Header Ads

Proyek Lapangan Gas Abadi-Masela, RI Jadi Kelinci Percobaan

acehbaru.com - Alumni Institut Teknologi Bandung yang tergabung dalam Forum angkatan tujuh tiga (Fortuga-ITB) mengkritik kecenderungan pemerintah memilih terminal apung untuk pengembangan proyek Lapangan Gas Abadi-Masela. Sebab, itu dinilai tak menguntungkan bangsa Indonesia.

"Bagi warga Maluku dan Indonesia Timur, pabrik LNG di atas kapal, tak pernah berlabuh sekalipun dalam mimpi mereka. Bak wahana luar angkasa terapung ratusan kilometer jauh dari daratan, dihuni dan dikelola entah oleh siapa dan hasilnya entah dibawa kemana, sementara mereka tetap tertinggal dibanding anak bangsa Indonesia lainnya," Demikian isi siaran pers Fortuga ITB, Selasa 6 Oktober 2015.

Adapun Forum itu diisi tokoh terkenal semacam Alhilal Hamdi (eks Menakertrans); Suwito Anggoro (eks CEO Chevron Indonesia); Yoga Suprapto (eks Dirut LNG Bontang); Fathor Rahman (eks Tenaga Ahli Kepala BP Migas); dan Ali Herman Ibrahim (eks Direktur PLN).

Proyek terminal apung gas alam cair (LNG), menurut mereka, seolah-olah membuat pemerintah tak memiliki pilihan yang lebih baik. Padahal, proyek pencairan gas alam Masela terapung dengan kapasitas 7,5 juta ton per tahun bakal menghadapi dua tantangan.

Yakni, kestabilan operasi karena goyangan kapal dan keselamatan operasi disebabkan peralatan yang berdekatan satu sama lain.

"Sulit membayangkan Indonesia hanya menjadi kelinci percobaan. Sedangkan berapapun besarnya investasi yang ditanam akan dibayar selama puluhan tahun oleh anak cucu kita melalui skema Cost Recovery."

Selain Indonesia, sebagai ilustrasi, Shell Floating LNG Prelude juga sedang dibangun di Australia. Meski kapasitasnya separuh LNG terapung Masela, namun panjangnya mencapai hampir 500 meter, lebar 75 meter dan berat terisi 600 ribu ton.

"Itu bakal berwujud seperti badan kapal terbesar di dunia. setara 4 kali tinggi Monas dan 5 kali lebih berat dari kapal induk Amerika, USS Nimmitz."

Fortuga ITB mengusulkan agar pengembangan Blok Masela dilakukan lewat pembangunan jalur pipa laut ke darat melalui palung Selaru-Tanimbar. Biaya investasinya hanya sebesar USD 16 miliar, lebih murah ketimbang terminal terapung yang mencapai USD 22 miliar.

"Kami sudah melakukan berbagai penelitian, kajian dan perhitungan ulang serta membandingkan beberapa proyek pengembangan migas di darat dan laut dalam seperti di Gulf of Mexico, North Sea, Afrika-Eropa (Medgaz Pipeline), Rusia Turki (pipa gas Laut Hitam), Australia dan Indonesia." (sumber merdeka.com)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.