Header Ads

Kisah Tenggelam Kapal Marina, Nenek bersama Cucu Selamat Ditengah Laut

acehbaru.com - Kabar hilang kontak kapal KM Marini Sabtu, 19 Des 2015 adalah berita yang tak diharapkan masyarakat yang keluarganya menumpang di kapal itu. Namun apa hendak dikata, KM Marina dengan kode panggilan YB 3298  dalam perjalanan dari Pelabuhan Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara menuju Pelabuhan Bansalae, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, pada Sabtu, 19 Desember 2015

Cuaca buruk dan ombak tinggi membuat regu penyelamat sulit mendekati lokasi, namun pencarian pada minggu telah menyelamatkan 35 penumpang. dari jumlah tersebut, salah satunya adalah Nenek Berta yang selamat bersama cucunya setetalah terapung di lautan.

Kejadian tenggelamnya KM Marina berawal saat ombak besar menghantam bagian depan kapal. Serbuan ombak tinggi yang datang menyerbu langsung membuat kapal goyah dan bagian kapal depan retak. Air yang masuk perlahan mulai menenggelamkan kapal.

"Sejak mulai tenggelam sore hari saya lupa jamnya. Saya sama cucu (Rafli) mulai mengambil jaket pelampung karena disuruh orang kapal," ujar Berta ketika terbaring di RS Siwa, Ahad (20/12).

Sejak mengetahui kapal perlahan masuk ke dalam laut, semua penumpang mulai‎ bergeser ke dek belakang untuk menghindari kapal yang tenggelam. Semakin lama, semakin bertumpuk di bagian belakang. Satu persatu penumpang yang ketakutan langsung loncat ke Laut dengan pelampungnya masing-masing. "Saya juga takut. Jadi saya ajak cucu saya langsung loncat saja," kata Berta.

‎Ketika berada di tengah laut, awalnya Berta tidak hanya bersama cucunya. Dia bedekatan juga dengan yang lainnya. Namun karena ombak yang sangat besar mengantam mereka, Berta hanya bisa berpegangan erat dengan keponakannya.

Terhempas ke segala arah, Berta yang hanya memeluk jaket pelampung tanpa memakainya terus memeluk erat Rafli. Rafli yang berumur 4 tahun pun terus mendekap sang nenek dengan amat kencang.

Setelah cukup lama di Lautan sekitar 13 Jam, lanjut Berta, dia melihat secercah cahaya‎ dari jarak sekitar 50 meter. Namun dirinya mengira bahwa itu lampu biasa yang disimpan ditengah laut untuk menandai tangkapan ikan. Tapi saat melihat cahaya tersebut semakin banyak, Berta langsung berteriak meminta bantuan karena yakin cahaya itu pasti dari kapal nelayan.

"Saya teriak tapi nggak terdengar, saya coba mendekat memanfaatkan ombak, setelah dekat saya teriak lagi sekuat tenaga, baru ada respon dari nelayan ketika melihat saya dan cucu saya,"jelas Berta.

Nelayan yang mendekat mencoba melemparkan perahu kecil. Sayang Berta tidak bisa menaikan cucunya untuk ditarik nelayan. Akhirnya para nelayan melemparkan seutas tali kepada Berta yang kemudian ditarik nelayan hingga naik ke atas kapal.

Di atas kapal, sejumlah nelayan memberikan makanan dan pakaian kepada Berta dan cucunya. Berta pun terus merangkul cucunya agar badan sang buah hati ini tetap hangat hingga merapat ke Pelabuhan Siwa. (republika.co.id)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.