Header Ads

Pak Presiden Tindak Sajalah Perusak Wibawa Negara

Kisah Papa Minta Saham pada perusahaan pendulang emas Papua semakin menarik  saja. Setelah terdengar dan tersiar terjemahan transkrip pembicaraan Ketua DPR RI Setya Novanto, Riza Chalid dan Maroef Syamsudin yang berisikan sejumlah bab, dari bab cerita kisah pilpres pak Jokowi, dukung mendukung, comen nyentil… ketawa ketiwi hingga pembicaraan soal saham.

Dalam ‘Drama’ kelas Negara Republik Indonesia atau kami di ujung Sumatera lebih mengenal dengan NKRI –terpahami bahwa NKRI adalah harga mati, maka jika ada gerakan atau main -main  terhadap negara, pemerintah mengirimkan bala tentera dan polisi untuk menumpas gerakannya. Catut dan sebut sesuatu kepada kepala negara adalah suatu yang murka, dan sama saja menjatuhkan burung garuda yang dengan sangat pahit ditegakkan oleh para pendahulu.

Itu begitu berharga, bernilai, dan harga mati.

Faham itu berkesan sangat berbeda dengan sekarang. Fenomena yang terjadi dalam minggu-minggu terakhir pasca pelaporan Menteri ESDM Sudirman Said ke Mahkamah Kehormatan dewan (MKD) atas dugaan pelanggaran kode etik yang dilakukan Ketua DPR RI Setya Novanto karena mencatut nama Presiden dan Wakil dalam kasus yang lebih dikenal dengan Papa Minta Saham itu, sejatinya suatu diluar batas biasa.

Walaupun sekilas enak ditonton dan menjadikan satu pelajaran baru soal lokonan kelas tinggi di Negara, namun terkesan masih janggal juga bila semua kotak dianggap bernilai sama. Tidak ada lagi perbedaan antara ruang dan nilai. Walaupun dalam sejumlah dasar negara ini hampir wajib amalkan tentang suatu keberadaban.

Lembaga Negara2-Apalagi ketawa ketiwi dan ngejek Presiden sudah dianggap biasa saja. Pengliatan ini membawa dampak luar biasa bagi masyarakat, kesan semua biasa saja, masyarakat akan hilang rasa, dan hilangnya sebuah harapan, tidak tertutup kemungkinan juga dapat terjerumus ke ranah pikiran ektrem.

Karena beberapa peneliti menyebutkan kehadiran terorisme bukan saja karena mempelajari atau membaca tulisan arab, tetapi juga diakibatkan karena lingkungan mereka telah kehilangan harapan atau tidak ada sesuatu lagi yang patut di contoh, alias semuanya telah biasa saja.

Menjadikan suatu yang tidak biasa menjadikan biasa adalah suatu perubahan, namun menjadikan yang sebenarnya tidak biasa dalam pandangan umum dan ketentuan bukanlah perubahan yang baik dan bernilai.

Maka dari itu sudah sepatutnya kasus pencatutan nama Presiden dan Wakil dalam episode Papa Minta Saham ini, dengan disebutkan ini dan itu kepada Presiden jangan sampai terpengaruh bahwa itu hal yang biasa.

Mengejek atau menyebutkan sesuatu yang tidak pantas kepada Presiden yang sejatinya adalah kepala negara sama saja dengan mengolok negara. Menjatuhkan wibawa negara.

Maka sepatutnnya Pak Presiden sebagai kemudi negara harus secepatnya merapatkan barisan dengan aparat negara untuk memastikan ini agar kehidupan bernegara kembali beretika dan berwibawa.

Penegakan hukum hal mutlak harus dilakukan, demi mengembalikan harapan jutaan masyarakat Indonesia dari  para perusak/ pengolok-ngolok wibawa negara, walaupun dia masih berkuasa dan kaya raya (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.