Header Ads

Camp Jihad Jantho, dan tudingan Sofyan Tsauri dalang serangan pekerja Asing di Aceh

acehbaru.com -Erhard Bauer, kepala Palang Merah Jerman untuk Aceh, ditembak pada awal November 2009 di muka Hotel Pade, Banda Aceh. Tapi dia selamat.  Rumah John Penny, wakil Uni Eropa di Aceh, ditembak orang pada pertengahan November 2009.

Selang seminggu kemudian, rumah dua guru Amerika di kawasan Darussalam, Banda Aceh, ditembak orang tak dikenal. Mungkin ini yang dimaksud Sofyan Tsauri dalam tulisannya "Napak Tilas Rihlah Jihad Sofyan Ats-Tsaury" di muqawamah.net dilakukan oleh Akh Ahmad bersama Panglima Laskar FPI Aceh, Tengku Mukhtar, tanpa perintahnya..........

***

Kembali kepada kegiatan kami sendiri bersama ustadz Dulmatin, ustadz Sibghah dan akhi Yudi… BACA : Camp Jihad Jantho,dan Tudingan Sofyan Tsauri. Yusuf Qardhawi Intel ?

Setelah selesainya Daurah Islamiyah di Aceh dan pelatihan tadrib asykari untuk para relawan FPI, kami dan ikhwah-ikhwah Aceh melihat Aceh sebagai tempat yang sangat potensial untuk merekrut kader jihad dan kami benar-benar takjub dengan kesungguhan masyarakat Aceh untuk berjihad menegakan syariat Islam.

Maka kami yakin Aceh adalah titik tolak perjuangan Islam di bumi Nusantara, ada berbagai macam faktor mengapa kami langsung jatuh cinta dengan Aceh sampai sekarang dan saya akan menyebutkan beberapa di bawah ini.

  1. Letak Geografis yang mendukung karena di Aceh banyak terdapat hutan yang luas dan memungkinkan untuk diadakannya perang Gerilya.

  2. Wilayah Aceh berbatasan langsung dengan perairan internasional yang memudahkan kami untuk escape (mundur) jika terdesak.

  3. Masyarakat Aceh masih anti dengan Indonesia.

  4. Aceh masih cinta dengan Islam.

  5. Kami mudah mencari senjata.


Demikian alasan kami untuk menggarap Aceh secara lebih serius untuk menjadikan sebagai mahjar atau Qoidah Aminah basis Al-Qaeda di Asia Tenggara.

Survei Pertama

Setelah merasa cocok kami pun berencana mengadakan I'dad Tadrib Asykari (Pelatihan Militer) untuk anak-anak Aceh, akan tetapi ternyata Akh Dulmatin akan mempromosikan masalah Tadrib Asykari ini kepada para ikhwah di Jawa. Akhirnya pada bulan Maret, ustadz Dulmatin, ustadz Ubaid dan ustadz Abu Thalut berkunjung ke Aceh untuk melakukan survei tahap pertama.

Saya secara pribadi sebetulnya mempunyai rencana agar rencana Pelatihan Militer di Aceh ini dilakukan oleh para ikhwah Aceh saja dulu. Jika program bersama ikhwah Aceh berhasil, barulah kami melibatkan ikhwah-ikhwah dari tanah Jawa. Akan tetapi saya harus tunduk dengan keputusan para ikhwah mayoritas untuk segera melibatkan ikhwan-ikhwan dari Jawa.

