Header Ads

Laksamana Chengho Di Laut Aceh (1)

acehbaru.com- Chengho tentu tak asing ditelinga para penggemar sejarah dan para orang tua di Aceh, khususnya yang sudah melumat kisah kerajaan Malikussaleh yang terletak di desa Beuringen Kecamatan Samudera Geudong Aceh Utara. Chengho dikenal sebagai penyumpang lonceng Cakradonya.


Dalam laporan majalah Tempo Chengho diilustrasikan hidup dan berkreasi 600 tahun yang lalu. Tubuhnya mencolok, tinggi besar. Tapi ukuran fisik itu tak penting lagi bila dibandingkan dengan prestasinya. Ya, ekspedisi Cheng Ho ke 37 negara di dunia membuat orang-orang seperti Vasco da Gama, si penemu India, dan Christopher Columbus, penemu Amerika, tampak kecil.




Bagi kita, yang lebih menarik adalah jejak-jejak yang ditinggalkan di Aceh, Palembang, Tuban, Surabaya, dan tempat-tempat lainnya. Di sanalah kasim dinasti Ming ini menanamkan eksistensinya dalam ingatan turun-temurun para penduduk setempat.

Cheng Ho sudah lama meninggal, tapi cerita tentang dirinya begitu hidup, kaya improvisasi. Majalah ini menyajikan aneka cerita yang berkaitan dengan jejak Cheng Ho di negeri ini.

Enam ratus tahun silam, dialah bintang yang terang. Kita kenal Cheng Ho, laksamana hebat itu, melalui deskripsi ini: tingginya di atas dua meter, wajahnya tampan, alisnya tebal, matanya besar, suaranya keras dan nyaring seperti dentang bel raksasa, dan armadanya luar biasa.

Ya, waktu itu, seorang lelaki yang pernah berdiri di titik paling selatan Sri Lanka menyaksikan pemandangan yang membuatnya takjub. Mulanya, kata si lelaki, tampak bayangan begitu pekat di garis horizon.

Bayangan itu bergerak perlahan. Dan manakala awan dan kabut tersibak, kelihatanlah sosoknya yang lebih jelas. Mendekati bentuk sebuah kota terapung, hanyut mendekati pantai Samudra Hindia.

Iring-iringan mayestis itu membentang hampir 1.000 meter di garis cakrawala, dan memanjang dengan jarak antara kapal pertama dan terakhir mencapai 1,5 kilometer.

Kekuatan laut ini mengangkut 30 ribu serdadu, ratusan pejabat, 180 dokter, lima astrolog, puluhan akuntan, penjahit, juru masak, pedagang, dan penerjemah. Ma Huan, salah seorang di antara mereka, mencatat dalam bukunya yang berjudul Ying-yai Sheng-lan (Survei Menyeluruh Daratan-daratan Samudra).

Ma Huan seorang muslim—Ma di sini sama dengan Muhammad. Ia menguasai bahasa Arab dan Persia, tapi punya minat melimpah mengenai segalanya yang asing: dari ritual pemakaman, perkawinan, kepercayaan masyarakat, arsitektur, dunia flora-fauna, hingga kuat-lemahnya pemerintah di tempat-tempat yang dikunjunginya.





Dalam Ying-yai Sheng-lan, ia mengungkap keterpesonaannya terhadap aneka burung yang hidup di Jawa (Chao Wa). Secara khusus, ia menyebut sejenis burung yang mampu menirukan suara manusia.

Waktu itu, dalam pelayaran keempat Cheng Ho (1413), Ma Huan masih di usia 25 tahun. Dan ia menangkap suatu fenomena sosial yang merisaukan hatinya: frekuensi pembunuhan yang tinggi di tanah Jawa (baca: Majapahit). ”Mereka menusuk di antara tulang iga, sehingga korban langsung mati,” tulisnya.





Ya, pembunuhan yang dinilainya berangkat dari hal sepele, juga yang berangkat dari keyakinan yang susah dipahaminya. Memegang kepala orang lain sama dengan penghinaan. Penghinaan yang bermuara kematian. Jawa, di mata Ma Huan, juga merupakan tempat dengan penduduk lelakinya—dari usia tiga sampai seratus tahun—membawa pisau.

Saat itu, kapal yang ditumpangi Ma Huan bertolak dari Campa (kini bagian dari Vietnam), berlabuh di Surabaya. Empat bulan armada Cheng Ho merapat di kota itu, sebelum akhirnya mengangkat sauh pada Juli, ketika angin bertiup ke Barat. Surabaya adalah landasan sebelum destinasi mereka selanjutnya: Palembang, Sri Lanka, Kalkuta, Hormuz, dan seterusnya.

Menurut catatan Ma Huan, Jawa yang sebelumnya dikenal sebagai Shepo memiliki empat kota, tanpa dikelilingi dinding. Kapal mendarat di Tupan (Tuban), lalu di kota yang bernama Desa Baru atau Koerhhsi (Gresik), dan terakhir Sulumai (Surabaya). Setelah itu, rombongan sampai ke Kota Manchepoi (Majapahit), tempat tinggal raja.

Ma Huan menggambarkan istana Majapahit bertembok bata, dengan gerbang dua lapis. Rajanya berambut kusut, terkadang bermahkota daun emas, tapi tanpa jubah, bertelanjang dada dan kaki. Ia hanya mengenakan selembar atau dua lembar kain sutra dengan ikat pinggang, untuk menyelipkan dua bilah pisau yang disebutnya pulatou.

Banyak cerita tentang Majapahit. Tapi, di luar catatan Ma Huan itu, jejak armada Cheng Ho hanya terdeteksi pada sepotong kayu aji, balok kayu yang berwarna hitam. Willy Pangestu, ahli sejarah Cheng Ho di Surabaya, merasa yakin itulah bagian dari ekspedisi. Kayu balok hitam itu sudah dites di laboratorium Cina.





Hasilnya, ”Berkait dengan masa-masa armada Cheng Ho singgah,” kata Willy. ”Kayu aji sekarang disimpan di Kelenteng Mbah Ratu, Surabaya.”

Kita memang hanya melihat bukti-bukti kehadiran Cheng Ho yang terbatas: kayu aji di Surabaya, lonceng Cakra Donya di Banda Aceh, jangkar di Semarang dan Tuban. Sejauh ini hubungan jangkar di Tuban dan Semarang dengan Cheng Ho masih diragukan.



Bahkan Ma Huan sendiri tidak menyebut Semarang sebagai salah satu titik singgah armada Cheng Ho—begitu juga juru tulis Fei Xin dan Gong Zheng (lihat: Cheng Ho, oleh Remy Silado). - Bersambung .......Laksamana Chengho Di Laut Aceh (2)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.