Header Ads

Kondisi Eks Militer GAM Jelang Pemilihan Gubernur Aceh Baru

Garis (geunareh) perjuangan (brainwash) ideologi Aceh merdeka sayup-sayup masih terdengar dalam meyakinkan sosok bakal calon gubernur 2017-2022 kepada mesin kampanye paling bawah dikalangan mantan militer gerakan Aceh merdeka (GAM) yang mayoritas berpendidikan sangat rendah.

Keyakinan kelanjutan perjuangan untuk merebut kedaulatan Aceh yang sudah jelas bahkan sudah wajar disebut mimpi disiang bolong dikalangan berpendidikan, masih menjadi harapan cerah dan digunakan elit GAM untuk mendapat dukungan eks GAM bawah, yang kebanyakan sangat berani karena awam dan lapar menjelang pesta politik untuk merebut suara.

Kehancuran partai Aceh sudah terlihat sejak tahun 2014 dimana perolehan kursi di parlemen makin menyusut deras. Dan perolehan suara yang terus berkurang tersebut menurut mantan gerilyawan gam lebih disebabkan oleh anggota dewan dan atau pemimpin terpilih itu sendiri. Mereka dikatakan sok dan tidak terlalu open kepada kawan seperjuangan waktu susah dihutan.

Dewan terpilih tidak terlalu merawat basis suara, mereka cenderung lebih mesra dengan kawan baru, pacar baru, istri baru, milih narkoba gaya baru, rumah dan usaha baru diluar Aceh, atau cenderung mencari titik aman.

Untuk kawan dikampung-kampung cukup menebar senyuman dan segelas kopi diwarung Apa Kaha, segelas cuma seribu rupiah. Mereka lebih memilih "menyiram" merawat jaringan baru ketimbang menjaga basis suara.

Daerah Pemilihan cukup diberikan sedikit dana aspirasi untuk pembangunan fasilitas umum, "itupun bagi dua, setengah untuk proyek dan sisanya untuk pemilik aspirasi. Kebanyakan aspirasi tidak digunakan untuk program produktif bin sustainable.

Mantan kombatan dilapangan tidak terawat, “hana soe pakoe, meutiek-tiek beh kamoe, hai dum pangtup manteng hana sakjan jihle ipeugah bak tanyoe, tajak lom keunan takeubah aneuk peureumoh teuh igampong ek ubanda? Ireumoh deuk aneuk teuh tajak peuleumak boh panglima” kata mantan pejuang.

Pemerataan kesejahteraan kesesama tentra Wali selalu terhambat oleh sifat individual GAM itu sendiri, mulai dari yang paling besar tidak dapat dipercaya sampai ulee sagoe selalu membawa pulang bungkoeh yang sudah berkurang karena sifat catoek jalan sehingga sebagian disimpan untuk pribadi.

Sehingga, kebanyakan eks gam kini sudah memilih untuk apatis disamping sebagian memanfaatkan moment tertentu untuk mencari sesuap nasi.

hana cara le, itanyoe tabantu awak gam, tapileh ngen harapan minimal bek sampe takalon le gam igampoeng tanyoe teutahe-tahe hana peng, wate makmeugang, uroe raya sayang teuh takalen, tapi ban ka meunang jih hana meujiperemen pih, hana cara le jangankan ijak peusejahtra rakyat 4 juta, meusabe-sabe droeih manteng na yang gasien papa, pue tapike lom, hana cara” kata warga dikampung-kampung.

“tapi awak nyan barotroek jih lom wate karap Pemilu, lheuh nyan itanyoe hana sapueteuh pih le” kata eks militer GAM.

Apatisme sikap individual mantan pemanggul senjata terlihat hampir disemua bakal calon peserta yang bakal “berperang” dalam pesta politik tahun 2017 ini ada eks militer GAM. Mereka yang lapar ini makin hari tambah sadar atas apa yang mereka lakukan selama ini ternyata disia-siakan oleh atasannya. (Baca: Pengkhianat, GAM dan Hak Rakyat Aceh)

Kini, perbedaan pilihan atau dukung mendukung bakal calon yang akan bertarung dalam Pilkada 2017 nantinya bukan suatu hal yang menjadi masalah hingga harus berperang sesama kombatan.
“ini kesempatan, kita cari uang jadi perbedaan itu biasa lebih indah, Leumoe groep paya guda coet iku, awak nyan reuboet garuda keupu tanyoe karu?” sebut Timses inti Mualem saat ngopi bareng dengan pendukung inti Zaini Abdullah, yang juga ngefans sama Irwandi.

Semoga saja dalam pemilihan kepala daerah kali ini tidak ada yang harus diteror, diintimidasi, apalagi harus mati dieksekusi untuk misi apapun. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.