.
Kemudian pada Pasal 4 ayat 3 berbunyi "Bahwa untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi.

Suaidi Yahya harus mencopot pejabat arogan dan meminta maaf pada publik. Wartawan bekerja untuk memenuhi kebutuhan informasi publik, sangat aneh jika pejabat publik melarang profesi yang bekerja untuk publik.

"Sikap arogan itu menandakan bahwa keterbukaan informasi di Pemko Lhokseumawe sangat buruk sekali. Ini kasus pertama yang terjadi sepanjang Lhokseumawe ada. Untuk itu, pejabat Humasnya harus diberi sanksi berupa pencopotan dari jabatannya," sebut Masriadi

Selain itu, Walikota Lhokseumawe Suaidi Yahya dan jajarannya harus mempelajari Undang-undang No. 40 Tahun 1999 Tentang Pers, sehingga bisa mengerti bagaimana tugas-tugas wartawan saat sedang bertugas.

AJI Lhokseumawe mengutuk keras perbuatan yang dilakukan oleh oknum protokoler tersebut, mereka adalah sektor pemerintah yang bertugas melayani rakyat. Tapi nyatanya kenapa bersikap arogan dan melarang wartawan mengambil foto.

Seperti di beritakansebelumnya petugas protokoler Melarang sejumlah wartawan mengambil foto saat menjalankan tugas jurnalistik pada acara penutupan pameran pendidikan Lhokseumawe 2016 oleh oknum protokoler pemko Lhokseumawe mendapat kecaman keras. Pasalnya, sikap protokoler itu dinilai tidak beretika lantang dan arogan. Sabtu 15 Oktober 2016.

Peristiwa pelarangan tersebut membuat para wartawan yang menghadiri acara penutupan tersinggung atas sikap pengarah acara yang bernama Ngadiman yang juga merupakan pensiunan TNI.

Palarangan wartawan untuk mengambil foto tersebut disampaikan sesaat sebelum acara penutupan pameran dimulai, padahal di depan panggung acara masih terlihat mondar mandirnya orang orang yang tidak berkepentingan.

” Satpol- PP jaga, jangan sampai mereka (wartawan-red) ambil foto di depan, semua ini arahan saya tidak ada terkecuali”, ujar ngadiman dengan suara tinggi dan lantang. ( Fiq )

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.