Header Ads

Camp Jihat Jantho,dan Tudingan Sofyan Tsauri. Yusuf Qardhawi Intel ?

acehbaru.com - Anda pasti ingat kejadian penyerbuan lokasi pelatihan militer yang kemudian di sebut kelompok teroris di Jalin Jantho Aceh Besar tahun 2010 silam. Sebuah tulisan yang ditulis mantan anggota kepolisian Sofyan Ats-Tsauri  yang menjadi Pelatih relawan jihat di Pasantren Mujahidin Blang Weu Baroh Lhokseumawe membuka kisah.

Dalam tulisan yang berjudul Napak Tilas Rihlah Jihadku yang ditulis oleh  Sofyan Ats-Tsauri yang dipublis di media muqawamah.net

Ia megisahkan, setelah keluar dari dinas kepolisian, pada tahun 2008 bulan Agustus, saya mengadakan kontak dengan Akh Yudi dan sekaligus pulang kampung untuk mengunjungi mertua saya di Aceh yang memang asli orang Aceh di  Pidie. Setelah bertemu di Aceh, saat itu saya dan Akh Yudi sepakat untuk mengadakan program Dakwah di Aceh.

Tepatnya pada awal tahun 2009, saya diminta oleh Akh Cepi (Solo) agar bersama ustadz Shibghah (Magetan) kembali ke Aceh untuk menjajaki program Dakwah yang ingin dibangun disana.

Saat itu program yang ingin kita kembangkan adalah mencetak kader Ulama dan Umara di Aceh. ‘Ala kulli hal, sesampai di sana ustadz Shibghah menghubungi rekannya melalui email untuk datang ke Aceh, dan rekannya tersebut akhirnya datang tidak lama setelah kami 3 hari berada di Aceh.

Di kemudian hari, barulah saya mengetahui bahwa Hamzah tersebut memiliki nama asli Dulmatin, buronan kelas dunia yang dibanderol 10 juta $ (sepuluh juta dolar) atau setara dengan 93 miliar rupiah kurs saat itu.

Kami berkenalan dengannya, orangnya ramah, berwibawa dan familiar dengan kami, setelah datangnya rekan kami ini dari Jakarta, kami bertiga langsung membuat program daurah Syar'iyyah  selama 1 minggu dengan pemateri saya sendiri, ustadz Shibghah dan Akh Hamzah (Dulmatin ) dengan materi sebagai berikut :

  1. Ukhuwah bainal Muhajirin wal Anshar. (Pemateri saya sendiri)

  2. Fadhilatul Jihad. (Ust Hamzah).

  3. Aqidah (Ust. Shibghah)


Setelah selesai Daurah, kami menunjuk Akhi Yudi Zulfahri sebagai Mas'ul (penanggung jawab) ikhwah di Aceh, dengan tugas mengadakan program Dakwah wal Jihad dan mengkoordinir para ikhwah di Aceh, pada saat itu, kegiatan kami berjalan dengan lancar tanpa ada halangan yang berarti.

Munasharah Palestina, FPI Aceh dan Munculnya Tengku Yusuf Qardhawi

Ketika kami tengah sibuk dengan program-program yang kami jalankan di Aceh, terjadilah peristiwa penyerangan Israel kepada Palestina yang menyebabkan keprihatinan di seluruh dunia Islam. Dan khususnya di Aceh, salah satu ormas Islam yang dikenal dengan nama FPI cabang Aceh mengadakan kegiatan "Munasharah Palestina", sebuah kegiatan penggalangan dana sekaligus melakukan perekrutan relawan untuk diberangkatkan ke Palestina dalam rangka Jihad fi Sabilillah, mereka banyak mendirikan pos-pos bantuan dana di kota-kota Aceh dan berhasil menggalang dana dalam jumlah besar yang siap disalurkan ke Palestina.

Ketika dana sudah terkumpul ratusan juta mereka mulai mengadakan pelatihan sebagai persiapan ke Palestina yang dilaksanakan di Dayah (pesantren) Darul Mujahidin Lhokseumawe Aceh Utara.

