Header Ads

Ini Keterangan Kuasa Hukum Jurnalis Terkait Kasus Jurnalis Di Meulaboh

acehbaru.com | Meulaboh - Insiden penghalangan peliputan di sebuah SPBU Meulaboh akhirnya berakhir damai. Dengan syarat pihak SPBU harus meminta maaf kepada lima media massa. Pelapor mencabut laporannya di Kepolisian.

Candra Darusman, SH, MH dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Banda Aceh Pos Meulaboh selaku kuasa hukum Arif Fahmi jurnalis Metro TV mengatakan proses sengketa Pers antara SPBU Nomor 14 236 415 Gampong Pasi Pinang, Kecamatan Mereubo beberapa waktu lalu,  Kedua pihak sudah sepakat untuk menempuh jalan damai.

Dimana pihak pengelola SPBU yang jelas telah melanggar UU nomor 40 tahun 2009 Tentang Pers karena telah menghalangi tugas jurnalistik sepakat dengan tuntutan minta maaf kepada 5 media massa yang ditentukan.

“Kedua belah pihak sudah sepakat damai, dengan syarat terlapor harus meminta maaf lewat 5 media massa yang telah disepakati,” Kata Chandra kepada redaksi acehbaru.com, Kamis, 12 November 2015.

Ke lima media tersebut masing-masing, Serambi Indonesia memuat permintaan maaf dua hari terbit, Harian Rakyat Aceh (1 kali terbit), AJNN.Net (1 kali), RRI Meulaboh (1 kali), dan Kantor Berita Antara (1 kali).

Dalam perjanjian tiga halaman tersebut disalah satu poinnya tersebut, bahwa pihak pertama dalam hal ini pengelola SPBU menyampaikan permohonan maaf kepada pihak kedua melalui media massa, baik media cetak, media elektronik, dan media online dan menanggung seluruh biaya untuk itu. Selambat-lambatnya 3 (tiga) setelah surat perjanjian ini ditanda tangani
Dengan redaksionalnya,

“Saya T.S Pekerjaan pengelola SPBU Nomor 14 236415 kecamatan Meureubo Aceh Barat meminta maaf sebesar-besarnya kepada seluruh wartawan Se Indonesia khususnya kepada saudara Arif Fahmi Wartawan Metro TV wilayah Barat Selatan Aceh atas tindakan saya menghalang-halangi dan menghambat pekerjaan Pers pada tanggal 16 Oktober 2015 bertempat di SPBU Pasie Pinang Kec Meureubo Kabupaten Aceh Barat, saya juga sangat menyesali perbuatan saya tersebut. Untuk itu dengan ini saya menyatakan komitmen dan berjanji dengan sungguh-sungguh, tidak akan mengulagi perbuatan tersebut, kiranya pernyataan penyesalan dan permohonan mohon maaf ini menjadi pembelajaran penting bagi saya sendiri dan masyarakat secara umum guna mendukung perwujudan kemerdekaan pers sesuai dengan amanat UU Nomor 40 tahun 1999 tentang pers"

Dalam perjanjian itu juga tersebut, pihak kedua akan mencabut laporan dari pihak Kepolisian Aceh Barat selambat-lambatnya 3 hari setelah pihak Pertama memuat permohonan maaf dilima media massa yang dimaksud

Perdamaian yang berlangsung, 11 November 2015 ditanda tangan, T. Syukran selaku pengelola SPBU dan Arif Fahmi selaku wartawan Metro TV wilayah Barat Selatan dan sejumlah saksi -saksi.

Klarifikasi Berita

Terkait dengan pemberitaan sebelumnya yang termuat keterangan yang bahwa Khaidir Azhar seorang jurnalis di Meulaboh yang termuat komentarnya “Daripada kena penjara dua tahun dan denda Rp 500 juta, mau tidak mau harus bayarlah,”.

Ia membantah, dan keterangan tersebut adalah bohong. Ia memberi klarifikasi pertama ia bukanlah koordinator yang melakukan penyelesaian kasus tersebut, ia mengaku hanya terlibat mendampingi saat Arif Fahmi jurnalis metro TV melakukan pelaporan di kepolisian. BACA JUGA - Halangi Pers, Berakhir Damai, Toke SPBU Minta Maaf

"Saya bukan kordinator, dan saya tidak pernah merasa di wawancara dan di konfimasi  terkait pernyataan itu, saya hanya terlibat ikut mendampingi pelaporan di kepolisian," Kata Khaidir kepada acehbaru.com (lia)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.