Header Ads

Gemerlap Kota Langsa 1970, Ciss Cuss Minum Miras Cap Kambing

Si Gan sebut saja namanya, tidak muda lagi, sebagian giginya sudah copot,  karena ompong membuat senyumnya begitu manis. Bertubuh pendek dan tambun serta badan Meupingkom Batee, punya ganteng tersendiri bagi orang yang melihatnya.


Gan coba bercerita tentang masa lalu Langsa, dimana kota orang tua Gan membesarkannya. Tahun 1970 Gan sudah berumur sekitar 12-13 tahun. Langsa yang kini meriah dan penuh dengan toko, memang jauh berbeda dengan zaman itu.


Sebelum bercerita, Tangannya tiba-tiba mengaruk rambut, matanya menyorot keatas. Rupanya itulah permanasannya. “Galon (SPBU) Harapan itu dulu bukan sebelah sekarang, tapi diseberangnya, waktu itu masih galon kecil, masih pakek pompa putar, ditempat sekarang itu lapangan Permina (Organ Cikal Pertamina),” Ujar Gan.


Di belakang Galon  terdapat pos Mobrig (Brimob sekarang),  Min Pilot belum ada disana, lokasi Min Pilot sekarang  tank seribu milik Permina. Lokasi Kartika,  Hotel berkelas di Langsa,  dulu disana hanya sebuah rumah tua.


Sementara diseberang jalan tepatnya kawasan Komplek Bupati, ada pabrik penyulingan minyak peningggalan Belanda yang sudah diambil alih Permina, kolam limbahnya sering dimamfaat warga untuk mencari ikan air tawar


‘Ooo, batu bata dibuat pabrik itu, cukup cantik, “ Ujar Gan tiba-tiba.


Waktu pabrik sudah tutup banyak warga ambil batu bata dan untuk disimpan, ternyata kemudian ada yang beli dengan harga mahal, Rp.500 perbutir. “Waktu itu mahal segitu, harga 3 batang rokok menara kudus Rp. 1000,” katanya.


Kisahnya,  suasana kota saat itu meriah walaupun masih banyak kebun kosong tempat Meuruwa Weuk sen. Jalan menuju Geudubang baru ada beberapa kios, itupun letaknya di simpang 4.


Di jalan lintas dari simpang tugu lurus simpang Comando, hanya terdapat beberapa kios, salah satunya diseberang jalan kantor Pajak. Nah, bila dihitung dari tempat ini hingga ke stasiun kereta api didepan lapangan merdeka, hanya terdapat 3 kios. Beda lagi dengan di pasar.


miras-oplosan Sejumlah kios itu menyediakan minuman keras eceran, merek paling mudah diingat adalah Cap Kambing dan Bir serta anggur putih. Minuman yang bisa berubah mata jadi sayu, dan mengerakkan orang berjalan hoyong di jual bebas per sloky dengan harganya lima ratus rupiah.


Usaha jualan minuman keras di kios kios baik kios tetap maupun dorong tak pernah sepi peminat, walaupun ada pesaing kuat BAR besar, tapi tak membuat angka penjualan kios dorong berubah. “Pelanggan beda-beda, ya, yg kantong cekak, minum eceran kios aja,” Sementara yang banyak isi kantong memilih Bar tempat ber-happy-happy


Miras drink780x390Bar SAREE RIA namanya, letaknya di jalan Teuku Umar, kalau sekarang persis lokasi Toko Sari Motor. Di sini berbagai minuman keras tersedia, dari kelas Guci hingga kelas botol bengkok, pokoknya macam rupalah.


Bar juga selalu dipenuhi pengunjung, baik siang maupun malam hari. Kalau siangnya dibuka hanya sebatas pintunya saja. Sementara malamnya terbuka lebar.


Pejabat swasta dan para toke karet, jambu dll sering menghabiskan waktu rehat  siang di Bar ini. Jika malam para orang kaya juga sering menerima tamu dibar ini, karena selain santai nikmati minuman juga Bar ini menyuguhkan music bar plus penyanyinya


“Yang kurang uang milih minuman yang tempatnya dalam Guci. Minuman oplos ini hanya dibayar per gelas, Rp. 600,-  “Oplos Men”. Bila ada permintaan, tekan tombol krans langsung Meucruk –cruek tumpah kedalam gelas.  “Soe yang lakee, Brueeshh Jitunggeng,”  He..he, ketawa Gan mengenang tontonan masa lalu sambil memperagakan gaya-gayanya


Bagi yang berkantong tebal Wisky salah satu pilihan, disamping minuman pesanan lain berharga mahal.


Gemerlap  Langsa yang masih menjadi ibu kota Aceh Timur itu juga dipengaruhi dengan adanya stasion kereta api, suara ce—at dan ce-iet- ceatt ceiit,  iet- chouh—chouh, iet- chouh—chouh suara khas klakson semakin semarak kota itu, lengkapnya lagi dengan kehadiran dua Bioskop,  Rencong dilokasi Bank Aceh dan Bioskop Melati deretan Unsam Kota.