Pada saat itu, Seorang ikhwan Aceh bernama Akh Ahmad menghubungi akhi Yudi dan mengatakan bahwa Ketua FPI Aceh, Tengku Yusuf Qardhawi, meminta kepadanya untuk mencarikan seorang pelatih militer untuk relawan FPI yang akan mengikuti kegiatan pelatihan milliter di Dayah (Pesantren) Darul Mujahidin Aceh Utara. Saat itu juga Akh Yudi langsung mengadakan musyawarah bersama kami.

Pada awalnya yang kami usulkan untuk menjadi Pelatih adalah Akh Hamzah (Dulmatin) mengingat beliau adalah seorang alumni Afghanistan dan Moro, namun beliau buru-buru menolak dan mengatakan beliau tidak bisa hadir di acara-acara terbuka seperti itu. Beliau pun menyarankan agar saya yang mengambil posisi tersebut mengingat saya adalah seorang mantan Polisi dan sudah pernah terlibat dalam operasi di Aceh melawan GAM. Atas takdir Allah, saat itu saya menyanggupi dan resmi ditunjuk untuk menjadi pelatih bagi para relawan FPI.

Pertengahan Januari saya mulai melatih para relawan FPI Aceh selama sekitar 1 pekan lamanya. Peserta pelatihan waktu itu berjumlah sebanyak 100 orang dengan materi dasar kemiliteran seperti Drill Contact, PJD (Pertempuran Jarak Dekat), bela diri, baris-bernaris, Dangran / Penghadangan Kendaraan. Alhamdulillah  dari 100 orang yang mengikuti pelatihan hanya terpilih lebih kurang 17 orang yang diberangkatkan ke Jakarta oleh Ketua FPI, Tengku Yusuf Qardhawi.

Akan tetapi, setibanya mereka di Jakarta ternyata tidak didapati adanya pemberangkatan ke Palestina! Jelas ini adalah penipuan, karena FPI di Aceh yang dipimpin oleh Tengku Yusuf Qardhawi inilah yang banyak berkoar-koar, berkampanye dan menggalang dana dengan berkedok akan mengirimkan pejuangnya di bumi Quds Palestina.

Pada waktu itu, tepatnya jam 21.00 WIB akhir bulan Januari atau Februari saya di telepon oleh Tengku Mukhtar untuk ke Markas FPI di Petamburan guna melaporkan perihal penipuan ini, dan disampaikan kepada saya bahwa 17 orang anak Aceh peserta persiapan militer ke Palestina yang merasa tertipu oleh FPI ini hendak memukuli Tengku Yusuf Qardhawi.

Kemarahan mereka ini bisa dipahami, bagaimana tidak? Mereka sangat yakin akan janji-janji FPI untuk diberangkatkan ke bumi jihad Palestina, akan tetapi ternyata FPI pusat tidak ada yang tahu jika ada keberangkatan ke Palestina. Pada saat itu, saya menenangkan teman-teman FPI Aceh peserta pelatihan ini untuk bersabar dan agar jangan terjadi pengeroyokan kepada ketua FPI Aceh ini.

Setelah situasi kembali tenang, saya menawarkan kepada teman-teman dari Aceh ini untuk berkunjung ke rumah saya di Depok. Untuk mengobati kekecewaan mereka dan mengisi waktu kosong mereka selama di Jakarta saat itu saya berinisiatif mengajarkan kepada mereka beberapa materi agama selama 1 bulan dengan makan, minum dan tempat tinggal gratis.

Di sela-sela kegiatan ini saya pun mencoba menghubungi seorang kenalan saya yang ada di Mako Brimob, yaitu Ahmad Sutrisno, seorang sipil rekanan Polri yang memiliki akses yang luas di Mako Brimob Kelapa Dua, untuk membantu saya mengadakan Pelatihan menembak di Mako Brimob untuk para relawan FPI yang sedang bersama saya. Saat itu alasan yang saya kemukakan mereka ini adalah para Satpam yang sedang mengikuti pelatihan. Ahmad Sutrisno pun menyanggupi permintaan saya karena dia pikir saya masih aktif sebagai anggota Polres Depok.

