Header Ads

Pidato Heroik MoU Tgk Nie, Diduga Hina Presiden Berbuntut Panjang

acehbaru.com | Aceh Utara - Pidato penuh semangat Ketua KPA Wilayah Pase, Tgk Ni yang sempat dielukan oleh penontonya pada acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kantor DPW Partai Aceh (PA), Geudong, Aceh Utara, Kamis 7/4 berbuntut panjang. Kata-kata yang diduga menghina Presiden Jokowi telah sampai ke tangan kepolisian.

Pada, Jumat, 29 April 2016, Direktorat Reserse Kriminal Umum (Dit Reskrimum) Polda Aceh mengaku  sedang menyelidiki kasus penghinaan tersebut dengan memanggil empat panglima KPA Sagoe dari Pasee yang ditetapkan sebagai saksi.

“Kita sudah memanggil empat panglima sagoe ya, namun baru satu orang yang menghadap ke kita. Tiga orang lainnya belum hadir dan belum ada alasan yang jelas kenapa tidak hadir. Kita akan siapkan surat panggilan lagi nantinya untuk saksi-saksi yang sudah kita tetapkan ini,” kata Dir Reskrimum Polda Aceh, Kombes Nurfallah saat diwawancarai wartawan di Mapolda Aceh, Jumat kemarin, sebagaimana dikutip dari laman Serambi Indonesia

Sebagai kelanjutan, pada Jumat 6 Mei 2016, polisi memanggil ahli bahasa dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh. Ahli bahasa diperlukan agar isi pidato yang diduga menghina Presiden dalam rekaman video yang beredar di internet itu bisa diterjemah ke dalam bahasa Indonesia, karena pidatonya disampaikan dalam bahasa Aceh BUKA VIDEONYA

Terkait dengan pemanggilan empat Panglima Sagoe KPA wilayah Pase, saat pertama hanya MD yang datang, dalam keterangannya, MD mengaku ia tidak hadir dalam acara peringatan Maulid kemudian datang dua orang lagi mereka mengaku hadir dalam kegiatan itu.

“Namun, kepada kita mereka mengaku saat itu tidak terlalu fokus dengan pidato yang disampaikan Tgk Ni, karena sedang dalam tugas kepanitiaan, misalnya, mengurus konsumsi. Satu orang lagi tidak bisa memenuhi panggilan kita, karena sakit,” sebut Nurfallah.

Sementara itu Tengku Nie Sabtu, 30 April 2016, pada media online portalsatu.com mengaku tidak ada niat menghina presiden, katanya pidato maulid yang tidak terkonsep itu kalimatnyapun  muncul secara spontan akibat kekesalannya kepada pemerintah yang hingga kini dinilai tak kunjung merealisasikan butir-butir MoU Helsinki secara menyeluruh.

Pun itu hanya  kata –kata spontan, pastinya pidato Maulid dengan semangat heroic  Mou itu telah melebar dan berbuntut panjang. Bahkan polisi sedang melihat apakah isi dan kata yang tersampaikan terkait tidak dengan  Pasal 108 dan Pasal 160 KUHPidana tentang penghinaan.

Kini, Polisi tinggal menunggu keterangan ahli bahasa.   “Jika setelah kita panggil dua kali tidak datang, mungkin akan kita jemput,” Kata  Kombes Pol Nurfallah. (lia)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.