Header Ads

Camp Jihad Jantho, Sofyan Tsauri beli Senjata untuk pelatihan militer Aceh

acehbaru.com - Dalam tulisan panjangnya "Napak Tilas Rihlah Jihad Sofyan Ats-Tsaury" yang dipublikasikan muqawamah.net Sofyan juga mengungkap soal dia membeli senjata untuk kepentingan pelatihan militer  di Jalin Jantho. Kisahnya....

Ustadz Hasan alias Khaidir alias Untung asal Surabaya, beliau merupakan alumni Afghanistan angkatan ke 5 yang syahid (insya Allah) terbunuh oleh Densus 88 di tahun 2011.  Suatu hari, beliau menghubungi saya agar saya menyiapkan amnunisi cal 11mm, 9 mm, cal 5,56 dan cal 7,62 mm, dan mulai memesan senjata laras panjang seperti M16 dan AK 47.

Saya menyanggupi permintaan beliau ini karena saya memiliki link untuk mendapatkan barang-barang pesanan tersebut dari Ahmad Sutrisno yang sering mendapatkan akses ke gudang senjata di Cipinang Jakarta Timur.

Ahmad Sutrisno (vonis 10 tahun) adalah nama asli penyuplai utama senjata kegiatan I'dad Pelatihan Militer di Aceh. Dia bukan dari pergerakan apapun, atau dari kelompok pengajian manapun.

Dia murni sipil, murni cari makan, dia seorang yang ditakdirkan oleh Allah mendapatkan proyek dari Mabes Polri untuk pengerjaan perawatan senjata, karena biasanya proyek di atas 100 juta haruslah melalui tender.

Perusahaan tempat Ahmad Sutrisno berkerja adalah salah satu pemenangnya, dari sana ia mengenal beberapa penjaga gudang senjata logistik Mabes Polri seperti Briptu Tatang Mulyadi (vonis 10 tahun) dan Briptu Abdi Tunggal (vonis 10 tahun).

Sejatinya, Ahmad Sutrisno, Tatang Mulyadi dan Abdi Tunggal sama sekali tidak mengetahui‎ rencana saya membeli senjata ini. Mereka bersedia menjual senjata kepada saya karena mereka pikir saya masih anggota aktif Polres Depok.

Mereka bukan agen intelijen, bukan orang pesanan siapa-siapa, dan saya berani bersumpah dihadapan Allah ta'ala untuk menjamin bahwa mereka bukan bagian permainan skenario intelijen sebagaimana tuduhan jahat rekan-rekan FPI yang menuduh mereka sebagai bagian konspirasi intelijen.

Mereka hanya orang-orang yang lemah iman, terdesak oleh kebutuhan ekonomi, dan sekadar mencari tambahan untuk uang belanja. Untuk itulah mereka menjual senjata guna bisa memperoleh tambahan gaji mereka yang pas-pasan.

Disinilah peran saya membujuk Sutrisno untuk bisa membeli dari gudang senjata Cipinang melalui Briptu Tatang dan Briptu Abdi Tunggal. Di   dalam persidangan di akhir tahun 2010 terbukti bahwa saya tidak pernah mengenal  kedua penjaga gudang logistik senjata ini kecuali melalui Ahmad Sutrisno.

Melalui Ahmad Sutrisno inilah sebanyak 28 pucuk senjata dan ratusan magazen serta puluhan ribu peluru kami dapatkan.

Memang tidak mudah untuk bisa mendapatkan barang-barang berbahaya tersebut, harus  melalui kesabaran, waktu yang cukup lama dan kepiawaian merayu mereka. Dan proses ini berjalan selama rentang waktu 2 tahun untuk bisa memperoleh semua persenjataan dan amunisi tersebut.

Pemesanan Senjata dan Amunisi

Selama bulan Oktober 2009 sampai dengan Februari 2010 adalah waktu pembelian senjata sebanyak 28 pucuk dengan cara dicicil, yang mana hampir setiap 1 minggu keluar 1 pucuk senjata, dan ini semua sudah tertuang dalam BAP saya.

