Header Ads

Kenapa Para Petani Berani Ngutang Beras?

acehbaru.com | Lhokseumawe - Mauliza (22) mahasiswa Universitas Al Muslem asal Damakawan Kecamatan Gandapura, Bireuen mengatakan (baca) ketika para petani berani ngutang beras itu menandakan kondisi pangan mereka kritis ditengah kejayaan elit pejuang berkuasa memainkan peran dengan uang belasan triliun rupiah tiap tahun.

Para petani ngutang beras disebabkan kondisi yang memaksa oleh banyak faktor, mulai gagal panen akibat banjir, kadang ada warga yang harus tanam dua kali, begitu juga dengan hama, disamping itu juga akibat gagal panen sawah tadah hujan, dan dampak kemarau dimusim tanam sebelumnya (tak tersedia irigasi).

[caption id="attachment_28599" align="aligncenter" width="1826"]Mauliza, Mahasiswa Mauliza (22) mahasiswi Universitas Al Muslem Bireun[/caption]

Cewek berparas cantik yang akrab disapa Moda ini, mengatakan tradisi saling tolong-menolong memberi dan berani pinjam beras sama tetangga masih berlaku dikampung-kampung, ini sangat membantu satu sama lain. "interaksi sosial masyarakat sangat bagus dan perlu dipertahankan" katanya kepada acehbaru.com Jum'at, 5 Februari 2016.

Sebenarnya saya agak risih, sedikit janggal dan malu memahami topik penelusuran acehbaru.com, masak petani ngutang beras? tapi kondisinya real, pemanggul cangkul yang saban hari kesawah tetapi harus negutang beras, ini juga dampak dari naiknya harga barang, terutama kebutuhan petani seperti pupuk, pestisida dan kebutuhan barang pokok lain yang berujung naiknya upah" Katanya.

Pendapatan atau pemasukan kebanyakan petani hanya melulu pada hasik penen, sementara pendapatan lain lebih minim.

"parahnya lagi, sebelum turun kesawah para petani saat ini sudah memiliki hutang kebutuhan (pokok) sehari-hari diwarung, belum lagi tuntutan pendidikan anak, obat-obatan, kebutuhan bajak sawah, biaya tanam, pemupukan, hingga biaya perawatan, ini situasi super sulit, sementara biaya panen agak mudah karena sudah dekat dengan hasil, sehingga bisa dibebankan lansung pada hasil panen, itu belum masuk kebutuhan pakaian 'baje baroe' (baju baru), kadang ada juga yang membebankan pada hasil panen, tapi khusus untuk anak.

Sementara orang tua cenderung tidak mementingkan lagi baju baru, pakaian apa adanya asal sudah berpakaian sudah lebih dari cukup, maka jangan heran bila sering kita lihat petani memakai baju partai politik.

[caption id="attachment_28598" align="aligncenter" width="1945"]Munir Usman (54) seorang petani di Lhok Kambuek Gampoeng Blang Reulieng Kecmatan Sawang, Aceh Utara, terlihat menggunakan baju partai mantan pemberontak berkuasa paling berkuasa di Aceh, usai melakukan penyemprotan padi di sawah, Jum'at, 12 Februari 2016, sore. |Photo: acehbaru.com/Isbahannur | Munir Usman (54) seorang petani di Lhok Kambuek Gampoeng Blang Reulieng Kecmatan Sawang, Aceh Utara, terlihat menggunakan baju partai mantan pemberontak berkuasa paling berkuasa di Aceh, usai melakukan penyemprotan padi di sawah, Jum'at, 12 Februari 2016, sore. |Photo: acehbaru.com/Isbahannur |[/caption]

"sekarang para petani dibuat ibarat kerbau pembajak sawah, tapi dia tidak menikmati hasilnya, cuma singgah sebentar, yang dinikmati petani hanya ongkos kerja dirinya yang tidak dimasukkan dalam hitungan upah" Kata Moda.

