Header Ads

Sinar Pagi di Kampung Kita

Kampung kita adalah sebuah Gampong diatas langit yang indah disiang ataupun malam hari. Kampung kita memiliki pemandangan sangatl indah dari letak geografisnya. Bentangan sawah ditengah, sebelah timur dikelilingi perbukitan yang terdiri dari glee dan lampoeh orang kita. Sedangkan sebelah barat dialiri nikmat tuhan yang tidak henti-hentinya. dikampung kita ada sawah, ladang, kebun, sungai, alue thoe, sampai krueng matee juga ada dikampung kita yang terletak diatas langit itu.

Penduduk kampung kita umumnya disebut petani, mungkin karena sering kesawah ladang, bersawah dan berladang atawa meutani. Pegawai langit disana sangat sedikit dibandingkan honorer dan tenaga bakti atau relawan disekolah atau tempat2 pengajian dikampung kita, apalagi polisi dan tentara langit yang ada hanya diutara 1, tengah saja 1, seplah keu-ubat.

Meski demikian, Kampung kita perputaran uangnya tergolong tinggi, sehingga uang halal sangat mudah dicari oleh siapa saja orang kampung kita yang rajin bekerja. Ketersediaan lapangan kerja nonPNS dikampung kita bukanlah terobosan atau hasil kerja pemerintah kampung kita untuk warga kampung kita. melainkan hasil kerja dan jerih payah warga kampung kita yang mampu. orang mampu ber'usaha dikampung kita lebih besar kemampuannya untuk memberi uang setiap hari kepada masyarakat kampung kita yang mau bekerja dibandingkan pemerintah kampung.

Warga kampung kita yang mampu ber'usaha lebih hebat ketimbang pemerintah, kampung kita yang belum mampu sama sekali untuk membuka usaha agar menghasilkan uang biar bisa memberikan uang secara halal kepada warganya. Pasalnya warga kita lebih banyak, dibandingkan dengan lahan pekerjaan, jadi tidak semua berkesempatan untuk tertampung, bisa karena sesuai dengan kriteria tubuh dan tenaga, apalagi faktor umur.

Seandainya, orang yang bekerja pada pemerintah kampung kita mampu membuka lapangan kerja, atau mau berfikir kearah yang lebih maju, maka kok hebat juju ka. Tapi nyatanya, orang yang bekerja dalam pemerintahan di kampung kita tidak memiliki usaha yang memberikan uang kepada warganya, malah menyedot uang yang diberikan oleh warga yang mampu membuka usaha memberi uang kepada warga kampung kita yang rajin bekerja.

"aaah maklum saja, hana lapangan kerja, iqoknyan ken geukeurija sit bak pemerintah kampung kita, ken geumita peng cit lage tanyoe?"

Setahun yang lalu pemerintah kampung kita mendapat sumbangan uang yang melimpah dari pemerintah dilangit ketujuh, uang ratusan juta Dirham itu diperuntukkan untuk mensejahterakan masyarakat kampung kita.

Semua uang itu WAJIB dimusyawarahkan untuk dipergunakan kemana saja sesuai kebutuhan semua orang kampung kita. Namun dalam pelaksanaannya, hingga hampir datang sumbangan kembali ditahun kedua yang bertambah banyak jumlahnya, juga belum kunjung dimusyawarahkan kemana saja uang tahun sebelumnya, apalagi menanyakan kepada warga kampung kita, kemana uang yang akan datang kita manfaatkan?

Anehnya, ini tidak jadi masalah masalah besar, malah pejabat kampung kita mempermasalahkan uang yang tidak diberikan untuk kampung kita dari pelaku usaha yang saban hari memberi uang kepada warga kampung kita. Provokasi atau dengan kata lain sak teube yang juga dikenal dengan sebutan peuculok peusuna dilakukan oleh beberapa orang, untuk melakukan pembusukan diwarung kopi.

Parahnya lagi, itu dilakukan bersama-sama orang dekat bin suruhan dan pelacak ketua lelaki paruh baya yang seharusnya berpihak sama masyarakat, berpihak kepada hak rakyat kampung kita atas apa saja yang dikangkangi oleh pemerintah kampung kita.

