Header Ads

Rafly dan Kenduri Politik 2017

Pada festival rapai Internasional 2016 yang salah satu tempatnya di Taman Ratu Safiatuddin, malam minggu menghadirkan Rafly yang merupakan anggota DPDRI asal Aceh sekaligus seniman. Rafly merupakan sosok seniman yang selalu menyelipkan nilai-nilai agama dan budaya dalam lirik lagunya. Pernah suatu hari berkenalan dengan seseorang di Bandara Soetta dan menanyakan asal saya, ketika saya jawab Aceh, Bapak tersebut terus mengatakan oh berarti sedaerah dengan Rafly dan satu kalimat menarik dari beliau; "Rafly itu menjadikan tontonan sebagai tuntunan melalui syair-syairnya", demikian kalimat yang masih saya ingat.

Kiranya pernyataan itu tak salah dan benar adanya, Rafly berdakwah melalui syair dan nada, sebuah pola dakwah yang nyaris serupa dengan Rhoma Irama namun Rafly unggul dengan tetap mengenalkan nilai-nilai budaya dan adat istiadat Aceh yang sangat bermanfaat bagi generasi muda, itulah mengapa Rafly dicintai semua kalangan. Panggung kesenian bernilai ibadah demikian yang dilakukan Rafly, sebuah teladan bukan hanya bagi seniman lain namun semua manusia yang masing-masing memiliki panggung kehidupan.

Bagaimana dengan panggung politik kita yang harusnya dapat menjadi mencontoh bagi rakyat dalam berdemokrasi, sebuah panggung yang menyajikan nilai-nilai Islam dan budaya Aceh sehingga politik tidak kehilangan subtansinya sebagai kemaslahatan bersama (Socrates). Panggung politik bukan melulu soal siapa dapat apa namun soal bagaimana meraih kekuasaan dengan estetika dan etika sehingga politik dan seni tak jauh beda pada dasarnya.

Para politisi dalam kenduri politik 2017 mendatang bagusnya meneladani Rafly dalam meraih hati penonton (rakyat). Sebuah kenduri politik yang menciptakan psikologis rakyat penuh kegembiraan, suka cita, dan disaat yang sama memberi tuntunan kepada rakyat bahwa berbeda-beda tetap satu Aceh, saling menghargai perbedaan pilihan, membenci politik saling fitnah dan money politics maupun politik yang mengancam.

Politik kita sudah salah arah, ketika energi dan daya-daya hidup yang ada dan awalnya dikembangkan untuk melindungi sebuah bangsa, kini malah merangsek keluar, dan menghancurkan bangsa itu sendiri. (Borradori dan Derrida, 2004). Politik kita tidak lagi bertujuan bagi kemaslahatan bersama namun hanya bagi segelintir orang (otokrasi) padahal politik kita harusnya mampu menjadi sarana mempersatukan energi dan daya semua komponen guna kemaslahatan bagi Aceh. Politik harusnya mampu mendidik dan menuntun sebagaimana Rafly memberi hiburan hati, sejarah (Hasan dan Husein), dan nilai-nilai moral dalam syair dan nadanya sehingga decak kagum malam itu sedemikian rupa walaupun hujan turun namun tak membuat penonton pulang.

Kenduri politik 2017 harus mengusung semangat kemerdekaan dalam memilih pemimpin sekaligus tampilan hiburan yang dirindui rakyat setiap 5 tahun. Dalam hal ini adu ide dan gagasan merupakan indikasi arah politik kita sudah pada jalur yang benar, rakyat harus di hibur dengan ide dan gagasan cerdas sekaligus pembelajaran bagaimana politik yang benar itu dipraktekkan.

Misalnya para kandidat atau tim sukses harus berani memuji kelebihan dari ide dan gagasan lawan namun disaat yang sama menawarkan ide dan gagasan yang lebih baik atau bisa saja ide dan gagasan lawan nantinya digunakan ketika menang sebagai bentuk kedewasaan dalam berpolitik sekaligus objektifitas dalam penilaian.

Bila ide dan gagasan itu baik bagi rakyat Aceh mengapa gengsi dan enggan menerapkan ketika berkuasa, bukankah ini bukan soal siapa yang menggagas namun soal bagaimana menjalankan ide dan gagasan tersebut.

Kita semua setuju bahwa kehidupan politik (Das Politische) yang ideal menawarkan kebaikan bersama sehingga menjalankan ide lawan politik bila ide itu baik maka tak ada salahnya, saya sempat tertegun dengan pernyataan salah satu tim sukses cagub yang mengatakan; "Aceh belum butuh pemimpin pintar". Hipotesa itu kemudian disambung dengan kalimat; "pemimpin pintar nantinya akan membodohi rakyat sehingga lebih baik kita pilih pemimpin bodoh". Kalimat kontraproduktif itu seolah menafikkan peran intelektual dalam peradaban bangsa Aceh, para intelektual terancam oleh kepentingan pemodal maupun politisi yang “meracuni” pola berpikir mereka. (Wattimena, Penelitian Ilmiah dan Martabat Manusia, 2011)

Pernyataan itu sangat bertolak belakang dengan kemerdekaan yang sejak lama menjadi cita-cita, sebuah anti-tesis yang merugikan apalagi bila kita kilas balik siapa Hasan Tiro, intelektual yang berani. Itulah mengapa saya mengajak semua kontestan meresapi syair dan lirik lagu Rafly, sebagai penutup saya lampirkan penggalan lagu Ngat Bit Beusaheh;

Bak ureung paleh bek yue mat nanggroe
Bak ureung supoet bek yu toet paye
Bak ureung areh bek yue meutajoe
Bak ureung supoet bek yu toet paye
Bak ureung areh bek yue meutajoe

Oleh :Don Zakiyamani / Komisioner KPK (Komunitas Pecinta Kopi)

 

 

 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.