Header Ads

HTI Punya Konsep Sama Dengan ISIS, Tapi Beda Cara Mewujudkannya

acehbaru.com - Peperangan yang terjadi di timur tengah, di Iraq, Suriah, serta negara lain, yang dominan dan sangat terkenal adalah Isis. Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) tak ada yang berani mengatakan tidak punya modal. Pasalnya ia memiliki sejumlah persenjataan dan menguasai ladang minyak di kawasan Iraq dan Suriah.

Aktivitas mereka membuat media tak bisa berpaling memberitakan sehingga kelompok ini begitu terkenal, apalagi kemudian ditemukan jejaring yang disebut punya hubungan atau memang satuan kecil Isis di berbagai negara termasuk Indonesia.

Keberadaan organisasi Islam seperti Jamiah Islamiah dan JAT serta beberapa lagi yang sering dikaitkan berhubungan dengan faham jihat, membuat para anggota ditangkap.

Muncul lain lagi,  Gafatar, organisasi yang semula bernama Millata Abraham  merekrut anggeta dengan berbagai model itu. Setahun lalu MUI Aceh menfatwakan mereka sesat, tahun 2015 pemerintah Indonesia juga menyebutkan aliran mereka melenceng.

Tentunya semua orang tidak bisa melihat sama semua organisasi Islam, dengan ditemukan beberapa organisasi menganut faham jihat radikal. Sudah pasti organisasi Islam lain punya pendapat berbeda dalam memperjuangkan kehidupan terbaik di dunia dan akhirat.

Situs TEMPO.CO  Minggu, 24 januari 2016 merilis pernyataan Anggota Lajnah Tsaqofiah DPP Hizbut Tahrir Indonesia, M. Shiddiq Al-Jawi, mengakui memiliki konsep perjuangan khilafah yang sama dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Namun Al-Jawi menegaskan, HTI punya sudut pandang berbeda menuju konsep negara khilafah tersebut. ISIS, ia membandingkan, berjuang lewat jihad dan peperangan untuk menegakkan khilafah.

“HTI menegakkan khilafah tidak dengan perang atau jihad, tapi dakwah. Rasulullah (Nabi Muhammad) mendirikan negara Islam pertama di Madinah dengan cara dakwah. Kami (HTI) ada kejelasan konsep tentang khilafah ini,” ujar Al-Jawi setelah mengisi diskusi bertema “Islam tanpa Teror: Jalan Penegakan Syariah dan Khilafah” di Banjarmasin, Sabtu, 23 Januari 2016.

Menurut Al-Jawi, HTI belum menemukan kejelasan konsep khilafah yang diperjuangkan ISIS. Konsep khilafah yang dia maksud semacam konstitusi negara, pendidikan, dan sistem politik yang gamblang. Adapun HTI, Al-Jawi mengklaim, mengantongi konsep khilafah secara detail, seperti dasar negara khilafah.

Selain itu, ia menjelaskan, “Dari segi jati diri, organisasi ISIS tidak terlalu jelas siapa yang mendanai. HTI bukan kelompok bersenjata, tapi jelas berdakwah. Jihad bukan untuk menegakkan khilafah, tapi untuk membela diri saat diserang.”

Pihaknya siap angkat senjata membela Tanah Air jika Indonesia diserang bangsa asing, meskipun Indonesia bukan negara khilafah.

Al-Jawi menuturkan jihad ala HTI dibuat untuk menyebarkan ajaran Islam melalui dakwah tanpa kekerasan. Itu sebabnya, DPP HTI mengecam keras aksi bom bunuh diri di Jalan M.H. Thamrin, Jakarta, beberapa waktu lalu yang mengatasnamakan Islam. Bom bunuh diri, menurut dia, tidak sesuai dengan ajaran Islam yang menganjurkan perdamaian.

Ia berharap peristiwa bom Thamrin tidak mengendurkan semangat dakwah HTI. “Kalau (bom Thamrin) dikaitkan dengan ISIS, bisa, karena mereka punya cara kekerasan untuk menegakkan khilafah. HTI minta polisi mengungkap siapa dalangnya, agar tidak ada spekulasi,” tutur Al-Jawi. (i/Tempo.co)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.