Bioskop menjadi salah satu hiburan rakyat berbagai kelas kehidupan, kalau film india dengan harga karcis murah, dengan uang enam ratus rupiah pasti di penuhi oleh warga berbagai tingkatan umur.


Giliran Film malam hari yang  isi tayangannya penuh dengan adegan Esmenen yang efeksnya bisa membuat ketegangan, penonton akan di sortir, mereka yang lolos adalah orang dewasa dan pasangan suami istri.


“Itupun bukan film buka semua, sikit-sikit aja, udah cukup menegangkan,” Seloro Gan sambil terbahak-bahak.


Tak main-main, syahdunya Film membuat gigitan Kutu Busuk atau Pijet  yang keluar dari celah kursi bioskop terbuat dari rotan itu  tak terasa bagi dikulit penonton yang sedang terayun nikmat. “Karena film geot, jikap le pijet pih han terasa,” Khak….. ssssiit, “ Sebut Gan.


Kala itu aktivitas Kota hampir tak pernah berhenti,  dari pagi hingga pagi lagi. “kalau sudah malam dari empat yang jalan kaki , 3 orang pasti mabuk, satu yang ngk,” Sela Syarifuddin yang kala itu juga sudah bersekolah SMP.


Apalagi India?


Di Langsa sejak dulu memang ada beberapa komunitas India. Mereka umumnya beternak sapi. Sapi –sapi betina hasil peliaraan di buat menjadi sapi perah. Susunya dimasak lalau diedarkan ke seluruh Kota Langsa.


Pelanggannya bukan kelas mencret, tapi peminum susu sapi produk India itu adalah orang berkantong tebal. Kala pagi mereka mengecer susu ke rumah –rumah pelanggannya. Selain bisnis susu, komunitas India juga bergerak disektor jual beli pasir. Mereka memiliki gerobak sapi, untuk mengangkut pasir.


Pastinya dengan usaha itu mereka memiliki pendapatan harian, yang akan dibelanjakan untuk berbagai kebutuhan hidup. India kala itu sudah kadung melekat status suka mabuk.


Karena kelakuan itu,  bila kita mendengar kisah kota Langsa masa silam, pasti sandiwara mabuk India tak terlupakan dari bagian cerita itu. Pokoknya kelucuan mabuk dan kelakuan menyelipkan Gepeng di pinggang oleh pemabuk India era 70an menyita perhatian warga Langsa kala itu.


“Mereka sering kita temukan mabok, sering terjatuh ke paret, sering orang bilang, India kalau ngak da uang tidur dirumah, kalau banyak uang tidur diparet,’ ha,,,ha…


Gan Punya Kisah Dengan Seorang Hindia


Seorang temannya yang jauh lebih tua dari umurnya mengelola Gerobak Pasir milik orang tuanya. Kawan itu selalu ada duit dikantong karena sering dapat order angkut pasir.


Beberapa remaja bandel termasuk Gan sangat senang mendapatkan kesempatan duduk diatas Gerobak. Gaya jalan Sapi Ceungak dan Ceungik memiliki arti tersendiri bagi Gan dan kawannya.


Ia bersiasat, agar cita-cita dan harapan  menunggang gerobak terwujud, tak ada pilihan kecuali mendekati si India itu, modal kebandelan Gan dan kawannya, menjadi salah satu syarat ia dikawanin oleh India itu.


Jadilah Gan dan kawannya membantu Gerobak angkut pasir, perlahan mereka dipercaya jadi penunggang gerobak baru. Siap mengangkut pasir, Gan dan kawan mendapat sedikit ongkos. Dari jumlah ongkos yang minim itu, sang majikan hanya memberikan sedikit untuk jajan Gan dan Csnya di sekolah esok. Sisanya dikumpulkan untuk beli minuman keperluan pesta mabuk bersama.


Waktu bukan ukuran untuk menikmati minuman keras, habis kerja angkut pasirpun  tak menjadi halangan untuk mabuk. Kabur dari rumah sebentar hanya untuk menikmati minuman beralkohol itu, sudah biasa.


Apalagi Gan kemudian menjadi kawan baik si majikan gerobak, hingga ia sering diajak jalan -jalan dengan berboncengan sepeda dengan si Majikan. Si India toke Gerobak memang tergolong kuat kainya dalam mendayung sepeda, crah cruh-crah cruh sudah sampai dikios eceran minuman keras.


Nah, sampai disana penjual di kios tak menanyakan lagi keperluan pelanggan ini. mereka sudah cukup faham dengan kebutuhan mereka. Dibalik barang kios yang tergantung si penjual sedang sibuk membagi porsi untuk dua sloky minuman keras Cap Kambing, dengan harga bayar per sloky lima ratus rupiah.


“Cruekkkk..cruekkk suara dituang, ambil …..….Cissss minum langsung pergi,” Kisah Gan sambil memperagakan.


Esoknya bila ada modal lima ratus rupiah,  kembali lagi ke kios itu, namun gaya minum dan ucapan hari berikutnya berbeda dengan kemarin. Kali ini, Cusssssshh, minum,  tak menunggu naik dosis, ia langsung pergi......lay..lay…layyy.(lia).

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.