Header Ads

Pasangan Zaini Abdullah Angkut KTP dengan Truk Interkuler

acehbaru.com | Banda Aceh – Keseriusan  Zaini Abdullah yang sedang menjabat sebagai Gubernur untuk maju mencalonkan diri kembali tak usah diragukan lagi. Minggu, 7 Agustus 2016 ia mengantarkan 200 ribu KTP sebagai syarat maju sebagai bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur melalui jalur perseorangan dalam pilkada 2017.

Sebelumnya ia berpasangan dengan Muzakir Manaf melalui Partai Aceh, namun setelah ‘Plah Kongsi” Zaini  beralih haluan, Partai Aceh digunakan Muzakir Manaf, sementara Zaini yang berpasangan dengan Nasruddin (Bupati Aceh Tengah) menggunakan jalur Independen.

Zaini membawa dukungan KTP ke kantor Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh menggunakan satu truk interkuler. Di KIP, mereka diterima oleh sejumlah komisioner.

Tanggal 7 Agustus merupakan hari terakhir masa penyerahan dukungan bagi calon yang hendak maju melalui jalur perseorangan. Sesuai regulasi, agar bisa maju melalui jalur perseorangan, calon harus mengantongi tiga persen dukungan KTP dari penduduk Aceh atau sekitar 153.045 lembar.

Juru Bicara Zaini Abdullah dan Nasaruddin, Fauzan Febriansyah, menyebutkan, pihaknya membawa 201.150 lembar dukungan KTP.

“Dukungan ini tersebar di 23 kabupaten/kota atau 4.665 desa,” kata Fauzan saat berbicara kepada media di KIP Aceh, Ahad.

Zaini Abdullah merupakan pentolan Gerakan Aceh Merdeka, yang saat ini menjabat gubernur Aceh. Ia terpilih sebagai gubernur dalam pilkada 9 April 2012 setelah berpasangan dengan Muzakir Manaf, yang diusung Partai Aceh.

Di organisasi GAM, Zaini menduduku posisi Menteri Luar Negeri dan menjadi salah seorang juru runding dalam perundingan damai antara GAM dan RI di Helsinki, 2005. Ia merupakan tangan kanan Hasan Tiro, pendiri GAM.

Pada pilkada 2017 ini, Zaini memilih menggunakan jalur perseorangan –sebuah jalur yang pada pilkada 2012 lalu ditentangnya.

Zaini beralasan “karena bagi saya hanya ada satu partai, yaitu Partai Aceh.” Pada 2007 lalu, Zaini ikut membidani lahirnya Partai Aceh sebagai salah satu partai politik lokal. Namun, perbedaan pandangan dengan sejumlah petinggi lainnya, ia terpental dari posisi tuha peut Partai Aceh. Zaini akhirnya memilih mundur dari partai yang dibidaninya itu.

Keinginan maju untuk kedua kalinya dalam pilkada oleh Zaini disebut dengan “membawa harapan rakyat terhadap Aceh hingga 2022 dan semangat menjaga perdamaian”. (acehkita.com)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.