Header Ads

Kisah Pemain Eropa, Lama Ditinggal Orang Tua Kembali Ke Indonesia

acehbaru.com | Jakarta - Radja Nainggolan, pencetak gol penyelamat Belgia saat melawan Swedia pada Rabu malam lalu, adalah sebuah fenomena. Di Antwerpen, Belgia, ketika Radja baru memulai kariernya di dunia sepak bola, tak banyak yang tahu bahwa Radja keturunan Indonesia. “Saya pikir dia orang Maroko,” kata Henk Mariman, mantan manajer klub junior Germinal Beerschot, tempat Radja dulu pernah ditempa.

Di klub ini pula, sejumlah pemain tim Les Diables Rouges pernah bernaung, seperti Mousa Dembele, Toby Alderweireld, dan Jan Vertonghen. Henk mengingat Radja karena posturnya yang kecil dibanding rata-rata anak-anak setimnya di Beerschot.

“Dia masuk Beerschot sejak umur 9 tahun, tapi bermain bola sejak umur 4 tahun,” kata Mariman, yang dulu ditemui Tempo di kantornya, lapangan Germinal Beerschot, Antwerpen. “Meski posturnya kecil, Radja itu dominan di lapangan. Coba saja beri bola ke dia, bola itu tidak akan pernah berpisah dari kakinya,” kata Mariman yang mengingat Radja sebagai pemuda pemberontak dan agak sulit diatur.

Dengan postur tubuh yang kecil, Radja juga dianggap punya kelemahan ketika harus menyambut bola di udara. Kondisi fisik ataupun reputasinya sebagai anak liar yang sulit diatur di lapangan ini sempat menjadi salah satu kendala bagi Radja untuk dipertimbangkan serius dalam klub profesional.

Namun Mariman mengakui teknik permainan Radja yang sering dijuluki El Guerroatau Ninja ini memang mengagumkan. “Dia punya bakat alami, tekniknya bagus,” kata Mariman. Sampai kemudian Club Piacenza Calcio menemukan pemuda dengan tinggi 170 cm ini.
Bergabung dengan Piacenza juga tidak pernah dibayangkan oleh Radja. Maklum, sebelum ke Piacenza, Radja belum pernah keluar dari Belgia. “Pada bulan pertama Radja di Piacenza, dia sering menelepon dan menangis karena rindu pulang,” kata Mariman. Apalagi Radja tidak bisa berbahasa Italia.

“Saya bilang kepada dia, itu keputusanmu sendiri untuk ke sana. Saya tidak bisa membawa kamu pulang karena kamu sudah menandatangani kontrak,” kata Mariman. Waktu itu, Radja memang masih tercatat sebagai anggota di Germinal Beerschot yang dipinjamkan kepada Piacenza selama satu tahun pada Agustus 2005.

Tempo sempat mewawancarai Radja via telpon pada November 2006 ketika ia masih berlatih di Piacenza. Ketika itu, Radja masih remaja tanggung berumur 17 tahun, yang berusaha memastikan masa depannya di dunia sepakbola profesional.

Radja mengakui awalnya sulit beradaptasi dengan kondisi Piacenza, terutama karena halangan bahasa. “Tapi sekarang saya bersyukur memutuskan untuk ke sini, karena di sini saya menyadari pentingnya menjadi pemain profesional,” kata Radja, yang juga memutuskan untuk meninggalkan bangku sekolah agar bisa total di bola.

“Saat ini saya memang main di tim kedua, tapi latihannya tiap hari dengan tim utama,” kata Radja terdengar bangga. Menurut dia, kontraknya di Piacenza akan diperpanjang lagi selama dua tahun.

“Mungkin tahun depan saya akan mendapat gaji kalau mereka jadi membeli saya dari Beerschot,” kata Radja, yang kala itu belum berlumuran tato. Pada tahun yang sama, sempat beredar rumor bahwa Indonesia sedang mencari pemain-pemain berdarah Indonesia untuk masuk dalam tim nasional.

Namun, sejak awal, Radja tidak pernah ragu untuk menjadi bagian dari tim nasional Belgia. “Saya ingin menunggu tawaran dari Belgia. Kalau sampai tahun depan tim nasional Belgia tidak menawari saya main, saya mungkin akan mempertimbangkan untuk main di tim nasional Indonesia,” kata Radja kala itu.

