Header Ads

Demi Cita-cita Puluhan Siswa berjibaku menentang maut kesekolah

acehbaru.com | Aceh Singkil - Hari itu masih terlihat gelap sinar mentari juga masih samar-samar menerangi alam semesta ini, saat itulah Puluhan Siswa siswi berseragam Pramuka dan sepatu ditenteng saat hendak menuju perahu dayung yang sangat kecil dengan kapasitas 3 sampai 4 orang, Jum'at 15 Juli 2016

Siswa Sekolah Dasar asal Desa Ujung Limus, Kecamatan Simpang Kanan, Kabupaten Aceh Singkil itupun harus mempertaruhkan nyawa untuk mencapai sekolahnya di SD Negeri 1 Lipat Kajang Bawah, Kecamatan Simpang Kanan.

Tangan kekar bocah itu perlahan namun pasti mulai mendayung perahu melawan derasnya arus Lae Cinendang yang lebarnya mencapai ratusan meter, tak dapat dipungkiri demi ilmu dan cita cita kenyataan pahit dan menentang maut harus mereka jalani, para bocah-bocah tangguh itu berjuang melawan arus, dengan satu harapan sampai ke sekolah tepat waktu.

Usai mengarungi sungai, mereka harus kembali memeras keringat menapaki tebing yang terjal dan curam. Takjarang kaki-kaki kecil mereka terpeleset dan jatuh lantaran tebing yang terbuat dari batu beronjong itu licin.

Namun bukan hanya itu mereka juga harus berjalan seratusan meter untuk mencapai sekolah. Sungguh fenomena yang menyesakkan dada bagi siapa saja yang melihatnya.

Begitulah rutinitas setiap pagi dan jam pulang sekolah yang harus dijalani Eka yang masih duduk dibangku kelapa 3 yang didampingi temannya, ia mengaku demi mengejar cita-cita untuk menjadi dokter. Cara itu terpaksa ia jalani lantaran di Desa Ujung Limus hingga kini belum ada sekolah.

"Kami harus rela menyeberangi sungai menuju sekolah terdekat di Lipat Kajang Bawah ini" imbuh Eka.

Jika dilalui dari jalan darat ada juga Sekolah Dasar SD Di Desa tetangga yaitu Desa Silatong Tapi jaraknya jauh, hingga mencapai 2 kilo meter para siswa yang hendak bersekolah harus menempuh dengan sepeda motor, namun karena paktor ekonomi para penduduk  Desa Ujung Limus rata rata memiliki  perahu kecil sebagai alat trasportasi.

"Ada juga SD di Desa Silatong. Tapi jaraknya jauh. Kalau pakai kereta (sepeda motor-red) baru bisa, kalau jalan kaki jauh," tambah Eka.

Langkah mereka menuju sekolah baru akan terhenti manakala banjir datang melanda. Saat banjir baik orang tua maupun guru mereka tak akan mengizinkan bocah-bocah itu sekolah. Sebab arus sungai sangat deras sehingga sangat membahayakan nyawa mereka. (Wan).

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.