Misalnya, terjadi kelangkaan pupuk atau gas 3kg dikios2 resmi, hingga menimbulkan kegaduhan antara suami dan istri didapur orang kampung kita, ini diperjuangkan bagaimana caranya agar stok gas tersedia untuk warga kampung, uang kan sudah ada dana kampung kita, tinggal pemegang kendali uang mau atau tidak. Sehingga disemua dapur kembali berasap dan tidak ribut ribut lagi.

Ketua lelaki paruhbaya saat ini tak lagi mengayomi, semua lini pemerintahan kampung kita diatur dan dipantau menggunakan beberapa intelijen, yang tidak disenangi karena tidak sampai hasrat pribadinya (kekuasaan & uang) lansung diprovokasi dengan sistem culik (ditemui satu persatu, isakteubee), pastinya bekedok kepentingan publik, sehingga termakan dan lansung menjalankan tugas kampanye pembusukan diwarung kopi.

Yang selalu menjadi objek serang kampanye hitam sang ketua paruh baya adalah tunggakan pajak sebuah proyek raksasa beekueng ikroe dan dotse sebesar 3,5 Miliar Dirham. Kampanye sesat tersebut ternyata tidak berjalan sesuai program, sasaran pembusukan malah tersenyum hingga menjadi tamparan keras buat beliau.

Emosi ketua lelaki paruh baya beserta pelacaknya makin menjadi-jadi, dampak penunggakan pajak dua perusahaan raksasa itu ternyata berefek pada perusahaan lain seperti tokporon, uemoto, dan Restribusi dari Jakutara moto, juga enggan membayar pajak, sebelum semua masalah uang-beruang diselesaikan dalam sidang umum yang disaksikan lansung oleh seluruh lapisan masyarakat kampung kita yang terletak dilangit itu.

Pendapatan organisasi lelaki paruhbaya lumpuh total, kas tersisa hanya zero dirham (0 dirham), sehingga aktifitas olahraga tidak mampu didanai. Nah ketika anak anak lelaki paruh baya yang tergabung dalam leraifc meminta pencairan proposal turnamen tidak mampu dicairkan, karena kehabisan dirham. Sehingga membuat kecewa anak anak leraifc, situasi krisis tersebut lansung dimanfaatkan sebagai senjata liar untuk memerangi dan diarahkan kepada Direktur dan Direksi perusahaan beekrueng ikroe dan dotse.

"hana dirham, han jalan sapue nyoe gara-gara pemilik saham beekueng ikroe dan dotse hana ibayeu pajak sampe mandum han ibayeu" kata ketua laki-laki paruhbaya dengan sedikit nada mengandung upaya menjelek-jelekkan direktur perusahaan beekueng ikroe dan dotsee.

Tujuan kampanye tunggakan pajak perusahaan penyedia bahan kontruksi beekueng ikroe dan dotse untuk mengalihkan perhatian, agar menjadi isu menarik sehingga selalu menjadi topik hangat untuk dibicarakan.

Sebenarnya perusahaan penyedia bahan material kontruksi dikampung kita, jenis dotse and beekueng iekroe banyak, juga melakukan penunggakan pajak dan beberapa kesalahan lain, namun tidak menjadi persoalan karena sang kodong ikut ambil andil. “biar proyek apasaja tidak bermasalah maka ketua preman setempat harus dilibatkanlah, walaupun dibelakang layar bayar upetinya, semua menjadi mulus” Apa Mae BS.

Warga kampung kita diatas langit itu selalu diajak memikirkan betapa pentingnya uang 3,5 miliar Dirham dari perusahaan Bekueng Ikroe dan melupakan dana hibah Tekzara NV sebesar 40 miliar dirham untuk rehab seluruh sekolah kanak-kanak yang sudah rampung 3 tahun lalu, namun belum juga dimusyawarahkan kemana saja penggunaannya.

Belum lagi Dana BeUeMGe untuk pemenuhan kebutuhan pupuk petani kampung kita yang tidak pernah dievaluasi dalam musyawarah, bagaimana perkembangannya, apakah kebutuhan pupuk orang kampung kita sebagai tujuan program sudah terpenuhi? apakah sudah merata dinikmati oleh seluruh masyarakat kampung kita dilangit itu?

