Header Ads

Tiga LBH Pantau Persidangan Kekerasan Anak di PN Lhoksukon

acehbaru.com | Lhoksukon- LBH Banda Aceh Pos Lhokseumawe, LBH APIK Aceh, LBH Trisila Lhokseumawe, dan P2TP2A Kabupaten Aceh Utara, serta beberapa LSM lain yang konsen terhadap perlindungan anak, Rabu, 27 Juli 2016 mendampingi dan memantau jalannya sidang penganiayaan terhadap anak berinisial Rk (17) yang dilakukan oleh Geuchik Gampong Meunasah Lhok, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara yang berinisial MT. Kamis, 28 Juli 2016

Fauzan, SH, LBH Banda Aceh Pos Lhokseumawe mengatakan sidang tersebut dibuka dan terbuka untuk umum oleh T. Syarafi, SH., MH selaku Ketua Majelis, Abdul Wahab, SH., MH dan Maimunsyah, SH.,MH, selaku Hakim Anggota dan M. Heriansyah, SH selaku Jaksa Penuntut Umum.

Sidang dengan agenda pemeriksaan saksi korban tersebut dimulai pada pukul 14.30 WIB. Dalam persidangan tersebut, saksi korban mengatakan bahwa Rk  telah dipukul terdakwa dengan menggunakan kursi plastik yang berada di warung kopi di Gampong itu. Kesaksian tersebut kemudian dikonfirmasikan Majelis Hakim kepada terdakwa.

Kemudian terdakwa mengakui bahwa dirinya benar telah memukul korban menggunakan kursi plastik di warung kopi tersebut. Hal ini terdakwa lakukan dengan alasan bahwa RK masih berada di warung kopi saat telah memasuki waktu magrib, lanjutnya.

“Menurut kami, apapun alasanya tindakan terdakwa yang memukul korban yang merupakan anak di bawah umur dengan kursi tersebut adalah perbuatan yang tidak patut di contoh dan tidak bisa dijadikan panutan. Karena untuk mengingatkan seseorang itu tidak harus dilakukan dengan kekerasan. Islam sendiri tidak mengajarkan hal tersebut, begitu juga dengan hukum yang berlaku di negara kita. Apalagi tindakan tersebut dilakukan terhadap seorang anak di depan umum oleh seorang aparatur gampong (Geuchiek),” Ujar Fauzan, SH selaku tim kuasa hukum korban yang juga merupakan koordinator LBH Banda Aceh Pos Lhokseumawe.

Menurutnya seharusnya anak dibina dengan teguran, bukan langsung dengan kekerasan  Tak hanya itu, berdasarkan keterangan saksi di bawah sumpah dalam persidangan tersebut menerangkan bahwa pemukulan dilakukan sebanyak tiga kali, dan korban mengalami luka berat.

“Kami dari tim kuasa hukum korban yang terdiri dari tiga lembaga akan terus mendampingi dan memantau perkembangan proses hukum terhadap terdakwa dengan harapan majelis hakim dan jaksa penuntut umum benar-benar bekerja semaksimal mungkin. Hal ini penting dilakukan tidak hanya untuk memperoleh keadilan bagi korban,” Tambah Fauzan

Selain kata Fauzan, kerja maksimal Majelis Hakim akan menjadi bagian dari pendidikan hukum bagi masyarakat secara umum, lebih-lebih kepada aparatur pemerintahan termasuk geuchiek gampong agar tidak mengedepankan tindakan kekerasan dan main hakim sendiri dalam penyelesaian masalah di masyarakat.

Kami juga meminta kepada pihak kepolisian untuk dapat melakukan pengawasan dan memberikan perlindungan bagi korban dan keluargannya, karena selama ini sering mendapatkan ancaman melalui SMS (Short Message Service) dan telepon. Selama ini kami tidak terlalu menanggapi ancaman tersebut, namun kami terus memantau.

Jika ancaman tersebut sudah di luar batas, maka kami juga tidak akan segan-segan untuk melaporkan kasus pengancaman tersebut.

“Ini negara hukum bos, semua tindakan akan dipertanggungjawabkan di depan hukum dan ada pihak berwajib yang akan menindaklanjuti laporan kami nanti”, ungkap Fauzan, SH. (ira

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.