Awal Timbulnya Fitnah

Ada kejadian menarik yang nantinya menjadi cikal bakal fitnah, yaitu istri saya lupa meletakkan surat PTDH (surat Pemberhentian Tidak Dengan Hormat) dari Polres Depok tentang perihal pemecatan saya dari anggota POLRI. Semua ini adalah semata-mata karena takdir Allah, dan ini semua waAllahi bukanlah rekayasa atau di buat-buat dan saya bersaksi di hadapan Allah tentang masalah ini.

Surat PTDH beserta lampiran-lampirannya tersebut atas takdir Allah belum sempat disingkirkan dari ruang tamu yang akhirnya di baca oleh anak-anak Aceh yang menjadi korban penipuan FPI tersebut.

Kejadian tersebut telah menimbulkan tanda tanya dan keheranan, lalu mereka mengatakan, "Apa betul ustadz dulu seorang polisi?". "Mengapa ustadz bisa di pecat?". Lalu saya jawab, "Iya benar, saya di PTDH karena alasan prinsip."

Dalam penjelasan yang saya berikan kepada mereka, saya juga mengatakan kepada mereka untuk tidak usah ragu dengan saya.  Namun jika mereka ragu silahkan pulang meninggalkan saya. Akan tetapi ternyata para ikhwah relawan FPI ini telah percaya (tsiqah)  dan muthma'in  (tenang dan nyaman) dengan saya.

[caption id="attachment_28534" align="alignnone" width="620"]Tgk. Yusuf Qardawi (kedua dari kanan) dan Tgk. Muslim Ath-Thahiri (kedua dari kiri) saat mengadakan pelatihan relawan FPI Aceh untuk Palestina Tgk. Yusuf Qardawi (kedua dari kanan) dan Tgk. Muslim Ath-Thahiri (kedua dari kiri) saat mengadakan pelatihan relawan FPI Aceh untuk Palestina[/caption]

Terkait dengan Tengku Yusuf Qardhawi, saya teringat bahwa suatu hari ketika makan malam disebuah warung mie Aceh dia mengatakan kepada saya bahwa dia punya kenalan seorang kolonel di Aceh yang menaruh perhatian terhadap keberadaan LSM/NGO asing yang mempunyai kepentingan di kawasan Aceh, dalam percakapan tersebut dengan sendirinya Tengku Yusuf Qardhawi ini malah memperlihatkan kedoknya sebagai agen intelijen, hal itu terjadi karena saat itu Yusuf Qardhawi ini  menyangka bahwa saya juga merupakan komunitas intelijen.

Dalam pembicaraan di warung mie Aceh tersebut, Tengku Yusuf Qardhawi yang notabene merupakan Ketua Umum FPI wilayah Aceh ini mengajak saya (Sofyan) untuk berkerja sama menyerang NGO asing yang saat itu ada di aceh, dengan alasan Kristenisasi dan bermain mata dengan GAM.

Dari irisan inilah FPI Aceh yang saya yakin telah disusupi ini, mengajak kerja sama dengan kelompok saya di Aceh. Saya mencurigai dia (Yusuf) sebagai agen yang menggalang orang FPI guna kepentingan operasi mereka.

Hal lain yang mendukung keyakinan saya bahwa ia anggota dari komunitas intelijen adalah dalam peristiwa diketahuinya surat PTDH (Pemberhentian Tidak Dengan Hormat) yang saya sebutkan di atas, ia terlihat sangat gelisah.

Masalah tentang Tengku Yusuf Qardhawi ini sempat saya diskusikan dengan akh Yudi Zulfahri. Saya (Sofyan) bertiga dengan Ustadz Dulmatin dan akh Yudi yakin bahwa Yusuf Qardhawi ini adalah agen yang suatu saat nanti akan kita buat perhitungan. Dari sini saya mulai berhati-hati dengan makhluk satu ini, termasuk hubungan dengan anak-anak FPI Aceh di Aceh. (1) Bersambung.....

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.