Header Ads

Freeport jalan, Bapak itu happy, kita ikut happy, Salah? Coba Disholehkan?

+ Freeport jalan, Bapak itu happy, kita ikut happy, kumpul-kumpul, kita golf, kita beli private jet yang bagus dan representatif.

Karena rekaman itulah Setya Novanto dilaporkan menteri ESDM yang hingga kini berbuntut panjang. Kata -kata dalam paragraf diatas sempat di ulang -ulang Efendi Ghazali saat berbicara di acara Indonesia Lawyer Club, kata itu memang sedikit menggelitik........

Pastinya masalah yang sedang di hadapi ketua DPR tersebut telah menguras tenaga para presenter TV. Metro TV sepertinya  dari berbagai acara dan cara serta pertanyaan dari presenter kepad sejumlah narasumber menginginkan ada sesuatu tindakan yang jelas dari MKD terhadap dugaan tindakan yang dilakukan Setya Novanto melanggar kode etik dan mencitrakan buruk DPR.

Sementara TVone justru lebih tertarik membahas bahwa Menteri ESDM Sudirman Said dipertanyakan kapasitasnya mengaduke Mahkamah Kehormatan Dewan. Terkadang dua tayangan itu menjadikan lucu, saat presenter sedikit 'memaksa' untuk mengiyakan para narasumber.

Dalam dua model bahasan itu, sekilas terlihat disana ada yang mau kasus itu dilanjutkan biar terang menderang dan Setya Novanto sebagai sorotan utama, tetapi kesan lain juga nampak, bagaimana Setya Novanto yang pernah booming media atas rekaman tersebut, kemudian itu tercabut dari fokus publik dan terbalik sorotan kepada Sudirman Said si pelapor.

Sehingga nantinya selain jalur pikiran masyarakat yang sudah menganggap bahwa Setya Novanto sudah dianggap melanggar kode etik berbalik menjadi Sudirmanlah yang tak beres dalam perkara itu.

Pada posisi ini ibarat dua tukang cat, masing-masing para juru cat sepertinya sedang berusaha melakukan pengecatan alam pikiran masyarakat sesuai dengan target yang di inginkan oleh masing-masing.

Tak heran dalam posisi ini terkadang para tukang cat yang sadar bahwa sadar bahwa 'dinding' yang sedang dicat sangat jorok, dengan segala keyakinan dan keseriusan dia akan berbicara bahwa tembook dialah yang paling cantik, dan terus ia sampaikan itu, dengan doa.... Berjuta kali dibilang salah maka kemudian akan keluar Sholeh.  Pun begitu yang Shaleh, berjuta dibilang shaleh maka jelas akan keluar Shaleh.

Terlepas dari Dua TV diatas ada lagi koran , dan yang kolosal di era moderen adalah  pengguna social media, para melek internet ini umumnya berharap kasus tersebut dibongkar habis.

Pengguna social media seperti mengambil kesempatan dan peluang sempit ini, karena udah kadung terbuka . Walau kasus, "Oke ku restui ini, dan mana jatah aku" atau dalam bahasa kamoe "teoh Jatah loen". Terasa bukan kisah baru dalam dunia 'persilatan' kekuasan, namun baru kali ini ada rekaman dan terpublis secara luas.




Petisi pecat Novanto digalang di sosial media penggasnya adalah A. Setiawan Abadi telah membuat ribuan oarng mendukung petisi tersebut.

Namun, apapun diteriak oleh pengamat, pakar hukum, apalagi masyarakat, namun lagi-lagi keputusan ada sama Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) mau mereka lihat itu biasa, tidak biasa, dengan argumen ini dan itu,  -- ya kekuasaan ada sama bapak-bapak MKD lah. (***)




 

Ini cuplikan rekaman itu diperdengarkan dalam acara Mata Najwa di televisi.

Dalam cuplikan rekaman kedua, terdengar pembicaraan yang menyebut Presiden dan nama Luhut. Ada tiga orang yang berbicara dalam rekaman itu.

+ Saya yakin karena Presiden kasih kode begitu. Berkali-kali segala urusan di DPR selalu segitiga. Pak Luhut, saya, Presiden, setuju, gitu aja....
+ Saya ketemu Presiden, sudahlah, cocok. Artinya dilindungi keberhasilan semua. Belum tentu dikuasai menteri-menteri yang kayak gini, Pak.
+ Enggak ngeri. Itu strategi, Pak.
+ Henry Kissinger-nya itu, Pak.

Selain itu, cuplikan rekaman juga berisi kalimat yang diduga menunjukkan imbalan yang didapat jika renegosiasi Freeport berjalan lancar.

+ Freeport jalan, Bapak itu happy, kita ikut happy, kumpul-kumpul, kita golf, kita beli private jet yang bagus dan representatif.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.