Header Ads

Ini Kisah Safer Saksi Mata Saat Restoran Casa Nostra Prancis Diserang

acehbaru.com -Saat penembakan terjadi pada Jumat 13 Novemebr 2015 malam, Safer sedang bekerja di bar restoran Casa Nostra di Paris.


Malam itu, dia nyaris menjadi korban tewas. Kini dia mengisahkan peristiwa serangan tersebut.

"Saya berada di balik bar. Kami mendengar ledakan - dentuman yang sangat keras. Semua orang mulai berteriak, kaca berjatuhan. Mengerikan. Ada kaca di mana-mana, mengenai wajah kami."

"Saya melihat dua perempuan tertembak di teras kafe. Satu di pergelangan tangan, satunya lagi di bahu. Mereka mengalami pendarahan hebat."

Meski berbahaya, Safer merasa dia harus membantu.

Safer menunggu sampai tembakan berhenti sebentar, dia lalu lari ke luar dan membantu dua korban luka tersebut.

"Saya mengangkat mereka dan membawa mereka ke ruang bawah tanah. Saya duduk bersama mereka dan berusaha menghentikan pendarahan. Saat di bawah, kami mendengar tembakan terus berlanjut. Sangat menakutkan.

Mereka selamat dari situasi yang jauh lebih parah. "Saat kami keluar, kami melihat mayat-mayat di jalanan. Banyak sekali yang terluka."

Jean-Paul Lugon, 54, tinggal dekat situ dan tiba beberapa menit setelah para penyerang sudah pergi. Dia berada di dapur saat mendengar tembakan beruntun.

"Bunyi tembakan terdengar lama sekali. Setidaknya dua sampai tiga menit tembakan tak berhenti. Bisakah Anda bayangkan? Saya lari ke bawah dan melihat tiga jenazah di lantai."

"Saya tidak ingin mendekat dan mengingat terus apa yang saya lihat," katanya. "Saya tahu, saya akan sulit tidur. Saya punya anak perempuan usia 11 tahun yang tak mau ke luar rumah. Sangat buruk."

"Saya sangat marah," katanya. "Benar-benar marah. Ini orang biasa -- mereka tidak minta jadi korban."

"Saya rasa saya harus bersyukur: harusnya saya bertemu beberapa orang di sini malam ini, tapi batal."

Casa Nostra berada di timur arrondissement 11, daerah yang dihuni oleh banyak warga muslim dan keturunan Arab. Lugon terkejut daerahnya menjadi sasaran serangan.

"Mereka tidak pergi ke arrondissement 16 atau daerah orang kaya lainnya sehingga imigran terlihat menonjol. Kenapa di sini?"

Di arrondissement 18 yang juga salah satu pusat tempat tinggal warga muslim Paris, kemarahan tampak jelas.

"Kami bukan mereka," kata Jamal, 44, tentang para penyerang. "Kami tidak ada hubungannya dengan mereka. Kami merasa jijik."

Dia khawatir akan dampak yang lebih luas dari penyerangan ini terhadap komunitas muslim.

"Orang Prancis tidak menerima kami," katanya.

Peran Islam di Prancis terus menjadi bagian dari perdebatan publik.

Saat terjadi penyerangan pada kantor majalah Charlie Hebdo awal tahun ini oleh warga Prancis, muncul pertanyaan tentang pemuda muslim di negara tersebut.

Kenapa mereka ingin melukai orang atas nama Tuhan? Apa yang salah dalam kehidupan mereka? Apakah ada masalah khusus di Prancis?

Safer tak tahu jawabannya. Dia tinggal di arrondissement 11 dan muslim dari keturunan Algeria.

Dalam beberapa hal, kisahnya mirip dengan Lassana Bathily, imigr

[caption id="attachment_27123" align="alignright" width="660"]Restoran tempat insiden penyerangan Restoran tempat insiden penyerangan[/caption]

an muslim dari Mali yang membantu melindungi orang-orang yang sedang berbelanja di sebuah supermarket di Januari.

Dua-duanya mempertaruhkan nyawa dalam upaya menyelamatkan korban.

Saya bertanya, apa pendapatnya tentang pembunuh yang mengklaim aksi mereka atas nama agama.

"Ini tidak ada hubungannya dengan agama. Orang Islam yang sebenarnya tidak membunuh orang. Mereka kriminal," kata Safer. (i/bbc)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.