Keinginan Radja untuk ke Indonesia justru bukan karena alasan ingin main dengan tim nasional Indonesia. “Saya ingin bertemu dengan ayah,” katanya.

Maklum, Marius Nainggolan, ayah Radja, meninggalkan Belgia ketika Radja dan Riana --saudara kembar Radja-- masih berusia 5 tahun. Dalam salah satu program televisi lokal, Radja berkisah bagaimana ibunya, Lizzy, harus bekerja siang-malam untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

“Tanpa ayah, ibu terpaksa bekerja nonstop dan saya bersama Riana berusaha untuk tidak terlalu membebaninya,” tutur Radja. Kematian ibunya pada 2010 ketika Radja masih berusia 20 tahun menjadi pukulan sangat berat bagi Radja, yang kala itu baru mulai menapaki kariernya sebagai pemain bola profesional.

“Saya bahkan tidak tahu bahwa ibu sakit. Ibu melarang Riana untuk menceritakan kondisi kesehatannya. Ibu takut, kabar sakitnya akan mengganggu konsentrasi saya di klub,” kata Radja dengan mata berkaca-kaca. Setahun setelah kematian ibunya, Radja memutuskan untuk menikahi Claudia, seorang gadis Italia yang dikenalnya di Cagliari, Sardinia, ketika ia masih bermain di klub Seri A Liga Italia tersebut.

Demi mengabadikan sang ibu, Radja membuat tato sayap di punggungnya lengkap dengan nama ibunya dan tanggal kelahiran serta kematiannya. Sejak kematian sang ibu, Radja kemudian berusaha mempertanyakan kembali peran sang ayah.

Pada Juni 2013, ketika ia sudah menandatangani kontrak dengan Cagliari, Radja bersama istri dan anaknya, Aysha, akhirnya berkunjung ke Indonesia untuk pertama kali dalam hidupnya.

“Tiba-tiba setelah berpuluh tahun gagal membangun komunikasi, ayah saya ada di depan mata. Ia berusaha menjelaskan alasannya mengapa ia meninggalkan kami. Tapi, bagi saya, semua yang dia katakan tidak masuk akal. Ia terus bicara dan bicara. Tapi, selama itu, saya hanya memikirkan ibu saya dan bagaimana ibu berjuang untuk menyambung hidup kami,” kata Radja yang waktu itu sudah resmi bergabung dengan tim Setan Merah Belgia.

Sejak itu, Radja seperti ingin melupakan saja episode pahitnya dengan sang ayah dan berkonsentrasi penuh membangun keluarganya sendiri.

Namun Radja tidak pernah berhenti untuk terus ingin membuktikan diri baik di klubnya, AS Roma, maupun di tim nasional Belgia. Setelah bertahun-tahun, Radja tetap merasa lebih dihargai di Italia ketimbang di negerinya sendiri.

“Di Belgia, mereka tidak memberi kepercayaan penuh kepada saya untuk bermain seperti di Italia,” kata Radja.

Maklum, hubungan Radja dengan Marc Wilmots, pelatih tim nasional Belgia, sempat menegang, khususnya setelah Piala Dunia 2014 di Brasil, ketika Radja hanya masuk dalam daftar pemain tunggu.

Bagaimanapun, terlihat jelas perubahan yang nyata dari remaja tanggung 17 tahun yang masih ragu akan nasibnya di negeri orang hingga menjadi Radja Nainggolan berumur 28 tahun yang terlihat sangat matang di rumput hijau. Marc Wilmots tentunya sadar akan hal tersebut.

Dari segi profesionalisme, karena merasa lebih diterima di AS Roma, Italia, Radja enggan menerima rayuan Antonio Conte, pelatih tim nasional Italia sekaligus pelatih baru di Chelsea, untuk bergabung pada musim panas tahun ini.

Kemenangan 1-0 Belgia atas Swedia berkat tendangan Radja pada Rabu lalu adalah tendangan yang memastikan posisinya sebagai pemain yang akan lebih dihargai di Belgia sekaligus memastikan bahwa ia akan menjadi rebutan klub-klub nomor satu di Eropa. (tempo.co)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.