Header Ads

Kisah: Gerimis Masa Lalu

Coklat. Hanya sebatang coklat. Dia memberi itu yang terakhir kalinya. Saat yang kuimpikan dibuyarkan oleh kata “Kita putus.” Saat itu di senja yang gerimis. Aku memaku dengan butiran air hujan yang menempel di jelbab putihku.


“Kenapa?” Pertanyaan itu tidak pernah dijawabnya. Hanya kata putus itu sajalah yang diucapkannya. Lalu sebatang coklat. Dia memberikannya dengan maksud mengubah rasa pahit di hatiku dengan manisnya coklat itu.


“Sejak kapan kamu mulai suka coklat?” Pertanyaan itu dari teman SD ku. Saat kami reuni di bulan puasa. Aku memesan susu coklat panas. Dan dia tertawa. Bukan hanya dia, tapi semua yang hadir disana.


Lalu semua berlalu bersama waktu yang melaju cepat. Meninggalkan sisa-sisa getir itu di masa lalu. Sekarang, saat kuhabiskan waktuku untuk mengunyah coklat, maka tak terbersit lagi wajah itu. Dia sudah berbentuk kepingan retak. Usang. Dan tidak terpakai.


“Siapa cinta pertamamu, Rin?” Lalu pertanyaan itu ada. Seperti angin yang datang tiba-tiba. Mengusik kembali jiwa yang tenang. Cinta pertamaku, pergi dalam kebisuan.


“Aku sudah lupa siapa cinta pertamaku.” Aku hanya menjawab seperti itu. Berbohong untuk menutupi luka.




[caption id="attachment_27781" align="alignright" width="300"]Yenny Anggraini Yenny Anggraini[/caption]

Ketika waktu terus menghimpitku dalam kesibukan mencari jati diri, akhirnya aku kembali bertemu dengannya. Bukan, itu bukan dia.


Cinta pertamaku tidak menyukai film bollywood dan dia tidak bisa karate. Tapi aku tidak salah, saat pertama kali melihatnya. Dia persis seperti masa lalu yang berakhir bersama gerimis.


Apakah mereka kembar? Namanya Chan. Seperti nama Cina. Tapi sebenarnya nama aslinya adalah Ikhsan. Berperawakan tinggi besar. Kulitnya hitam. Dan matanya begitu sendu. Juga auranya, cara berbicaranya sangat mirip dengan cinta pertamaku.


Aku mengaguminya dalam diam. Tak bisa kujelaskan kepadanya alasan kenapa aku terus memikirkannya. Meskipun akhirnya kukatakan perasaanku.


“Aku menyukai sifatmu, tapi aku tidak memiliki perasaan apapun kepadamu. Aku hanya menganggapmu teman. Tidak lebih.” Seperti itu jawabannya.


Dia mengatakannya langsung saat kutanyai seperti apa perasaannya kepadaku. Apakah aku terluka? Atau sedih? Jangan tanyakan aku bagaimana rasanya. Aku sudah pernah kehilangan di masa laluku. Buktinya, coklat menjadi teman yang paling setia. Menutupi luka itu dengan manisnya.


Maka, ketika kedua kalinya cintaku hilang. Aku pun semakin mencintai ritualku bersama coklat. Belajar sambil makan coklat. Pergi kemana saja tanpa lupa membawa coklat. Uang jajanku habis untuk membeli coklat. Dan itu semua tidak sebanding dengan hatiku yang pelan-pelan bisa sembuh dari luka.


“Aku mau melepaskan cinta pertamaku.” Kataku suatu hari di atap sebuah  pertokoan. Umurku sudah 22 tahun, dan aku masih belum bisa melupakan cinta pertamaku sejak SD dulu. Lelaki yang sekarang namanya ada di koran-koran. Sebagai atlit yang mengharumkan nama daerah.


Akhirnya aku tahu dibalik bisunya kepergiaannya dulu. Cita-cita itu begitu berharga untuknya. Lebih berharga dari apapun. Dan tidak ada apa-apanya dibandingkan aku yang hanya cinta monyet baginya.


“Terima kasih untuk coklat yang pernah kau berikan.” Aku mengeluarkan bungkusan plastik yang di dalamnya ada beberapa coklat. Aku mengambil satu dan membuka bungkusnya.


“Ini adalah surga.” Kataku pada diri sendiri. Lalu gerimis pun turun. Membasahi jelbabku. Aku menutup mataku dan membayangkan kejadian itu kembali. Bagaimana wajah kurusnya dulu menatapku. Sekarang kami tidak lagi bertemu. Hanya segelintir kabar yang kudengar darinya. Kabar yang datang lewat prestasinya. Dan aku bangga dengan keputusannya.


Cinta pertama itu tak bisa berhenti


Setahun, lima tahun, hingga sepuluh tahun


Cinta pertama hanya bisa usang di ujung ku menanti


Lalu luka pun kembali sembuh


Dalam hati yang baru


**


Seseorang datang dan membawa jaket ke atap, “Apakah kamu takut aku meminta coklatmu heh? Kamu tidak perlu memakannya dalam hujan seperti ini.”


Aku tersenyum padanya. Lalu mengambil jaketku yang ada di tangannya.


 “Terima kasih telah mengingatkanku tentang bahayanya gerimis.” Aku lalu pergi meninggalkannya.


“Hei, apa maksudnya? Aku kesini untuk meminta coklat.”


Kami berlarian menuruni anak tangga. Meninggalkan gerimis di atap. Mungkin juga melupakan.


Gerimis Masa Lalu


Yenny Anggraini

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.