Header Ads

Sebuah Cerita Tentang Jilat Menjilat……

acehbaru.com - Ini adalah sebuah cerita. Sehari sebelum penghelatan terakhir, sebuah dag dig dug terdengar disamping telinga. Maun terlihat kecewa, kepalanya menggeleng, harapan akan menjadi salah satu anggeta Lih-pun pupus.

Maun tak sadar dalam pertarungan sesuatu disebuah negeri, walaupun perebutan “KAP atau Yeuuh” tetap saja diwarnai dengan kegiatan  “Lih”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Lih atau “Jilat” berarti perbuatan dengan mengeluarkan atau menjulurkan lidah dan menempelkannya ke sesuatu, dengan maksud untuk merasa atau mencicipi.

Kemudian dalam perkembangan selanjutnya kata “jilat” mengalami perluasan makna akibat proses perubahan fonem sehingga fonem “N” yang ditambah menjadi awalan “Pen-“ yang berarti menerangkan penambahan subjek, dan menjadi “Penjilat” yang berarti orang yang suka menjilat dengan menggunakan lidahnya.

Mahkluk yang bernama Penjilat sering disamakan dengan tukang cari muka. Merek model ini bisa muncul dimana saja,tanpa mengenal batas dan teritori. Sehingga  dimana saja,baik  lingkungan kerja, perkantoran, perusahaan, komunitas, organisasi, dll.

Penjilat atau yang melakukan jilatan –jilatan dalam pemahaman lokal juga sering disamakan dengan Anjing. Karena anjing bila bertemu dengan benda, selain mencium juga akan di Lih atau di jilat.

Namun dalam perkembanganya Si Maun sebut saja begitu, juga melihat, sepertinya ada juga manusia biasa yang mengadopsi tradisi binatang diatas.

Para manusia model ini belum tentu jauh dari dari kehidupan Maun, . tetapi teman Maun sekalipun tidak tertutup kemungkinan memang dari sononya sudah menyimpan berbagai model jilatan, tergantung keperluan. BACA JUGA : Penjilat (cerpen)

Dalam praktiknya para penjilat itu 99 % memang untuk bisa menyenangkan orang disekelilingnya, membuat orang lain terpesona, sehingga akal bulus bisa segera dilancarkan.

Fenomena kehadiran para penjilat semakin tumbuh subur bila ada satu kompetisi, apalagi kemenangan sangat ditentukan dengan kualitas jilatannnya.

Bila jilatan top, maka sasaran sudah berhasil di masukkan ke dalam kaos kaki bau yang ia siapkan sehingga kemudian dengan mudah meneruskan misinya

Keberadaan para penjilat tak terbatas ruang dan waktu  dilingkungan kekuasaan, masyarakat dan lingkungan yang lain. Jika targetnya adalah penguasa, maka jilatannya akan mengarah pada kepentingannya untuk kekuasaan.

Di era kekinian terkadang yang memiliki lidah panjang atau yang pandai “meulih-Jilat” tumbuh subur. Bertambah lagi para penguasa yang jadi sasaran Lih bisa jadi sudah terkena dua penyakit ‘Macet menerima rangsangan, atau terlena dan sangat terangsang saat di Lih atau di Jilat-jilat.

Maka jika terpelihara model seperti ini, tak heran bukan kemajuan pembangunan dan sumber daya yag terjadi, namun yang berkembang adalah jagoan –jagoan meu-lih yang semakin meningkat jumlahnya.

Tak heran kepentingan rakyat akan tertutupi dibalik lidah para bedebah yang cuma ingin meraup keuntungan pribadi. Maka penguasa harus punya remote control rangsangan agar tidak terlena dengan jilatan-jilatan lembut dari para penjilat yang akhirnya dapat merugikan kepentingan orang banyak.  (*)

*Penulis adalah Taufiq warga Lhokseumawe

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.