Header Ads

Mentawai Tadi Malam Tak Picu Tsunami Walau Ada Peringatan BMKG

Gempa bumi tektonik berkekuatan 7,8 Skala Richter mengguncang Kepulauan Mentawai dan wilayah lain di sekitar Sumatera Barat, Rabu (2/3/2016), pukul 19.49.47 WIB.

Presiden RI Joko Widodo terus memantau perkembangan dampak gempa.

Presiden juga telah menginstruksikan Kepala BNPB untuk segera turun ke lapangan, melakukan langkah-langkah penanganan dampak gempa yang terjadi.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan Posko BNPB melakukan komunikasi dengan BPBD dan instansi yang ada untuk mengetahui dampak gempa dan upaya penanganan di daerah sejak mendapat peringatan dini tsunami.

Koordinasi secara intensif dilakukan dengan BPBD menggunakan berbagai jalur komunikasi seperti radio komunikasi, media sosial dan telepon.

RAPI dan ORARI juga menginformasikan perkembangan yang ada.

Tim Reaksi Cepat BNPB langsung diberangkatkan ke Padang. Kepala BNPB juga berangkat ke Sumatera Barat guna memastikan penanganan dampak gempa dan tsunami.

Sutopo mengatakan hingga saat ini belum ada laporan adanya korban jiwa akibat kerusakan dan tsunami besar yang terjadi di pantai.

Potensi Tsunami


Badan Meteorologi, KIimatologi, Geofisika (BMKG) sempat memperingatkan jika gempa ini berpotensi menyebabkan tsunami di sejumlah titik pesisir pantai di Pulau Sumatera.

Namun, peringatan dini itu diakhiri pukul 22.32.42 WIB atau hampir tiga jam kemudian.

Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono menyampaikan, “patut disyukuri bahwa peristiwa gempa bumi kuat ini dibangkitkan oleh sesar dengan arah pergerakan mendatar, sehingga tidak memicu terjadinya tsunami.”

Daryono menyampaikan itu melalui tweet analisisnya yang dipublikasikan akun resmi BMKG, @infoBMKG, Kamis (3/3/2016).

Berikut ini selengkapnya hasil analisis Daryono.

Hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa episenter gempa bumi ini terletak pada koordinat 4,92 derajat lintang selatan dan 94,39 derajat bujur timur dengan kedalaman hiposenter 16 kilometer.


Tepatnya di Samudera Hindia pada jarak 636 kilometer arah barat daya Mentawai.

Gempa bumi ini merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar mendatar.

Posisi episenter menunjukkan bahwa pusat gempabumi ini terletak di bagian utara dari zona Cekungan Wharton yang memang banyak terdapat segmen spreading ridge.

Cekungan Wharton memiliki kaitan dengan pergerakan dasar Samudra Hindia dan zona-zona patahan di sekitarnya.


Tentu saja di dekat ridge ini, pada masa pembentukannya juga banyak terjadi gempabumi, yang mirip dengan investigator ridge di sebelah timurnya yang juga menyebabkan terjadinya gempa bumi yang berpusat di tengah samudera.

Hasil analisis mekanisme sumber gempa bumi yang dilakukan BMKG menunjukkan bahwa nilai parameter sesar akibat gempabumi memiliki nilai strike 5 derajat dan dip 84 derajat.

Ini berarti bahwa gempa bumi yang terjadi dibangkitkan oleh sebuah aktivitas sesar mendatar dengan arah jurus sesar yang berarah utara-selatan.

Terkait hubungan antara tektonik dan aktivitas kegempaan, maka parameter sesar di atas menunjukkan adanya relevansi terkait kondisi tektoniknya.

Dalam hal ini ada kaitan antara kawasan retakan (fracture zone) dan aktivitas gempabumi dengan penyesaran mendatar yang berarah utara-selatan tersebut.

Patut disyukuri bahwa peristiwa gempa bumi kuat ini dibangkitkan oleh sesar dengan arah pergerakan mendatar, sehingga tidak memicu terjadinya tsunami.

Verifikasi yang dilakukan terhadap peralatan monitoring pasang surut air laut (tsunami gauge) yang tersebar di pantai barat Sumatera disimpulkan bahwa tsunami memang tidak terjadi.

BMKG secara resmi mengakhiri peringatan dini tsunami tepat pada pukul 22.32.42 WIB.


Lokasi ini berada di antara Kepulauan Mentawai dan zona Ninetyeast Ridge.

Ninetyeast Ridge merupakan punggungan dasar laut di Samudera Hindia. Punggungan ini memiliki panjang sekitar 5.000 kilometer dari Teluk Benggala ke selatan hingga sebelah barat Benua Australia.

Punggungan ini diduga terbentuk oleh proses geologis jejak pergerakan benua mikro India dari selatan ke utara sejak 71 juta tahun lalu.


Pantai barat Sumatera dinyatakan aman, sehingga bagi masyarakat pesisir pantai yang sempat melakukan evakuasi dihimbau untuk kembali ke rumah-masing.

Hingga hari Kamis dini hari pukul 03.00 WIB tercatat ada enam aktivitas gempa bumi susulan dengan kekuatan yang terus mengecil.

Berdasarkan data gempa bumi susulan ini diyakini bahwa tidak akan terjadi gempa bumi dengan kekuatan yang lebih besar.

Untuk itu masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan tidak terpancing oleh isu.

Pastikan bahwa informasi terkait gempa bumi dan tsunami bersumber dari BMKG.

Daratan Mengalami Pergeseran


Dikutip dari Kompas.com, gempa mengakibatkan pergeseran Sumatera.

Peneliti tektonik dan geodinamika dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Endra Gunawan, mengungkapkan, "Hasil preliminary model menunjukkan bahwa daratan di bagian barat Sumatera bergerak hingga dua centimeter."


Menurut analisis Endra, yang menggunakan model dislokasi elastis dan diunggah di jejaring sosialnya, Rabu (2/3/2016), pergeseran terjadi ke arah Pulau Sumatera.

Pakar gempa ITB lainnya, Irwan Meilano, mengatakan bahwa gempa ini turut mengubah persepsi tentang kegempaan di Sumatera.

Gempa ini membuktikan bahwa wilayah samudra juga memiliki sesar geser.

"Gempa sesar geser bisa terjadi di tengah samudra apabila terdapat perbedaan kecepatan pergeseran mendatar di dalam lempeng. Kejadian ini terbukti pada saat gempa 11 April 2012 di Samudra Hindia," kata Irwan.

Menurut dia, daerah Samudra Hindia yang disebut "Ninety East Ridge" memiliki pergeseran horizontal yang bervariasi sehingga memungkinkan adanya akumulasi energi yang dilepaskan sebagai gempa sesar geser mengiri (sinistral).( Man | makassar.tribunnews.com )




 


 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.