Header Ads

Ini Kisah Penanganan Patah Tulang di RS PMI, Buat Bingung Pasien

acehbaru.com | Langsa–Pasien bernama Cut , 15 tahun warga Aceh Timur yang dioperasi patah tulang lengan di RS PMI Lhokseumawe, membuat dirinya dan keluarganya bingung. Keluarga Pasien tidak menduga-duga, namun faktanya setelah operasi kondisinya bukan tambah membaik, malah besi Pen ditangannya nendang keluar.

“Setelah operasi pemasangan besi itu semakin sakit, dan besinya nendang keluar,” Ujar Cut yang kini dirawat di RSUD Langsa.

Patah tulang lengan yang menimpa Cut akibat terjatuh dari sepeda. Bulan Desember 2015 ia dibawa keluarganya ke RS PMI, setelah dilakukan Rontgen langsung dilakukan operasi pemasangan pen.

Ironisnya, setelah pemasangan Pen kondisi lengannya bertambah sakit, Besi dan kawat yang ada didalam tangannya nyembul keluar. Akibat kondisi itu keluarganya membawa kembali untuk konsultasi ke RS PMI.

Namun sampai disana petugas di RS PMI menyarankannya untuk berobat ke rumah sakit RSU Zubir Mahmud Idi Aceh Timur, karena dirinya beralamat Aceh Timur.

Saran tersebut di ikuti oleh keluarga Cut, mereka membawa Cut ke RSUD Zubir Mahmud, setelah dilakukan Rontgen, petugas medis di RSU Zubir Mahmud tidak berani menangani tangannya. Mereka malah meminta keluarga Cut untuk kembali ke RS PMI dan berkonsultasi dengan tim dokter yang menangani operasi pemasangan Pen kala itu.

Menindaklanjuti arahan dari dokter di RS Zubir Mahmud, keluarganya kembali membawa dirinya ke RS PMI. Sampai disana Cut mengeluh tangannya sakit dan nyembulnya besi yang hampir menembus kulit ditangannya.

Atas keluhan tersebut dokter di RS PMI malah mengatakan tidak apa-apa, kala itu Cuma dilakukan pergantian semen luar, sembari menjelaskan bahwa semen yang baru diganti tersebut, limit waktu 6 minggu baru boleh dibuka kembali.

[caption id="attachment_29630" align="alignleft" width="699"]Hasil Rontgen kondisi Lengan Cut (15) menunjukkan posisi besi pen tak beraturan setelah operasi di RS PMI Lhokseumawe| Foto Istimewa Hasil Rontgen kondisi Lengan Cut (15) menunjukkan posisi besi pen tak beraturan setelah operasi pemasangan Pen di RS PMI Lhokseumawe Desember 2015| Foto Istimewa[/caption]

Pasca penanganan terakhir di RS PMI itu tangannya tidak mengalami perubahan, bahkan semakin terasa sakit, begitu juga dengan besi Pen semakin nendang keluar. Kondisi ini membuat keluarganya semakin bingung. Dan bingung.

“Disatu sisi Dokter di RS PMI mengatakan tidak apa-apa, disisi lain besi itu semakin nendang keluar, dan tangan si Cut semakin sakit, ini yang sangat membingungkan,”Kisah Yahya seorang kerabat Cut saat mengisahkan kepada acehbaru.com

Akhirnya mereka berkesimpulan untuk membawanya ke RSUD Langsa, dengan harapan ada solusi. Sesampai di rumah sakit yang ketiga dalam riwayat pengobatannya, petugas medis kembali melakukan Rontgen sebagai tindakan awal.

Nah, apa yang terjadi? Dalam rekaman Rontgen terlihat letak besi tidak beraturan dan tidak pada posisi patah tulang. Akhirnya dilakukan operasi kembali, untuk mengeluarkan besi pen tersebut,  dan didalam terlihat satu besi yang agak bengkok seperti kurang beresnya alat potong, dan satunya lagi besi yang terlihat mulai berkarat.

[caption id="attachment_29631" align="alignnone" width="704"]Besi pen yang dipasang oleh RS PMI setelah dikeluarkan dari Lengan pasien bernama Cut (15) | Foto Istimewa Besi pen yang dipasang oleh petugas medis RS PMI Lhokseumawe setelah dikeluarkan dari Lengan pasien bernama Cut (15) | Foto Istimewa[/caption]

“Untung cepat, kalau tidak mungkin entah bagaimana terjadi dengan tangan anak itu,” Tambah Yahya seorang kerabat Cut, sambil menggeleng kepala.

[caption id="attachment_29632" align="alignleft" width="495"]Hasil Rontgen setelah dilakukan operasi kembali di rumah sakit di Langsa | Foto istimewa Hasil Rontgen setelah dilakukan operasi kembali di rumah sakit di Langsa April 2016 | Foto istimewa[/caption]

Jauh dari Aceh, sebagaimana diberitakan TEMPO.co kisah tragis operasi pemasangan Pen juga pernah dialami oleh Syaripudin Pane, 43 tahun, yang dioperasi patah kaki di Rumah Sakit Haji Pondok Gede Jakarta.

Setelah operasi tersebut hingga 8 bulan kakinya bernanah, iapun kemudian menuntut tanggung jawab Rumah sakit tersebut. (lia)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.