Sebelum membuat program Aceh sebetulnya kami telah memperhatikan beberapa hal yang penting untuk dijawab oleh para ikhwah, diantaranya:

  1. Miftahus Sira' / pemantik konflik, alasan apa yang menjadikan kita mengangkat senjata?

  2. Isu yang akan dijadikan momentum jihad?

  3. Penopang jihad dan target yang ingin dicapai dari semua operasi jihad


Ini semua belum bisa dijawab oleh kebanyakan ikhwah, dan yang terpenting adalah jihad harus terus berlanjut. Singkat cerita kegiatan tadrib asykari akhirnya di matangkan. Untuk itu, pada bulan Mei saya, akhi Mukhtar Khairi, akhi Sonata dan akhi Maulana datang ke Aceh untuk mengadakan survei mencari tempat yang cocok untuk mengadakan pelatihan.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah daerah hutan Paya Bakong di Aceh Utara. Akan tetapi tempat ini belum cocok karena masih berdekatan dengan masyarakat dan ternyata di sana berdekatan dengan pos tentara yang berada di pinggir sungai. Akhirnya survei dilanjutkan ke pegunungan Jalin Jantho, dan kami menyepakati tempat tersebut sebagai tempat diadakannya Pelatihan Militer.

Setelah survei di pegunungan Jalin Jantho selesai, selanjutnya pada bulan Juli kami pun mengirimkan Akh Mukhtar Khairi dan Akh Maulana untuk memulai program Pelatihan Militer di pegunungan Jalin Jantho. Rencananya, peserta gelombang pertama pelatihan militer ini adalah ikhwan-ikhwan dari Aceh saja.

Akan tetapi hal ini kemudian gagal dilaksanakan karena terjadi ledakan pada tanggal 17 Juli 2009 di hotel Ritz Carlton dan JW Marriot Jakarta. Demi kehati-hatian, program ini kami batalkan dan kami memutuskan untuk menarik semua ikhwah yang sudah ada di pegunungan Jalin Jantho untuk turun gunung, sementara waktu itu sudah ada sekitar 20 ikhwah yang berada di atas gunung.

Setelah pelatihan militer ini gagal dilaksanakan, pada bulan Oktober 2009 saya bersama asy-Syahid Yuli Karsono (mantan TNI) rahimahullah kembali ke Aceh untuk menjemput Akh Taufik Marzuki, seorang ikhwan bekas relawan FPI Aceh di daerah Padang Tijie kabupaten Pidie, untuk kami ajak ke Jakarta.

Namun sesampainya kami di sana, kami dikejutkan oleh adanya amaliyah penembakan orang asing yang dilakukan oleh Akh Ahmad bersama Panglima Laskar FPI Aceh, Tengku Mukhtar. Mereka melakukan amaliyah ini dengan menggunakan senjata yang kita titipkan kepada mereka.

Namun demikian ini adalah sebuah operasi yang saya tidak mengetahuinya, tidak pernah memerintahkannya, bahkan tidak merestuinya. Tengku Mukhtar ini selain berposisi sebagai panglima FPI Aceh, dia juga merupakan orang kepercayaan Tengku Muslim Ath-Thahiri, pimpinan Dayah (Pesantren) Darul Mujahidin Lhokseumawe Aceh Utara sekaligus Sekjen FPI Aceh.

Amaliyah ini adalah murni inisiatif dari Tengku Ahmad dan Tengku Mukhtar (FPI) dengan disokong fatwa dan dana dari Tengku Muslim Ath-Thahiri, Sekjen FPI Aceh. Di dalam persidangan kasus ini pada tahun 2010 yang lalu, terungkap dengan jelas bahwa saya sama sekali tidak terlibat dalam amaliyah tersebut. Adapun Sekjen FPI Aceh, Tengku Muslim Ath-Thahiri, lolos dari jeratan hukum karena ditutupi keterlibatannya oleh Tengku Mukhtar.

Karena adanya kejadian penembakan warga asing tersebut, maka saya, Akh Yuli Karsono dan Akh Taufik memutuskan untuk segera meninggalkan Aceh. Keputusan ini kami ambil karena kami khawatir akan terbawa-bawa dalam kasus ini.

Ditambah lagi pada saat itu kegiatan kami masih dalam rangka mengumpulkan persenjataan untuk persiapan lanjutan pelaksanaan Pelatihan Militer di Aceh yang tertunda. (2) Bersambung......ke 3

BACA : Camp Jihad Jantho,dan Tudingan Sofyan Tsauri. Yusuf Qardhawi Intel ?

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.