Header Ads

Investor Dulu dan Setelah PLTMG Arun

acehbaru.com - Harapan tentang kehadiran Investor untuk menanam modal di Propinsi Aceh sangat berdengung pasca damai 2005 hingga 2013,  dalam pidato Gubernur, Wakil Gubernur, Walikota hingga Bupati sering terdengar bahkan itu menjadi idola bathiniah baru khususnya bagi masyarakat.

Jualan dengan kata kehadiran investor,  Aceh akan maju dan tersedia lapangan kerja bagi putra–putri daerah ini sempat lama menjadi bacaan menarik ketika ditulis lebar -lebar media lokal. Namun perlahan mulai  tidak populer lagi dikalangan masyarakat.

Semangat pejabat daerah dalam menyuarakan dan mengundang investor seakan menjadi bahasa wajib pada masa itu. Dimana saja acara resmi maupun kampanye Pilkada,  kata mengundang investor selalu saja menjadi bagian kata menarik untuk disampaikan.

Namun beriring waktu para Investor baik dari luar negeri maupun maupun dari seberang pulau yang berkulit hitam maupun putih atau coklat hanya nampak sekilas,  tak nampak wujud nyata, hingga perlahan bahasa itu menjadi lelucon dikalangan masyarakat.

Setiap kali ada acara pemerintah, selalu saja menjadi pertanyaan apakah ada investor hari ini? Bahkan lebih dari itu karena keseringan mendengar dan membaca kata itu, masyarakat sudah berubah bacaannya dari Investor yang seharusnya pakai O berubah menjadi Invester yang digantikan dengan E.

Penelitian sederhana menyebutkan perubahan sikap masyarakat ini dipengaruhi oleh berbagai fakta dilapangan, kemunculan publikasi besar tentang investor yang banyak terjadi hanya sekali tayang, banyak tak berlanjut dengan pelaksanaan, dianggap salah satu penyebabnya.

Salah satu contoh soal pelabuhan –pelabuhan yang semula menjadi titik sorot sebagai gerbang untuk meningkatkan perekonomian Aceh pasca damai, dengan cita-cita ekport –import, baik barang masuk dari luar negeri ataupun hasil bumi yang diangkut keluar negeri, kesan lebih meriah seremoni, ketimbang aktivitasnya.

Mungkin ini hanya cerita awal, pada 2006 Perusahaan yang menggunakan bendera Aceh World Trade Center (AWTC) Dagang Holding Sdn. Bhd. ini menggandeng ASDP Malaysia Sdn. Bhd juga sempat merintis bisnis pelayaran Lhokseumawe – Penang Malaysia, namun kegiatan ini juga tak bertahan lama.

Pada 2009 sebuah Perusahaan Malaysia,  yang bergerak di bidang perkapalan, akan mendukung kegiatan ekspor impor di Provinsi Aceh. Kapal   berkekuatan 1.588 GT yang mampu menampung 140 peti kemas berukuran 20 “feet” yang rencanaya akan berlayar 4 kali sebulan ke Pelabuhan Kreung Geukuh Lhokseumawe, namun ini juga  tak berlanjut.

Kemudian pada tahun  2013 Pemerintah Kota Langsa dengan Katatrade SDN.BHD merintis pelayan Pelabuhan Kuala Langsa–Penang Malaysia. Kala lounching perdana begitu meriah.

Kabar burung kegiatan seremoni itu menghabiskan uang ratusan juta itu, juga dibarengi semangat –semangat dari pengambil kebijakan lainnya. Misalnya  saat sambutan Wakil Gubernur Muzakkir Manaf, Muzakkir menyebutkan pelayaran Perdana Kuala Langsa menuju Penang Port Pulau Penang Malaysia, dengan Kapal Ferry Kenangan 3 itu adalah langkah awal dalam rangka mencapai Kuala Langsa menjadi pelabuhan Internasional.

Beberapa politisi yang ikut hadir juga tak kalah menyemangati dan langsung menyebutkan bahwa Langsa ada gerbang ekonomi Aceh. Pada rapat sebelumnya juga menarik, saat Walikota Usman Abdullah alias Toke Seuem memaparkan rencana ini, langsung saja Dinas perhubungan Propinsi menyambung jalan, dengan menyatakan dukungan dengan akan membangun rel dari Besitang ke Kuala Langsa.

