Header Ads

Pusat prustitusi bernama Kalijodo rencana di 'Cerai' Ahok. Ini kisah namanya

acehbaru.com – Dari namanya Kalijodo mengartikan Sungai Jodoh atau tempat bertemu jodoh. Nama tempat yang sebelumnya dikenal warga dengan Kali Angke ini bukan berubah secara sembreng menjadi Kali Jodo, tapi nama ini telah ada sejak tahun 1960an silam.

Ini kisahnya

Penulis novel senior, Remy Sylado, pernah membuat penelitian di Kalijodo, Jakarta Utara dalam laman Cnn Indonesia mengisahkan Menurut Remy, Kalijodo memiliki nilai historis dalam perkembangan kota Jakarta. “Sebagai lokasi sentral ekonomi yang menghidupkan Jakarta,” katanya.

Dari literatur yang dipelajari Remy, asal muasal Kalijodo merupakan tempat persinggahan etnis Tionghoa yang mencari gundik atau selir.

Saat itu, Batavia sekitar tahun 1600an di bawah kekuasaan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), mayoritas penduduknya merupakan  etnis Tionghoa.

“VOC di bawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen pernah melakukan survei yang hasilnya menyebutkan mayoritas masyarakat Batavia merupakan etnis Tionghoa,” kata Remy.

Masyarakat berlatar belakang etnis Tionghoa ini merupakan orang-orang yang melarikan diri dari Mansuria yang ketika itu sedang mengalami perang.

“Mereka melarikan diri ke Batavia tanpa membawa istri, sehingga mereka mencari gundik atau pengganti istri di Batavia,” kata Remy.

Dalam proses pencarian gundik itu, etnis Tionghoa itu kerap bertemu di kawasan bantaran sungai. Tempat yang dijadikan pertemuan pencarian jodoh itulah yang kemudian dinamakan Kalijodo.

Budayawan Betawi Ridwan Saidi dalam laman Kompas.com menceritakan masa silam semasih warga menyebut tempat itu Kali Angke, warga sering menyebut Peh Cun di Kali Angke. “Karena orang banyak dapat jodoh di situ,disebutlah Kalijodo,” Katanya.

Ia melanjutkan Peh Cun adalah tradisi Cina  yang diselenggarakan setiap hari 100 penanggalan imlek. Salah satu tradisi dalam perayaan Peh Cun adalah pesta air.

Pesta air itu diikuti oleh muda-mudi laki-laki dan perempuan yang sama-sama menaiki perahu melintasi Kali Angke. Setiap perahu akan berisi tiga sampai empat orang laki-laki atau perempuan. Di perahu tersebut, si laki-laki akan melihat ke perahu yang berisi perempuan.

Jika laki-laki senang dengan perempuan yang ada di perahu lainnya ia akan melempar kue yang bernama Tiong Cu Pia. Kue ini terbuat dari campuran terigu yang di dalamnya ada kacang hijau.

Bagi perempuan yang ditaksir jika ia senang ia akan melemparkan kue sejenis ke arah laki-laki yang menyukainya. Dari sinilah kemudian kawasan ini berubah menjadi Kalijodo karena menjadi kawasan untuk mencari jodoh.

Berbeda dengan saat ini, di masa itu Kali Angke masih jernih. Itulah mengapa walau tradisi ini dilakukan oleh etnis Tionghoa, tetapi masyarakat umum tetap memadati Kali Angke untuk melihat perayaan tersebut.

Tradisi Peh Cun dan Imlek sendiri tidak lagi dirayakan setelah tahun 1958 setelah pemerintah mengeluarkan aturan tentang hal tersebut. Aturan tersebut dibuat oleh Wali Kota Jakarta Sudiro yang menjabat diera 1953-1960.  Walikota masa itu, jabatannya setara dengan gubernur di masa kini.

Kalijodo Menjadi Kawasan Prostitusi

Salah satu lokasi prostitusi yang telah ada di Jakarta sejak abad ke-18 adalah Kawasan Kalijodo. Salah satu buku yang menggunakan kawasan lokalisasi ini sebagai setting adalah Ca-Bau-Kan yang ditulis oleh Remy Silado. Bahkan pada bab II, Remy menuliskan bab khusus tentang Kalijodo.

Berbeda dengan Ridwan Saidi yang menceritakan asal muasal nama nama Kalijodo berdasarkan pesta air pada tradisi Peh Cun, Remy Silado dalam novelnya menceritakan jika ca-bau-kan lah yang kemudian melahirkan istilah ini.

Ca-Bau-Kan sendiri artinya perempuan. Tetapi mengalami penyempitan makna menjadi perempuan pribumi yang diperbini Tionghoa dalam kedudukan yang tidak selalu memperdulikan hukum Hindia Belanda. Dan kemudian menjadi Ca-bo untuk menyebut istilah pelacur.

“Kali jodo selama berabad telah menjadi tempat paling hiruk pikuk di Jakarta. Di sini, sejak dulu terlestari kebiasaan imigran Tionghoa menemukan jodoh, bukan untuk hidup bersama selamanya, tetap sekadar berhibur diri sambil menikmati nyanyian klasik Tionghoa, dinyanyikan para ca-bau-kan,” tulis Remy Silado.

“Para tauke-tauke yang mengelola ca-bau-kan akan memberi mereka kostum model opera berbahan sutera dengan warna-warni menyolok disertai bordir-bordir yang bermutu. Mereka berada di perahu-perahu yang dipasang lampion Tiongkok, bergerak pelan-pelan di kali itu,” demikian setting novel Ca-Bau-Kan.

Di perahu itu para Ca-bau-kan menawarkan jasanya dengan menyanyikan lagu-lagu bersyair asmara dalam bahasa Cia-im. Walaupun ca-bau-kan ada yang perempuan tionghoa totok, tetapi kebanyakan asli pribumi yang mahir menyanyikan lagu Tionghoa walaupun tidak mengerti arti nyanyiannya.

Walaupun demikian, pengunjung kalijodo bukan hanya dari etnis Tionghoa tetapi juga pelbagai suku yang mencari hiburan di situ.

Walaupun pada awalnya, kegiatan prostitusi tersebut dilakukan diatas perahu yang berlayar dari kwitang ke Kalijodo, lambat-laun berubah menjadi rumah-rumah bordir. (irv)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.