Header Ads

Banyak tokoh nasional maju sebagai calon Gubernur Aceh, Siapakah yang menjadi pemain sabun ?

acehbaru.com - Persaingan untuk menjadi Gubernur Aceh pada Pilkada 2017 semakin sengit, menyusul munculnya sejumlah jagoan politik dari tingkat Nasional yang akan bertarung merebut Aceh 1. Baru saja Ir. Tarmizi Karim menyatakan Maju, tiba-tiba DPP PAN menyatakan akan mendorong Farhan Hamid sebagai calon untuk Gubernur Aceh.

Fenomena ini setidaknya semakin alot pertarungan tawar menawar politik jelang Pilkada Aceh 2017. Setidaknya bila jagoan Nasional serius dan tidak sekedar muncul ke media hanya untuk sebuah tawar menawar politik partai akan menjadi perhitungan tersendiri bagi calon Gubernur  ditingkatan lokal yang telah muncul sebelumnya. Seperti Muzakkir Manaf, dr Zaini Abdullah, dan Irwandi Yusuf.

Karena kehadiran para jagoan Nasional baik yang sudah terbeton posisinya di birokrasi maupun di legislative akan berdampak serius posisi tawar calon dari lokal, baik yang akan terganjal maupun yang bakal lolos.

Dan tidak tertutup kemungkinan juga kehadiran pemain Nasional ini bisa jadi sebagai posisi ‘pengganjal’ dominannya pemilih kepada para calon Gubernur ditingkat lokal, artinya menutup peluang si Lahu, dan memberi peluang kepada si kapluk, kira-kira begitulah.

Posisi yang begini dalam permainan sepakbola sering diperankan oleh dable stopper, dimana dia akan menjaga laju serang dari penyerang lawan, dan Bola bebas akan di hantam oleh Stopper, dengan kondisi itu akan menyelamatkan gawang dari kebobolan.

Atau sebaliknya, posisi Dable stopper telah terjadi ‘Klep Mata’ atau Main sabun dengan penyerang lawan, sehingga jika penyerang lawan melaju ke jantung pertahanan klubnya dia berpura–pura menghadang, namun tetap ia berikan peluang agar golnya kebobolan. Sehingga hasil akhir akan dimenangkan oleh klub yang sudah terjadi Klep Mata atau deal sebelumnya.

Pilkada yang masih tergolong masih lama itu, berbagai kemungkinan bisa terjadi, timses suatu calon, bila terlalu kabur, akan melihat bahwa calon jagoannya akan memenangkan pertarungan. Bila tidak kabur, maka mereka akan menilai secara objektif teori kemungkinan nyata berdasarkan perangkat (Tim Sukses), system security (PPK,KIP), dan popularitas serta modal (Uang, Kecenderungan Pemerintah Pusat dan Perangkatnya) dari calon yang mereka jagokan.

Tentunya faktor ini selain menjadi evaluasi juga sebagai persiapan dini bagi para calon dan para timses untuk mempersiapkan demi meraih singgasana yang teramat enak dan indah kursi Gubernur.

Pun begitu, selaku warga yang tinggal di Aceh dan juga bakal menjadi salah satu yang diundang untuk memilih di hari –H-oleh KIP, kita tidak dilarang untuk berpikir dan menganalisa soal kemungkinan–kemungkinan yang bakal terjadi dan siapa calon dominan yang akan memenangkan singgasana ter-indah kursi Gubernur dalam pilkada ke-3 setelah damai 15 Agustus 2005 silam. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.