Header Ads

Ini Keterangan RSUD Singkil terkait dugaan Malpraktek terhadap Ibu dan Anak

acehbaru.com | Aceh Singkil_Terkait dugaan malpraktek yang menyebabkan meninggalnya Nurli (30) dan luka sayatan di kepala bayinya usai menjalani operasi ceasar di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aceh Singkil, Jum'at 10 Juni 2016 lalu dibantah oleh pihak rumah sakit.

Dalam konfrensi Pres di Gedung  RSUD Aceh Singkil dr. Eko Saputra Anugroho selaku Kepala Direktur RSUD Aceh Singkil mengatakan, Kamis, 14 Juli 2016 proses operasi yang dilakukan sudah sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku, sehingga dirinya membantah adanya malpraktek yang terjadi dalam proses operasi sebagaimana kabar yang beredar lewat media sosial, sambil menunjukan selembar kertas yang berisi foto bayi yang diunggah di media Sosial itu. BACA JUGA :Diduga Malpraktek Operasi Caesar di RSUD Singkil, Bayi Tergores dikepala, Ibu Meninggal dunia

"Prosesnya sudah dilakukan sesuai SOP, ditangani oleh dokter kandungan, Pranata Anastesi yang kompeten dan ada juga dokter anak, jadi tidak ada malpraktek yang kami lakukan" ujar dr. Eko didampingi dr. Sugeng, SPoG dan beberapa dokter lainya.

Penyebab meninggalnya Nurli (30) dua jam pasca operasi yang diduga akibat adanya tindakan medis yang tidak sesuai SOP, diantaranya bentuk operasi seperti huruf T (garis bedah horizontal dan vertikal-red) sebagaimana yang dikatakan keluarga pasien lewat pengacaranya. dr.Sugeng,SPoG yang menangani operasi caesar tersebut membantah melakukan dua kali pembedahan, insisi yang dilakukannya hanya insisi melintang (Pfanentiel).

"Insisi yang saya lakukan melintang, sementara dibagain dalam low servikal, saya tidak melakukan insisi vertikal bisa dilihat di catatannya. Itu garis perut (liner alba) saat hamil garis itu terlihat jelas, jika dilihat sepintas memang mirip jahitan apalagi pada orang yang berkulit hitam,"kata dr. Sugeng.

dr.Sugeng menambahkan saat dirujuk ke rumah sakit, kondisi pasien sudah buruk secara medis, keadaan demam, leukosit mencapai 26.900 yang mengindikasikan adanya infeksi serius. Selain itu air ketuban yang pecah juga telah bercampur dengan fases bayi. Kondisi itu lantaran dua hari sebelum dirujuk pasien mengalami Partus Tak Maju (PTM) atau proses persalinan yang tidak menunjukan pembukaan pada serviks.

"Waktu datang kondisinya sudah lemah, jika dirujuk maka akan membahayakan ke duanya sehingga atas persetujuan keluarganya kami lakukan operasi sampai proses selesai, namun pasien tidak bisa melewati masa kritis, saya hanya berusaha melakukan yang terbaik untuk menolong,"Ungkap dr.Sugeng.

Sedangkan terkait luka berbentuk sayatan di kepala bayinya, kata Sugeng itu bukan merupakan luka sayatan, namun luka itu terjadi kemungkinan akibat PTM yang sudah berlangsung dua hari ditambah adanya infeksi pada rahim membuat kepala bayi yang terjepit dijalan lahir. Sebab saat dilakukan diagnosa awal pembengkakan kulit kepala pada bayi (Caput succedaneum) sudah tingkat empat.

"Ketika kami diagnosa kondisinya caput empat dan saat kami bedah sudah lima, caput itu kepalanya berbentuk seperti sanggul. Karena adanya gesekan pada tulang kemaluan dan ibu yang terus mengejang menyebabkan luka dan infeksi. Kalau sayatan bentuknya pasti reguler, bukan ireguler seperti itu," terangnya.

Dibagian akhir klarifikasi itu, managemen RSUD berharap dugaan malpraktek tersebut tidak sampai mempengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan mereka, apalagi saat ini pihaknya sedang membangun kepercayaan itu.

"Saya pastikan ini bukan malpraktek. Kami berharap jika ada hal-hal seperti ini dapat diklarifikasi ke kami, saat ini kami sedang membangun kepercayaan masyarakat jangan sampai ini menimbulkan kecemasan. Mendatangkan dokter spesialis tidaklah mudah jangan sampai tidak ada lagi yang mau datang kemari," ujar dr.eko. (Wan)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.