Header Ads

Bawang Merah Pemberdayaan Bank Indonesia Lhokseumawe Panen Perdana

acehbaru.com | Lhokseumawe – Bawang merah dibebearpa cluster di Aceh Utara hasil Perberdayaan petani yang dilakukan Bank Indonesia mulai dipanen. Rabu, 4 April 2016

Yufrizal Kepala Perwakilan Bank Indonesia Lhokseumawe mengatakan penanaman bawang merah dilakukan di dua claster masing-masing Desa Ule Nyeue kecamatan Banda Baro dan Desa Meuria Paloh Kota Lhokseumawe.

Dia menyebutkan pengembangan bawang merah ini tidak terlepas dari hasil kajian ;

Pertama, Bawang merah merupakan salah satu tanaman umbi bernilai ekonomi tinggi. Ditinjau dari fungsinya sebagai bumbu penyedap masakan, hampir semua masakan Indonesia dan khususnya Aceh menggunakan bawang merah dalam pembuatannya. (Contoh jih mie Aceh, wate digureng ka dipake bawang, wate ka masak pih pake bawang dalam bentuk acar, martabak, karie kameng)

Kedua, Tingkat konsumsi yang tinggi, tapi Aceh punya sentra produksi bawang merah yang dapat memenuhi kebutuhan seluruh Aceh, sehingga kita memiliki tingkat ketergantungan yang sangat tinggi kepada Brebes sebagai sentra bawang nasional. Dalam beberapa minggu terakhir ini, kita mengikuti berita di media massa adanya pemusnahan bawang merah impor secara illegal yang mengindikasikan tingginya permintaan bawang merah namun belum dapat diimbangi dengan pasokan sehingga ada pihak tertentu yang memanfaatkan keadaan tersebut secara illegal.

Ketiga,  Prospek agribisnis bawang merah saat ini cukup baik, hal ini ditunjukkan oleh permintaan konsumen yang cukup tinggi. Bahkan permintaan dapat melonjak tajam terutama menjelang hari raya keagamaan, namun karena tidak diimbangi dengan pasokan yang cukup, sehingga mempengaruhi ke laju inflasi.

“Data  BPS menyebutkan komoditas Bawang Merah termasuk 8 komoditas penyumbang inflasi di Kota Lhokseumawe dan sekitarnya dengan kontribusi terhadap inflasi rata-rata sebesar 0,05 % s.d 0,30 % yoy sejak 3 tahun terakhir,” Ujar Yufrizal Kepala Perwakilan Bank Indonesia Lhokseumawe.

Yusrizal berharap kehadiran Claster bawang merah di Desa Ulee Nyeu ini dapat menjadi inspirasi dan media pembelajaran bagi petani yang dan selanjutnya dalam jangka panjang dapat direplikasi di wilayah lain pada skala yang lebih luas.

Dengan demikian, dalam jangka panjang akan dapat mengurangi ketergantungan bawang merah dari Brebes. Kita bisa membayangkan kalo satu komoditas saja, misalnya bawang merah, bisa kita putuskan rantai ketergantungannya dari daerah lain, berapa banyak perputaran roda ekonomi di daerah kita sendiri dan juga diikuti oleh penyerapan tenaga kerja.

“Kalau Brebes bisa memproduksi bawang, Aceh Utara dengan lahannya yang luas dan subur, tentunya juga bisa, bahkan kami berharap Aceh Utara ini bisa menjadi sentra bawang untuk Aceh dan juga Sumatera,” Katanya. (ira)

 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.