Header Ads

Politik Transaksional Rugikan Rakyat

acehbaru.com | Aceh Singkil _Masyarakat Kabupaten Aceh Singkil kembali akan dihadapkan dengan "ritual" lima tahunan untuk memilih Bakal Calon (Balon) Bupati dan Wakil Bupati Aceh singkil pada 16 Februari 2017 nanti, pada saat itulah masyarakat akan menggunakan hak pilihnya untuk menentukan siapa yang pantas duduk di kursi Nomor satu untuk melayani masyarakat Kabupaten Aceh Singkil dalam lima tahun ke depan.

"Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak tahun 2017 akan di selenggarakan pada 101 Kabupaten Kota dan Provinsi yang ada di Indonesia", ungkap Yarwin Adi Dharma Ketua Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh Singkil dalam acara pelantikan PPS se-Aceh Singkil, Rabu (20/16), di Gedung Serbaguna Desa Pulo Sarok Kecamatan Singkil Kabupaten Aceh singkil.

"Setelah mereka dilantik diharapkan agar bekerja dengan sejujur jujurnya dan bebas dari interpensi pihak pihak yang menguntungkan golonga atau priadi" tambah Yarwin kepada acehbaru.com.

Mampukah para penyelenggara Pemilu untuk mensucikan politik transaksional dari belenggu tradisi ditatanan perpolitikan di Aceh Singkil. Mulai dari Komisi Independen Pemilihan (KIP), Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dan Panitia Pemungutan Suara (PPS) serta Kelompong Panitia Pemungutan Suara (KPPS) sebagai ujung tombak KPU, juga akan di bentuk sesuai dengan Undang Undang, begitu juga dengan Panwaslih, Panwascam dan PPL, mereka juga dibentuk untuk pengawasan Pemilu Serentak tahun 2017 mendatang, harapan masyarakat para penyelenggara ini akan menjalankan tugasnya dengan jujur, Adil dan tampa ada politik transaksional di Kabupaten Aceh Singkil.

Meski hingga saat ini partai politik maupun jalur perseorangan atau Independen belum juga menentukan Sikap siapa yang mereka usung untuk Bakal Calon Bupati dan Wakil Bupati yang akan bertarung merebut kursi no satu itu. Hal ini di sinyalir lantaran Aceh Singkil saat ini bukan hanya "termiskin dan tertinggal di Provinsi Aceh, namun juga kekurangan tokoh karasmatik" yang mampu meyakinkan partai politik untuk merubah Aceh Singkil kedepan lebih baik.

Untuk itu sudah saatnya masyarakat Aceh Singkil memilih sesuai dengan hati nurani dan rasionalitasnya. Jangan sampai masyarakat memilih Cabup-Cawabup hanya karena iming-iming uang dan janji belaka. Hal itu akan melukai rasa keadilan dan berdampak buruk bagi kepemimpinan Bupati lima tahun ke depan. Seharusnya Politik taransaksional (money politics) untuk membeli suara rakyat dalam Pilkada mendatang harus dicegah untuk kebaikan bersama.

Salah satu sebab praktik politik uang semakin marak di lingkungan masyarakat adalah para calon telah terbiasa membagi-bagikan uang kepada masyarakat sebagai bentuk shodaqoh politik. Hal tersebut dilakukan mulai dari pemilihan Kepala Desa sampai pemilihan Presiden. Istilah serangan fajar digunakan calon untuk memastikan kemenangannya dengan memberikan tambahan uang kepada masyarakat dengan cara dor to dor.

Tatanan sistem demokrasi, satu orang mempunyai satu suara (one man one vote) untuk menentukan pilihannya. Gagasan demokrasi langsung dalam setiap pemilu sejatinya dilatarbelakangi keinginan untuk menghindari jual beli suara.

Tujuannya untuk meningkatkan akuntabilitas publik calon terpilih. Akan tetapi, dalam praktiknya terjadi penetrasi demokrasi yang mengakibatkan hilangnya nurani publik dalam pemilu. Nurani dibeli dengan sedikit uang maka demokrasi semakin kehilangan makna.

Bahkan, dalam demokrasi langsung sebagaimana yang terjadi selama ini, politik transaksional atau biasa disebut praktik politik uang semakin tak dapat dikendalikan. Berbagai peraturan perundang-undangan yang melarang praktik haram itu seolah dibuat hanya untuk dilanggar.

Praktik politik transaksional dalam setiap pesta demokrasi itulah yang kemudian menyebabkan masyarakat tidak bisa membedakan antara penyelenggaraan mekanisme politik rasional dengan politik transaksional. Ini karena politik uang dalam momentum seperti ini seakan menjadi sebuah keharusan sehingga nurani politik mati lantaran kalah dengan iming-iming kekuasaan dan uang. Tidak ada yang bisa kita harapkan dari putaran politik uang dalam setiap Pilkada, sebab politik uang hanya akan merugikan masyarakat sendiri.

Pemilu di mana saja membutuhkan dana yang tidak sedikit. Di tengah suburnya politik uang dan mayoritas pemilih irasional, bisa jadi demokrasi langsung akan menguntungkan calon cabup-cawabup yang kaya atau yang didampingi kelompok bisnis tertentu.

Kita teringat dengan ungkapan Vedi Hadiz, sosiolog di National University of Singapore yang malah menduga ke depan kelompok bisnis bakal tergoda menguasai langsung institusi negara guna melindungi kepentingan bisnis mereka, tidak sekadar berpengaruh dalam struktur politik dan ekonomi. Konspirasi ini sangat kuat terjadi ketika pemilu sedang berlangsung. Namun, kita semakin membuka lebar peluang pebisnis untuk menguasai negara dengan menerima politik uang yang dilancarkannya Imbasnya, pebisnis yang akan mengendalikan jalannya pemerintahan.

Pemerintah hanya manut dan patuh atas apa yang diperintahkan pebisnis tersebut. Inilah kekeliruan nalar pikiran kita dengan menerima politik uang tersebut. Kepentingan jangka pendek diprioritaskan dengan tidak memperhatikan kelangsungan dan efek jangka panjangnya.

Kita tentu mengenal teori “pemburu rente” yang sering kali bersinggungan dengan politik dan ekonomi. Teori ini menjelaskan hubungan antara pengusaha dan birokrasi atau pemerintah. Pengusaha selalu mencari privilege dari pemerintah dalam bentuk lisensi, kemudahan, proteksi, dan sebagainya, untuk kepentingannya. Praktik ini menimbulkan biaya sosial dan ekonomi publik yang besar karena masyarakat luas diabaikan kepentingannya.

Letak Geograpis Kabupaten Aceh Singkil yang strategis terdiri dari pegnungan rawa Singkil daratan dan gugusan kepulauan banyak yang terkenal dengan keindahannya menjadikan Aceh Singkil Banyak diincar inspestor untuk mengembangkan sayap mereka inilah yang menjadi Persoalan dan patut diwaspadai Masyarakat.

Saat ini Aceh Singkil sangat membutuhkan Pemimpin yang mampu merubah Aceh Singkil menjadi lebih baik serta mampu mengeluarkan Singkil dari kemiskinan dan ketertinggalannya bukan hanya mencari Pemimpin yang mencari keuntungan pribadi dan golongan.(Wan).

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.