Header Ads

Ini Dia Tujuan Gafatar, Satukan Islam, Yahudi dan Kristen

acehbaru.com | Jakarta - Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang pertama muncul di Aceh pada, priode Januari 2015 lalu langsung mendapat respon dari masyarakat, kantornya yang berada di Desa Lamgapang, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Kabupaten Aceh Besar, langsung di grebek massa. Dalam penggrebekan itu ditemukan sejumlah bukti, dan Gafatar adalah jelmaan dari aliran sebelumnya Millata Abraham.

Pasca itu pemerintah Aceh langsung mengeluarkan fatwa berdasarkan bukti dan telaah yang dilakukan bahwa Gafatar adalah organiasi yang menyebarkan lairan sesat.
Lama tak terdengar, baru baru ini Gafatar heboh pada tingkat nasional. Bahkan satu persatu wujut dari ajaran mereka mulai nampak ke permukaan.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan inti ajaran Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) adalah hendak menyatukan agama-agama Ibrahim, yakni Islam, Yahudi, dan Kristiani. Paham yang dikembangkan, kata Lukman, bukan merupakan paham pokok-pokok ajaran Islam.

"Tentu ini bukan organisasi yang layak untuk diikuti," ujar Lukman di Istana Negara, Rabu, 13 Januari 2016 sebagaimana di rilis dalam laman Tempo.co

Lukman mengatakan secara administratif, Gafatar tak terdaftar di Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, tandanya mereka ilegal. Sedangkan, secara ajaran juga tak masuk agama Islam, Kristen, dan Yahudi.

[caption id="attachment_27880" align="alignnone" width="701"]Salah satu dokumen yang disita, 7 Januari 2015 lalu tertulis dalam sebuah buku agenda milik Ketua DPD Gafatar, T Abdul Fatah, berisikan misi-visi Gafatar adalah menyampaikan visi-misi disesuaikan dengan Milata Abraham | foto Merdeka.com Salah satu dokumen yang disita, 7 Januari 2015 lalu tertulis dalam sebuah buku agenda milik Ketua DPD Gafatar, T Abdul Fatah, berisikan misi-visi Gafatar adalah menyampaikan visi-misi disesuaikan dengan Milata Abraham | Foto Merdeka.com[/caption]

Kader Partai Persatuan Pembangunan ini tak menampik kemungkinan kelompok Gafatar merupakan kelompok radikal. Saat ini, kata dia, aparat penegak hukum tengah mendalami hal tersebut. "Ini harus didalami apa yang melatarbelakangi penyebarluasan paham ini, apakah semata-mata soal paham atau ada motif lain," kata Lukman.

Gafatar diperbincangkan setelah dikaitkan dengan hilangnya dokter Rica Tri Handayani di Yogyakarta sejak 30 Desember 2015. Dokter muda tersebut akhirnya ditemukan polisi di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, dan dibawa kembali ke Yogyakarta pada Senin, 11 Januari 2016.

Di Surabaya, seorang mahasiswa bernama Eri Indra Kausar juga meninggalkan rumahnya di Jalan Suripto, Kenjeran, Surabaya, sejak empat bulan lalu. Dia sempat memberi kabar melalui pesan pendek kepada keluarganya bahwa ia ikut bergabung dengan Gafatar. Di Makassar dan di Solo juga dilaporkan sejumlah orang hilang setelah bergabung dengan Gafatar. (i/ sumber Tempo)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.