Semua persenjataan saya serahkan kepada Ustadz Dulmatin melalui beberapa anggotanya seperti Yudi Zulfahri (mantan STPDN vonis 9 tahun dan telah bebas), Marko (DPO), Ali (DPO) dan Pak Khidir Untung alias Pak Hasan (mendapatkan syahid pada tahun 2011 ) dan melalui anggota saya seperti Zain (vonis 6 tahun) juga Akh Maulana (tertembak di Cawang).

Sejatinya saya belum mengetahui bahwa pelatihan i'dad Aceh ini akan dimulai lagi, akan tetapi intensitas pembelian senjata yang sering ini, semakin membuat saya yakin bahwa pelatihan akan terjadi dalam waktu dekat, apalagi ketika penyerahan uang 100 juta rupiah di salah satu cafe di Depok oleh Ust.

Dulmatin kepada saya. Pada saat itu  beliau menunjuk saya sebagai penangung jawab militer terhadap program I'dad Aceh, entah apa maksud beliau pada saat itu dan penanggung jawab dalam bidang apa saya juga tidak tahu, yang jelas berkonsentrasi sebagai penyuplai senjata adalah tugas baru saya  saat itu.

Ada beberapa faktor yang membuat ustadz Dulmatin memesan senjata kepada saya, hal itu berangkat dari kegagalan beliau ketika melakukan pembelian senjata di Jawa Tengah, beliau bahkan sempat tertipu hingga ratusan juta. Selain itu, beliau juga harus menanggung cost/ biaya tinggi jika harus mendatangkan dari Philipina.

Hal inilah yang membuat beliau kemudian membeli dari jalur saya yang saya miliki yaitu melalui Ahmad Sutrisno. Entah mengapa saat itu saya menikmati peran saya di sini, ada semacam kepuasan hati jika bisa membeli barang-barang unik tersebut, hingga saya sama sekali tidak memikirkan dampak  dari barang-barang tersebut di kemudian harinya.

Sekitar akhir Februari 2010 saya, Akh Ayyub dan Akh Taufik berangkat menuju Aceh untuk melihat kesiapan i’dad pelatihan militer. Saat itu saya juga bertanggung jawab terhadap beberapa anak buah saya yang saya sertakan yaitu ikhwah-ikhwah yang pernah saya latih sebelumnya dalam kegiatan Munasharah Palestina.

Namun saat itu ada perbedaan pandangan antara saya dan akhi Yudi mengenai kebijakan untuk melibatkan mereka. Hal ini karena standardisasi aqidah mereka yang belum sampai kriteria mujahid pada waktu itu, akan tetapi saya mempunyai pendapat sendiri bahwa mau tidak mau kita akan membutuhkan personel dari Aceh untuk program ini.

Singkat cerita perbedaan tersebut membawa kekecewaan bagi saya atas program pelatihan militer Aceh ini. Perbedaan pendapat saya dengan beberapa ikhwan seperti ustadz Dulmatin dan Akh Yudi Zulfahri dikarenakan adanya keterlibatan kelompok Aman Abdurahman yang dirasakan akan membahayakan program di Aceh, karena menurut saya kita akan terinfiltrasi oleh pemahaman takfiri.

Saya kecewa atas sikap keras akhi Yudi yang tidak mau melibatkan anak-anak bekas relaewan FPI dengan alasan standarisasi aqidah mereka belum sebagaimana standar Al-Qaeda.

Saya menganggap bahwa hal ini tidak masalah karena kita butuh orang-orang asli Aceh untuk menjalankan program ini. Menurut saya sangat mustahil kita memakai wilayah Aceh sebagai titik tolak untuk bergerak kita, akan tetapi tidak melibatkan orang-orang asli Aceh, ini sangat mustahil.

Akibatnya saya berinisiatif sendiri untuk mengumpulkan sekitar 20 mantan relawan FPI Aceh untuk membuka camp sendiri di daerah Samalanga, Bireun, untuk menunggu komando dan arahan dari ustadz Dulmatin.

Persenjataan yang kami miliki di camp tersebut waktu itu 2 pucuk AK 56 lipat, 1 pucuk M16 dan 4 pucuk revolver. Saya yang memimpin sendiri camp militer  yang baru ini. (3) Bersambung.....ke 4 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.