Header Ads

Ada Apa dengan KIP Aceh Utara?

acehbaru.com | Lhokseumawe - Ribuan kotak suara dan bilik suara milik Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh Utara dinyatakan hilang di gudang penyimpanan Desa Keude Cunda, Lhokseumawe, Aceh, sudah sejak dua minggu lalu.

Kejadian yang menghilangkan 2.011 Bilik dan 2.892 kotak suara berbahan alumunium, serta dua karung beras mur dan baut dengan jumlah dua karung beras raib tersebut baru mencuat sejak Jumat, 11 Maret 2016.

Perkembangan kasus setelah resmi dilapor ke Polres Lhokseumawe dinyatakan sudah ditangkap seorang yang diduga sebagai penadah barang curian tersebut.

“Anggota sudah mengamankan penadahnya. Kasus itu sedang ditangani Polres Lhokseumawe untuk menyelidiki siapa pelakunya,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Aceh, Kombes Nurfallah seperti dilansir aceh.tribunnews.com, Sabtu, 13 Maret 2016.

Sekretaris KIP Aceh Utara, A Rahman TB menduga, kemungkinan logistik Pilkada itu dicuri dua minggu lalu. Sebab, untuk mengangkut sekaligus tidak mungkin karena jumlah sangat banyak.

Usai mengetahui kejadian itu, pihaknya juga sudah melaporkannya ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat dan KIP Aceh, sehingga bisa disediakan untuk Pilkada 2017, apalagi kotak dan bilik tersebut tak tersisa satu pun.

“Kami juga sudah dipanggil penyidik untuk dimintai keterangan. Dalam pertemuan dengan Polres Aceh Utara dan Polres Lhokseumawe saya juga sampaikan bahwa gudang itu tak ada penjagaan dan tak ada CCTV, karena ketika itu tidak cukup anggarannya,” demikian Rahman TB.

Ketua KIP Aceh Utara Jufri Sulaiman mengatakan kasus yang baru diketahui kemarin itu (11 Maret 2016) dapat mengganggu kesiapan menyambut Pilkada serentak.

"Kami melaporkan ke KIP Aceh dan KPU Pusat terkait kasus ini. Harapan kita diberikan kotak dan bilik suara yang baru untuk Pilkada 2017," kata Jufri sebagaimana dilansir Kompas.com

Dia berharap pelaku pencurian kotak dan bilik suara itu segera tertangkap sehingga dapat diketahui ke mana kotak dan bilik suara itu dijual.

Bagaimanakah kisah selanjutnya, apakah penegak hukum hanya ingin mendapatkan penadah barang curian itu, atau bakal mengungkap tuntas motiv hinga modus kasus itu?

Apakah ini murni pencurian akibat kondisi ekonomi yang kian terjepit sehingga pelaku tergiur dengan harga aluminium atau halma sebutan para pengumpul barang bekas yang mahal ? atau ini adalah bagian cerita pra pilkada hingga di 'sini' ada yang menangis dan bersandiwara..? .....

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.