Header Ads

Perempuan Aceh Dullu Super, Bagaimana Sekarang?

acehbaru.com | BandaAceh – Pada  momentum hari perempuan sedunia Gubernur Aceh, dr. H. Zaini Abdullah menyebutkan, sejumlah perempuan Aceh cukup terkenal di masa silam. Namun kini peran perempuan sebagai pemimpin sangat berkurang ada apa?

Gubernur Aceh Zaini Abdullah menyebutkan sejak dahulu, perempuan telah memainkan peran penting dalam berbagai sektor masyarakat. Minggu, 6 Maret 2016

"Bukti sejarah menunjukkan kerajaan Aceh pernah dipimpin oleh perempuan secara berturut-turut, yaitu Sultanah Safiyatuddin Syah, Sultanah Zakiyatuddin Syah, Sultanah Kamalatsyah, dan Sultanah Inayat Syah," ujar Gubernur Zaini, dalam peringatan Hari Perempuan Sedunia, di Anjong Mon Mata, Minggu 6 Maret 2016

Dalam catatan sejarah juga dituliskan bahwa banyak perempuan yang terlibat dalam perjuangan kemerdekaan yang cukup terkenal seperti Laksamana Malahayati, Cut Nyak Dhien, Cut Meutia hingga Pocut Meurah. Kenyataan tersebut, kata gubernur, menggambarkan bahwa perempuan di Aceh memiliki kualitas dan kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam rangka memperjuangkan dan mengatur tatanan kehidupan di Aceh.

Namun kini, peran perempuan sebagai pemimpin di ruang publik semakin berkurang. Kurangnya peran perempuan bisa dilihat dari sedikitnya perempuan yang tampil sebagai pemimpin di ruang publik.  Di parlemen Aceh misalnya, hanya 12 orang perempuan dari 81 anggota dewan di tingkat provinsi. Sementara untuk tingkatkabupaten/kota, tercatat keterlibatan perempuan hanya 8,8 persen. Dari 650 kursi tersedia, hanya diisi oleh 57 orang perempuan.

Ditambah lagi dengan realita banyak kasus kekerasan terhadap perempuan. "Kita harus lebih peduli pada peningkatan kapasitas perempuan dan kita juga harus memberi perlindungan khusus kepada perempuan," ujar Gubernur Zaini.

Gubernur berharap, para ulama, tokoh adat dan tokoh masyarakat turut aktif mensosialisasikan gerakan kebangkitan perempuan Aceh, dan pembinaan keluarga."Secara bersama-sama kita perlu membangun kesadaran agar tidak terjadi tindakan diskriminasi dalam berbagai hal. Upaya perlindungan juga harus ditingkatkan agar kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak lagi terjadi di Aceh," kata gubernur.

Sementara Ketua Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh, Dahlia, menyebutkan bahwa momentum hari perempuan sedunia yang seyogyanya jatuh pada tanggal 8 Maret pada tiap tahunnya tersebut bertujuan untuk mengenang kegigihan perempuan di berbagai dunia. "Bagi perempuan Aceh mengingatkan kita peran perempuan dalam sejarah bangsa dan penyebaran agama Islam."

Islam, kata Dahlia meninggikan derajat perempuan. Kedatangan islam membawa misi perempuan menjadi mitra lelaki."Perempuan itu pendidik budiman. Islam menuntun perempuan. Baik perempuan perempuan baiklah anak dan laki laki," ujar Dahlia. Karena itu,  kepemimpinan perempuan mutlak dan perempuan menjadipenggerak serta juga menjadi pihak yang turut serta memelihara perdamaian.

Terkait realita terkait banyaknya kejahatan yang terjadi terhadap perempuan, Dahlia menyebutkan,  hal itu harus diberantas. Dalam pernyataan sikap perempuan Aceh yang dibacakan oleh Niazah A Hamid, Ketua Penggerak PKK Aceh, yang juga istri gubernur Aceh, pemerintah diminta untuk melindungi sepenuhnya perempuan dan memberikan pelayanan maksimal terhadap korban kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Pemerintah juga harus melindungi anak dan perempuan dari dampak teknologi negatif,” ujar Niazah. Pemerintah Aceh juga diminta untuk memberikan perhatian menyeluruh kepada perempuan terkait masalah kesehatan dan kebutuhan dasar para perempuan. (rilis)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.