Begitu juga dengan indikasi korupsi dana BeKaPeGe yang dialihkan sebagai hutang orang nomor satu dikampung kita agar terhindar dari jeratan hukum. Bagaimana perkembangannya, apakah sudah lunas? kalau sudah lunas kan masyarakat kampung kita bisa pinjam juga?

Kemudian Kredit dana eSPePe, dana ini terakhir digunakan oleh orang nomor satu sebesar 6 miliar dirham, dan bendahara negara 6 miliar, bila dibayar sesuai tenor (lama kredit:setahun) maka harus dibayar 7 miliar dirham seorang termasuk bunga. Namun bagaimanakah nasibnya?

Terus Dana ADeDe sumbangan pemerintah langit ketujuh, juga belum dipublikasi kepada masyarakat dalam sidang umum pertanggungjawaban dana rakyat. Serta mempersiapkan rencana pembangunan kedepan sesuai kebutuhan rakyat, bukan sesuai keinginan pemerintah langit. "Man pue pasai tak peuget rapat, ken teupat taneukgroep lam penjara?"

Kampung kita diatas langit itu sangat sulit dibangun, karena banyak masalah, mulai masalah masyarakat yang cenderung di"prom" bukan diselesaikan malah disimpan rapat2 biar hilang. Tak hanya disitu, dilevel sama sama petua kampung sendiri saja terjadi perseteruan, perbendaan pendapat yang berujung pada penyelewengan uang yang disedekahkan oleh pemerintah dilangit ketujuh tahun lalu itu disebabkan oleh reaksi politik adu domba dua personel agensi belanda.

Kenapa sesama petua kampung kita tidak akur? ya pasti karena ada masalah, kalo nggak ada masalah pasti akurlah. Nha kalau ada masalah kenapa juga tidak diselesaikan dengan bermusyawarah untuk mencapai mufakat? ya takutlah ada yang bakal disingkirkan oleh rakyat kampung kita dan harus berhadapan dengan hukum. Intinya kegaduhan dikampungkita diatas langit itu mayoritas disebabkan oleh politik peuculok peusuna.

Dua personil agensi belanda seperti biasa melancarkan politik deviden of ampera, gaya politik ini lebih dikenal dengan sebutan politik adu domba atau politik pecah belah, warga kampung kita diatas langit itu lebih sering menyebut ini politik peuculok peusuna, dalam agama orang kampung kita juga dikenal dengan sebutan menghasut, yang masuk dalam kategori perbuatan tercela.

Karena politik itu masih berlaku dikampung kita sehingga tidak seorangpun yang berani bicara, warga kampung kita tidak bisa berbuat banyak kecuali menunggu rahmat dari tuhannya, sambil berdoa diharapkan turun seorang ulul amri bagai sosok almahdi.

Betapa tidak, bila terlalu banyak ngoceh (meupep-pep) dikampung atau bila ada petua yang banyak bicara dan menghalangi kepentingan atau tujuan dua agensi belanda tersebut, maka bakal menjadi petaka besar, bila sudah menjadi lawan agensi belanda itu, warga banyak bicara harus sudah siap untuk dikucilkan, pastinya dia harus siap, sering2 mimpi disiang bolong dan berharap agar sekretaris negara tidak bakal berbuat apa-apa untuk anda.

“han geujak ureung tuha wate mate makeuh atau wate khauri ireumoh keuh, beukateupue bacut”

Bila sudah terlanjut, maka Pembusukan pun dilakukan dengan tujuan target yang banyak bicara dipecat atasnama rakyat, bila pelakunya warga sipil maka bakal dikeluarkan kebijakan dikucilkan, tapi keputusan ini bukan hasil musyawarah yang diorganisir lansung oleh sekretaris negara.

Sistem pemerintahan kampung kita diatas langit itu dijalankan persis seperti sistem pemerintahan kampung era tahun 60an, dijalankan dengan gaya kulot ortodok yang berkurikulum Capli Bawang Sira Asam, sehingga tidak mampu berfikir jernih, mana yang baik mana yang benar sebagai sebuah kebijakan yang baik dihasilkan harus dimusyawarahkan dengan masyarakat untuk mencapai mufakat agar sah disebut sebagai sebuah keputusan hukum yang adil dan bermartabat.

