Header Ads

Ketika Para Petani Berani Ngutang Beras

acehbaru.com | Lhokseumawe — Angka kemiskinan terus merangkak, pengangguran kian hari makin menjadi-jadi, tidak terkecuali hasil produksi perguruan tinggi akibat minimnya lapangan kerja. Anak yang kekurangan gizi hingga berakibat pada TBG mudah ditemui, sampai busung lapar kini menyerang Aceh yang dikata kaya SDA dan paling banyak mengalir dana dari Jakarta.

Meski anggaran dana belasan triliun setiap tahun turun bagai hujan, namun hal tersebut belum mampu menjawab persoalan petani dipedalaman yang gagal panen akibat kekeringan dan banjir.

Kini Usia padi yang ditanam petani disawah dikawasan Sawang masih berumur genap dua bulan, masa panen belum tiba hingga membuat para petani mulai utang beras untuk melunasi tuntutan pemenuhan kebutuhan utama.

Hal tersebut dikatakan Fuadinur, seorang guru honorer yang juga berprofesi sebagai operator kilang padi keliling (pabrek - brek keliling, sebutan masyarakat Aceh, red) kepada acehbaru.com, Senin, 1 Februari 2016, sore.

Warga Blang Reuling Kecamatan Sawang, Aceh Utara ini menyebutkan, meskipun usahanya tergolong sangat kecil namun, sudah banyak orang yang berani utang beras.

"meunyoe han geumeuutang pue geupajoh, pat geucok laen? meunyoena breuh keupue geujak meuutang, (kalau mereka nggak ngutang lantas mereka makan apa? kalo mereka masih memiliki stok beras pastinya nggak ngutang)" kata Fuad.

[caption id="attachment_28589" align="aligncenter" width="1024"]Seorang operator pabrik keliling (kilang padi keliling) sedang menggiling padi didepan rumah warga Blang Reuling Kecamatan Sawang, Aceh Utara, Sabtu, 13 Februari 2016, sore. | Photo: acehbaru.com/Isbahannur | Amir Usman (43) operator pabrik keliling (kilang padi keliling) sedang menggiling padi didepan rumah warga Blang Reuling Kecamatan Sawang, Aceh Utara, Sabtu, 13 Februari 2016, sore. | Photo: acehbaru.com/Isbahannur |[/caption]

Mereka tidak banyak pilihan untuk memenuhi tuntutan kebutuhan pokok, mereka memberanikan diri untuk itu, "lebih baik tidak ada ikan ketimbang nggak ada beras" kata seorang petani di Aceh Utara.

Para pemilik kilang padi keliling dan penampung beras dari pabrik keliling mengatakan petani umumnya kontak lansung dengan para operator, karena langganan, sudah saling mengenal sehingga transaksi utang berjalan.

Lain kisah dengan Armansyah yang menampung beras hasil kerja pabrik keliling, diwarung miliknya di Sawang, Aceh Utara, para petani justru kebanyakan ngutang dan dibayar setelah musim panen.

"Ngutang hampir semua, lihat sendiri kan tadi petani datang hanya menanyakan ada beras dan lansung mengambil dua karung beras, mereka ngak tanya harga mereka butuh beras, dan hanya itu kemampuan saya untuk membantu," katanya.

Di Nisam, Aceh Utara ibu-ibu rumah tangga mengaku tidak ngutang sama pabrik keliling. "umumnya pabrik keliling yang mondar-mandir dan beroperasi daerah ini orang luar, kita telpon mereka datang, jadi agak segan bila ngutang, kami disini biasanya kalau ngutang beras lansung ke kilang padi di kampung, tapi kilang itu milik pribadi, bukan usaha koperasi kampung" kata Mardiana dan Nailis warga Panton Kecamatan Nisam, Aceh Utara.

Ayah Manson, Pemilik kilang padi Amco di Geureugok Kecamatan Gandapura, Bireuen menyebutkan bahwa warga tidak ada yang ngutang, karena umumnya langganan dia pegawai negeri, warung nasi, atau kios-kios pengecer beras.

Pemasok beras ke PT PIM ini dan kebeberapa daerah di Bireuen, Aceh Utara, Lhokseumawe dan Banda Aceh ini mengatakan, diwarung beras miliknya di Krueng Mane Kecamatan Muara Batu juga demikian, "tidak ada yang ngutang disini, mungkin karena warung grosir, ada satu dua itupun orang dekat" katanya.

[caption id="attachment_28586" align="aligncenter" width="1024"]Tèm brèuh (tempat penyimpanan beras) petani dipedalaman Aceh Utara kelihatan kosong, Kamis, 11 Februari 2016. |Photo: acehbaru.comIsbahannur | Tèm brèuh (tempat penyimpanan beras) petani dipedalaman Aceh Utara kelihatan kosong, Kamis, 11 Februari 2016. |Photo: acehbaru.comIsbahannur |[/caption]

Hendiah (47) warga Mukim Sawang Utara, Aceh Utara mengatakan realita para petani ngutang beras hanya dilakukan oleh rumah tangga yang tidak memiliki simpanan padi, beras atau uang. "disamping tidak ada tempat pinjam, karena kebiasaan kita kalau beras habis kan bisa minjam sama tetangga, ya karena stok beras tetangga juga habis ya harus ngutang sama pabrik keliling" katanya.

Nasib Janda beranak tiga ini tidak sama dengan para petani lain, karena Hendiah memiliki pemasukan atas usaha pengambilan material pembangunan yang dibangun oleh anak kampung diatas tanahnya. "jadi biaya sewa dibayar lancar, kadang tidak dibayar juga, tapi arus kita minta baru dibayar, kalau misalnya saya butuh juga bisa pinjam disana, nanti dipotong dari biaya sewa, yang minta pun bukan saya tapi anak saya yang masih kelas 5 SD" katanya kepada acehbaru.com, Selasa, 2 Februari 2016.

Feri warga Buloh Blang Ara Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara juga membenarkan hal yang hal sama, didaeranya dikatakan petani harus ngutang akibat banjir dan hama penyakit? "disini jangankan untuk makan, untuk benih saja warga disini tidak punya" katanya. (Isb)

Baca juga: Kenapa Petani Berani Ngutang Beras?

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.