Header Ads

Kasus Setya Novanto Dari Saham Sampai Padang Di Sebut Dajjal

acehbaru.com - Kasus pelaporan dugaan pelanggaran etik pencatutan nama presiden dalam lobi -lobi saham freeport yang dilakukan ketua DPR Ri Setya Novanto  sedang bergulir sidang di Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) dan ditangani Kejaksaan Agung melebar kemana-mana, salah satu pernyataan yang dinilai cukup diskriminatif adalah adanya pernyataan Muhammad Riza Chalid.‎ Pengusaha itu menyebut Sumatera Barat sebagai "Provinsi Dajjal."

Pernyataan Riza terungkap berdasarkan rekaman percakapan antara dia dengan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Syamsoeddin, dan Ketua Dewan‎ Perwakilan Rakyat (DPR) Setya Novanto yang diperdengarkan dalam sidang Majelis Kehormatan Dewan DPR RI pada 2 dan 3 Desember 2015. Percakapan itu direkam Maroef lewat ponselnya.

"Pernyataan Muhammad Riza Chalid yang mengatakan bahwa Padang atau Sumatera Barat adalah Provinsi Dajjal itu sangat melukai hati dan perasaan masyarakat Minangkabau, baik yang tinggal di Sumatera Barat maupun di luar Sumatera Barat," ujar Sekretaris Jenderal Ikatan Pemuda Pemudi Minang Indonesia (IPPMI), Dedi Warman, di Jakarta Minggu petang, 6 Desember 2015.

Merujuk pada arti bahasa Arab, Dajjal sering digunakan untuk menyebut nabi palsu. Masyarakat Sumatera Barat pun tak terima dengan pernyataan yang melecehkan itu.

"Bahwa pemahaman umat Islam dan masyarakat Sumatera Barat atau Minangkabau, yang menganut prinsip adat basandi syarak, syarak basandi Kitabbullah (adat yang didasarkan/ditopang syariat agama Islam). Dajjal itu tokoh yang muncul menjelang hari kiamat. Dajjal dikatakan kafir dan jahat, pembawa fitnah terbesar dan tidak ada ujian yang terbesar selain Dajjal," kata Dedi.

Berikut sebagian transkrip rekaman percakapan antara Riza, Maroef, dan Setya Novanto yang menyebutkan Padang atau Sumatera Barat itu sebagai Provinsi Dajjal:

MS: "Pak, masalah lahan di Papua itu juga masalah besar. Masalah hak ulayat itu susah. Pak Riza mau bangun di sana. Berhubungan sama yang punya. Pak Riza sudah bayar. Nanti pamannya datang, kamu bayar ke dia, saya mana. Datang lagi keponakannya. Itu yang bikin perang suku, Pak.”

MR: "Itu mirip di Padang. Sama kalau di Padang.”

MS: "Kepastian hukumnya tidak ada. Ada kebon sawit besar, bagus, cantik, udah jadi, Pak. Tiba-tiba ditutup sama Gubernur, katanya merusak alam. Kasihan, Pak, buat investor. Itu orang enggak jadi, malas menginvestasi".

MR: "Provinsi Dajjal". (viva.co.id)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.