Orang nomor wahid dikampung itu malah sangat takut berhadapan dengan warga kampung secara lansung di meunasah kampung kita. Tidak ada musyawarah merencanakan pembangunan melibatkan semua warga. Pembuatan rencana pembangunan hanya mengandalkan jasa rental foto kopy. Apa ditakutkan oleh paduka yang mulia?

Menurut Simaun, yang tercatat sebagai angkatan udara dikampung kita mengatakan ketakutan orang nomor satu wahed dikampung kita lebih kepada hutang dengan kampung, penggunaan uang dengan redaksi bahasa tidak jelas peruntukannya, semisal 'dana politik' 'dana safety' puluhan juta dirham, hingga keinginan dibeli kendaraan baru tahun ini.

Sementara Keurani sebagai orang kedua petua kampung kita yang ditugaskan dan diberi gaji dr langit ketujuh lebih parah lagi, ini eksekutor tukang organisir kebijakan jahat untuk memberi pelajaran siapa saja warga kampung kita yang mebangkang.

Dia Pegawai langit yang bertugas dikampung kita, tetapi harus absen seminggu sekali dikantor langit kedua. Dia ini dikenal sebagai orang paling otoriter bin sadis, orang tuanya saja "geupeulaku" pelan-pelan apalagi warganya yang dilaporkan membangkang oleh ketua lelaki paruh baya.

Kemudian Bendahara Nanggroe, beliau adalah sosok laki jantan bertingkah perempuan, gayanya seperti anak anak, terkadang saat pertanggungjawaban anggaran beliau sering mengeluarkan air mata. Pernah suatu ketika dia melempar setumpuk uang dihadapan para tetua kampung sambil menangis dia berkata “nyopat peng mandum, yang hansep kabeh baklong” seraya kelur dari rapat pertanggungjawaban anggaran ratusan juta dirham hibah dari langit ketujuh.

Tidak hanya disitu, dia juga berkata mundur dari jabatannya “thoen ukeu ilon hana le, neupileh laen manteng” ancam bendahara membuat gemetar keuchik kampung kita diatas langit itu. Setelah dihitung-hitung, sebanyak 3 juta dirham uang yang dilempar bendahara hilang entah kemana, disamping itu bendahara juga melakukan fungsi transaksi membeli berbagai keperluan kampung, pengeluarannya banyak kode aneh, seperti uang untuk PJOK, dana politik dan dana lain utuk pemerintah adminitrasi distrik.

Dikampung kita itu tidak bisa diajak sama-sama untuk membangun kampung, jangankan mengajak masyarakat kampung, sesama elit kampung saja mereka tidak bisa bekerjasama apalagi kompak untuk bekerja demi warganya. Sehingga bisa dikatakan, penghambat kemajuan gampong kita adalah petua kita.

Pembangunan yang dilakukan pun walau tidak bermusyawarah dengan warga hanya berjalan sektor berduit saja yang dijalankan, sementara yang menjadi masalah bagi warga kampung juga tidak disentuh karena tidak beruang.

Pembangunan yang tidak beruang berjalan dengan sendirinya secara alamiah, pembangunan sektor agama kadang hanya berjalan saat perayaan dalam bentuk ceramah, itupun dilakukan pungutan atau sumbangan dari warga, tidak disiapkan dari awal dengan matang.

Nha disini lebih bahaya, salah-salah bila dipungut oleh orang dekat ketua lelaki paruhbaya bila kita tidak kuasa salah2 bisa dikata tidak mendukung menjalankan perintah agama, tapi kalau dikutip oleh org lain malah ketua lelaki paruh baya yang lansung menyebut "hana peunteng dakwah, dum bak beut tiep malam bak dayah, bak mesjid hana soe jak" kata ketua laki-laki paruhbaya kepada pemilik keude blang bernama depan Raja Aceh, karena dia sempat mempertanyakan kas organisasi kelaki-lakian berapa banyak dan dikemanakan saja.

