Header Ads

Kawin Kontrak Marak Di India

acehbaru.com | Hyderabad - Organisasi perjuangan perempuan muslim menyebutkan praktek wisata bercinta selama sebulan di Hyderabad, salah satu kota di bagian selatan India, kini marak. Praktek, yang di Indonesia dikenal dengan kawin kontrak, ini biasanya dilakukan orang asing kaya, agen-agen lokal, dan Qazis--imam muslim yang ditunjuk pemerintah--mengeksploitasi kemiskinan dengan menikahi gadis-gadis muslim. Padahal praktek ini ilegal di India dan Islam melarangnya.

Seorang korban, Nausheen Tobassum, mengungkapkan telah melarikan diri dari rumah bulan lalu. Ia melarikan diri setelah orang tuanya memaksa Nausheen menikah dengan seorang pria tengah umur asal Sudan, yang telah membayar 1.200 pound sterling atau lebih dari Rp 25 juta untuk menjadi istrinya selama empat minggu.

Nausheen mengatakan kepada polisi, ia dibawa oleh bibinya ke sebuah hotel, di mana ia dan tiga gadis remaja lainnya dikenalkan kepada seorang eksekutif perusahaan minyak Sudan. Mempelai pria tersebut, sebagaimana dilansir Telegraph, adalah Usama Ibrahim Mohammed, 44, telah menikah dan memiliki dua anak di Khartoum.

Menurut Polisi setempat, Inspektur Vijay Kumar, Nausheen telah membayar 1.200 pound sterling pada bibi gadis Mumtaz Begum, dan pada gilirannya akan membayar 70.000 rupee untuk orang tua, 5.000 rupee untuk Qazi yang menikahkan, 5.000 rupee untuk seorang penerjemah Urdu, dan 20.000 rupee gadis yang dinikahi.

Sertifikat pernikahan muncul dengan nama 'Talaknama', yang memuat catatan tentang perceraian pada akhir libur pengantin pria.

"Keesokan harinya, ia datang ke rumah gadis korban dan memintanya untuk melakukan hubungan seks, tapi dia menolak. Dia adalah seorang gadis muda dan laki-laki itu lebih tua dari ayahnya," kata Inspektur Kumar kepada The Telegraph, Kamis, 19 November 2015.

Inspektur Kumar mengatakan ada puluhan kawin kontrak jangka pendek ilegal yang berlangsung di Hyderabad. "Jika pria Sudan ingin berhubungan seks, dia harus membayar tiga kali lebih banyak (di Sudan) karena jumlah anak perempuan jauh lebih sedikit di sana, atau ia harus mengambil istri kedua. Di India, gadis-gadis muncul dengan biaya yang lebih murah dan mereka cantik," kata Kumar.

Kumar mengatakan para pengunjung ingin menikah meski sementara karena mereka percaya prostitusi dilarang dalam Islam. Sedangkan keluarga miskin setuju terhadap kontrak pernikahan karena mereka memiliki banyak anak perempuan dan tidak mampu membiayai semua pernikahan mereka. (tempo.co)

 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.