Kondisi masyarakat Aceh umunya saat ini sudah masuk kategori tragis, saat ini para petani tidak lagi memikirkan tingkat akses pangan yang bernutrisi, "bisa makan sehari sekali bagi para petani itu lebih dari cukup, meskipun tanpa lauk pauk" katanya.

[caption id="attachment_28601" align="aligncenter" width="1906"]Pabung Kodim Aceh Utara Mayor Kav. Yusri (kanan) di rumah Ti Hawa, warga miskin di Batee Leusong, Seumirah, Nisam Antara, Aceh Utara, menjenguk anak yang diserang busung lapar.| Photo: Irman/portalsatu.com | Pabung Kodim Aceh Utara Mayor Kav. Yusri (kanan) di rumah Ti Hawa, warga miskin di Batee Leusong, Seumirah, Nisam Antara, Aceh Utara, menjenguk anak yang diserang busung lapar.| Photo: Irman/portalsatu.com |[/caption]

Hermansyah, Alumni Fakultas Ekonomi, Unimal yang tergabung dalam Forum Komunikasi Mahasiswa Aceh mengatakan kondisi petani terpaksa ngutang beras adalah ekses dari kelangkaan pupuk, dan kenaikan harga barang, terutama barang kebutuhan pokok.

Permainan spekulan yang kontak lansung dengan petani berpengaruh besar disini, mereka mempermainkan harga barang, membolak-balikkan, dari melimpah menjadi langka, permainan ini mempengaruhi harga barang.

"pupuk saja sulit didapatkan para petani dikampung-kampung, pupuk yang mereka beli selama ini bukan pupuk bersubsidi, tapi pupuk bersubsidi dengan harga tinggi, karena untuk mendapatkan pupuk bukan hal mudah bagi masyarakat kecil, bukan begitu datang kekios resmi lansung ada, saya pun pengencer dikios resmi dapat pupuk dari para mafia dari perusahaan pupuk dengan 150.000/sak, itu belum soal gas 3kg yang dijual 20.000 sampai 25.000, yang sangat berpengaruh pada kas simpanan masyarakat yang bakal berefek pada hal lain" Kata pengencer pupuk dikios resmi di salah satu Desa di Sawang, Aceh Utara, Selasa, 9 Februari 2016.

Ketetapan, juknis atau segala aturan tentang pupuk bersubsidi dan gas 3kg hanya berlaku dimeja dan dimulut pemerintah, tidak berlaku ketika proses transaksi pupuk bersubsidi atau gas 3kg ditengah-tengah masyarakat, tidak ada ketetapan harga yang jelas" kata Arman Ramli kepada acehbaru.com.

Subki warga asal Beureughang Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara membenarkan kondisi yang dialami warga disana, sama. Musim kemarau dan banjir menjadi masalah besar bagi petani dan semua dampak perubahan iklim berpotensi mengurangi hasil pertanian dan peningkatan harga kebutuhan pokok akan terjadi, tentunya juga berimbas pada meningkatnya rumah tangga yang serba kekuarangan, hingga kelaparan yang berdampak timbulnya penyakit berpengaruh sampai kepada angka kematian tragis (TBC, busung lapar dll)Lumpuh layu

"ini realita yang terjadi semoga semua elemen bekerja keras untuk mendukung dan memberikan ide-ide cemerlang kepada pemerintah Gampong untuk melihat problem yang dialami gampong dalam upaya mencari solusi berbentuk program yang dapat didanai dalam aggaran desa, inilah target dana desa bisa menuntaskan persoalan warga di gampong dengan ending kesejahteraan yang berkeadilan, ini solusi, disamping jalan keluar yang bakal diambil pemerintah nantinya kalau kalau tidak sibuk cari dukungan pemilu" Kata Subki kepada acehbaru.com, Sabtu, 13 Februari 2016. (Isb)

Baca juga: Ketika Para Petani Berani Ngutang Beras

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.