Sangat lihai gaya politik hasut-menghasut beliau. Pernah disebuah rapat kepemudaan sinar pagi menjelaskan betapa pentingnya rencana pembangunan untuk mendata semua persoalan kampung kita yang bakal dijadikan sebagai bahan pekerjaan tahunan untuk mencari jalan keluarnya.

Namun hal tersebut dengan gampang dibantah oleh ketua lelaki paruh baya "soe peunteng eRPeJeeM ngen beut? peunteng that beut, eRPeJeeM jeut takeubah ile, beut wajeb" katanya, begitu kira-kira kelihaian orang berdarah seribu dalam mengubah cara berfikir warga.

Dia memilih jalur agama yang dikambing hitamkan karena sangat sensitif. Saat ini giliran program pembangunan lapangan bola pukul dengan tangan yang dihadang. Usulan ini dianggap menjadi lawan sehingga dia mencari cara untuk dilenyapkan sebelum lahir. Karena orang berdarah seribu ini khawatir klub bola pukul dengan tangan ini nantinya bakal diketuai oleh orang lain.

Sehingga anak leraifc dicoba untuk diadu dengan pendukung program pembangunan bola pukul dengan tangan itu. Sayangnya anak-anak leraifc lebih pintar melihat situasi, mereka enggan bersedia dijadikan sebagai "aneuk pusu" ketua lelaki paruhbaya, kini mereka memilih diam membaca kondisi politik kampung kita.

Karena mereka masih gamang, dan sedang melihat siapa yang benar. Bukan melihat apa yang dikatakan apakah benar atau hanya modus? Sementara warga kampung kita diatas langit itu lebih memilih untuk diam-diam sambil membaca, sesekali mereka terlihat tersenyum kecil memahami pesan yang tersirat didalamnya.

Saat ini petua kampung kita ada juga yang bertitel panjang seperti mahkluk dikampus, tapi sayangnya mereka sebagai tetua empat tidak bisa berbuat banyak, merekapun diseret kedalam kegelapan (ihue yang seupoet). Padahal persoalan gampong kita sangat simpel, yang penting dimusyawarahkan dan dijalankan secara transparan.

Sementara hambatannya adalah semberdaya manusia yang tidak diorganisir dengan baik, disamping petua kampung masih suka menjalankan pesan titipan (peuculok peusuna ketua lelaki paruh baya dengan kata lain dua agensi hindia belanda) sebagai sebuah kebijakan untuk menjegal orang lain, bukan dengan musyawarah. Lebih kepada persaingan memperebutkan kue kekuasaan.

Ureung tuha aneuk miet adalah musuh bebunyutan dua agensi mantan penjajah itu. Dua agensi nedherland sudah menyatakan perang dengan ureung tuha aneukmiet pasca kepentingan untuk menguasai proyek ratusan milyar dirham sumbangan pemerintah langit ketujuh dihalang. Disamping beberapa ide ajaib yang ditolak.

Ureung tuha aneukmiet belum memiliki kesalahan fatal, sehingga menjadi sebuah kelemahan agensi belanja untuk menyerang, karena lelah mencari kesalahan tapi tidak ada hasil sehingga agensi belanda menciptakan kesalahan, seperti 'fitnah' Beulangeng sie kameng dengan tuduhan yang tidak terbukti.

Seandainya masyarakat kampung kita diatas langit itu memilih untuk tidak ambil pusing, memilih jalan simpel, maka masalah akan berakhir. Untuk memusnahkan biang masalah cukup mudah.

Karena penyelenggara kampung kita sudah bersama-sama, sudah memperkaya diri, sudah menyalahgunakan kewenangan, tidak transparan tanpa musyawarah dan ditutup-tutupi kepada publik sehingga merugikan kampung kita dilangit, maka sudah memenuhi unsur-unsur masuk sel'uler.

Caranya, ajak mereka membuat rapat umum untuk membahas semua masalah tersebut satu persatu sampai tuntas, kemudian dipertanggungjawabkan, bila terbukti dan tidak mampu dibayar, lansung saja dibuat berita acara rapat pertanggungjawaban yang berakhir tanpa solusi dan dokumennya dikirim saja ke kantor polisi langit, selesai...!

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.