Lagi-lagi kemeriahan itu  tak bertahan lama, pelayaran terakhir sekitaran Maret  tahun  2014 dari Kuala  Langsa dengan tujuan Penang nyaris menuai petaka. Jantung penumpang tiba-tiba seperti getaran kilang padi mini di desa-desa.

Ferri sewaan pemerintah Kota Langsa mendadak mati mesin di Selat Malaka. Ferry terapung –apung penumpang tanpa dikomando melafatkan kalimat-kalimat Allah ditengah menahan mual dan lemas akibat goyangan ombak besar.

Untung saja kala itu, sejumlah negara di kawasan sedang sibuknya mencari pesawat MH370 milik maskapai Malaysia Airlines yang hilang, pencarian itu sampai ke Selat Malaka. Di Indonesia TNI AL terlibat menyisir laut –harap-harap mendapat kepingan pesawat yang hilang kontak dalam penerbangan dari dari Kuala Lumpur tujuan Beijing, Cina, Sabtu dinihari, 8 Maret 2014 lalu.

Ferry Langsa –Penang sedang sekarat, mesin dalam kondisi mati Seluruh penumpang panic. ,“Untung na kapal TNI yang tengoh seutot pesawat Malaya, kabeh panik mandum,” Ujar seorang jurnalis yang ikut yang ikut dalam pelayaran itu.

Kapal TNI itu menolong dengan cara menarik kapal Ferry tersebut ke Pusong Langsa. Setelah dari sana sejumlah penumpang diangkut dengan kapal nelayan kedaratan Kuala Langsa. “That gawat kapai mate mesin, mandum panik,  ha..ha, “ Tambah sumber acehbaru.com mengisahkan kejadian itu.

Pasca kejadian itu, kapal Kenangan 3 tersebut benar-benar meninggalkan kenangan. Kapal sewaaan dari Penang tersebut tak pernah muncul lagi diterminal Ferry Kuala Langsa. Ada yang menyebutkan kemacetan itu disebabkan pengelola Bisnis Kapal Pemko Langsa tersendat melakukan pembayaran uang sewa kapal kepada pemilik kapal, hingga investor yang terlibat kerja sama itu pun kabur.

Beriring waktu, kata –kata Investor semakin jarang terdengar, entah tidak ngetren lagi atau promotor  sudah ada kesibukan lain. Atau memang kondisinya memang tidak mujur, dari sekian gaetan investor luar, nyaris tak ada yang jadi.

Kecuali kegiatan pertambangan dan perkebunan yang justru banyak menimbulkan masalah dengan masyarakat. Sementara pembangun Terminal Gas Arun, dan pemasangan pipa dari Lhokseumawe untuk mengalirkan  gas ke Belawan boleh dibilang pelakunya adalah pemerintah pusat.

Ditengah meriahnya cerita investasi, dan kehadiran investor serta harapan lahir lapangan kerja dari sektor industry. Kala itu Aceh dan kemarin juga bermasalah dengan distribusi arus listrik yang macet, sistem pemadaman bergilir bisa juga masuk satu alasan dari sekian alasan Investor kurang minat menanam investasi di Aceh

Karena bisa dibayangkan ketiadaan arus listrik dapat menghambat semua kegiatan, dan daerah yang gelap tanpa terang benderang listrik juga dapat dianggap daerah tersebut tidak maju. Kemajuan disatu sisi dapat dinilai dari gemerlap, lampu.

Kini (Kamis, 02 Mei 2016)  PLTMG Arun telah diresmikan. "Alhamdulillah kerja keras PLN dalam upaya menyelesaikan pembangunan PLTMG Arun akhirnya bisa dinikmati seluruh warga, kami sangat berharap dengan beroperasinya Arun, bisa menjadi daya tarik investor untuk terus mengembangkan sektor ekonomi, industri dan pariwisata di Sumatera," Ujar  Dirut PT PLN (Persero) Sofyan Basir

Lagi-lagi harapan pada Investor, tapi dalam skala luas yaitu Sumatera. Lalu kita perlu bertanya pada rumput bergoyang atau sama siapa saja yang memberikan peluang kita bertanya. Bagaimana dengan Aceh?  (em)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.